Coffee Break

Keberanian

Baik sinema televisi maupun film layar lebar umumnya menggambarkan para jagoan dengan tubuh tinggi kekar berotot.

Keberanian
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

KEBERANIAN kerap diindentikkan dengan tubuh perkasa. Baik sinema televisi maupun film layar lebar umumnya menggambarkan para jagoan dengan tubuh tinggi kekar berotot, dengan perut yang six pack dan dada yang bidang. Bedanya antara protagonis dan antagonis hanyalah wajah: wajah protagonis tampan, tanpa kumis dan janggut, selalu tersenyum dan memiliki tatapan penuh kasih, sedangkan wajah antagonis garang dan berhias berewok dan cambang, diselingi tawa mengakak atau mata penuh amarah.

Namun sebenarnya keberanian tidak selalu ditentukan postur tubuh dan latar belakang kehidupan seseorang. Suatu ketika saya dikenalkan dengan jagoan yang menguasai dan ditakuti para preman di sebuah kawasan. Tadinya saya mengira akan berjumpa dengan seorang tinggi besar dan berwajah sangar. Namun yang saya jumpai adalah lelaki kurus dan pendek, mungkin dengan bobot tubuh 50-an kg dan tinggi 160 cm. Wajahnya juga jauh dari kesan sangar, malah sebaliknya ramah. Gestur tubuhnya sopan dan bicaranya dengan bahasa halus.

Bagaimana bisa ia ditakuti para preman di kawasan itu? Jawabnya, "Dia tipe nekat. Dia tak segan- segan membacok siapa pun yang melawannya."

Mahatma Gandhi tentu bukan tipe lelaki nekat. Ia lelaki kurus kering, berbaju sangat sederhana buatan sendiri, dan memakan apa yang dimakan sebagian besar rakyatnya. Namun ia mampu membuat pasukan Inggris, salah satu tentara terkuat dunia, harus ditarik mundur. Dan Gandhi melakukannya hanya cukup dengan berdiam diri. Pastilah tersimpan keberanian yang luar biasa di dalam fisik yang ringkih itu.

Mahmoud Ahmadinejad bukan sosok yang perkasa seperti kesatria. Ia juga cenderung kurus dan kecil untuk ukuran orang Iran, apalagi dibandingkan dengan orang Eropa atau Amerika. Ketika menjadi presiden Iran, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin-negara termiskin. Namun ia berani melawan arus utama dunia: Amerika dan Eropa. Pidato dan kata-katanya acapkali pedas dan kontroversial, terutama jika menyangkut Amerika. Ia juga pernah menyerukan agar Israel "dihapus dari peta dunia", pernyataan yang menuai kecaman dari berbagai pemimpin dunia.

Soekarno jelas tidak memiliki latar belakang militer. Ia memang tampan, tapi tidak memiliki postur yang kekar perkasa. Namun, boleh jadi ia presiden paling berani yang pernah hidup di dunia. Seruannya "Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!" atau "Go to hell with your aid" atau "Malaysia kita ganyang" seakan masih terngiang di telinga rakyat hingga saat ini.

Soedirman memang tentara, tapi di usia yang masih muda, 30-an, ia harus kehilangan salah satu ginjalnya. Toh, kondisi fisik yang payah tidak mampu meredam keberaniannya melawan Belanda yang ingin bercokol lagi di negeri ini. Ia memimpin tentara nasional bergerilya, naik gunung, turun lembah, tembus hutan, demi mempertahankan kemerdekaan.

Mungkin Jokowi belum dapat dibandingkan dengan para pemimpin pemberani itu. Tapi dengan latar sipil dan postur tubuh jauh dari kesan hero, Jokowi memperlihatkan nyali besar ketika memerintahkan penenggelaman kapal-kapal pencuri ikan dari luar negeri. Beberapa kapal asal Vietnam sudah menjadi contoh. Kita masih menunggu apakah angkatan laut kita mampu mengejar dan membekuk kapal-kapal yang besar dan berasal dari negara-negara kuat.

Mau tidak mau kita membandingkan dengan SBY, lelaki berpostur tinggi besar, gagah, dan berpangkat jenderal angkatan darat. Penenggelaman kapal pencuri ikan memang bukan satu-satunya kriteria keberanian. Namun terselip juga pertanyaan: apakah di zaman SBY pernah ada (perintah) penenggelaman seperti itu?

Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Asep Burhanudin mengatakan, pada 2007-2012, ada 38 kapal asing yang sudah ditenggelamkan. Namun pernyataannya berlawanan dengan pengakuan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, "Saya pernah ditegur SBY waktu menenggelamkan kapal asal Vietnam. Waktu itu mungkin Presiden Vietnam langsung melakukan lobi dengan Pak SBY." Setelah ditegur Presiden SBY, kata Freddy, ia tak bisa lagi menenggelamkan kapal pencuri ikan.

Ya, keberanian tidak selalu identik dengan postur tubuh dan latar belakang kehidupan seseorang. (hermawan aksan)

Naskah Coffe Break ini bisa dibaca di edisi cetak Minggu (7/12/2014). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.



Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved