Sang Bungkuk Udang
ORANG Cirebon bilang Angelina Sondakh itu wadon tan wirang urang. Cirinya, punggung atas sedikit melengkung, mirip bungkuk udang.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Pada primbon Jawa tersurat pula, wanita dengan ciri postur tinggi, punggung sedikit bungkuk, leher jenjang, dan dahi sedikit lebar—ciri yang juga dimiliki Angie—disebut pikat mutiara. Wanita demikian biasanya cerdas, penuh perhatian, dan kata-katanya terpilih.
Tapi lihatlah, ketika Angie menjadi saksi dalam sidang terdakwa Muhammad Nazaruddin, Rabu lalu, tanpa pengukuran akurat pun kelihatan bahwa bungkuk punggung Angie kian melengkung, lebih menyerupai orang yang duduk mencangkung bingung. Kedua tangannya—salah satunya memegang pelantang—lebih kerap terkulai di sebelah menyebelah tubuh, dengan pundak yang jatuh, mengingatkan saya pada bahasa tubuh seekor ayam jantan yang kalah sebelum bertarung saat bertemu dengan sang seteru.
Angie memang mencoba kelihatan tegar. Melalui suara altonya yang lembut, ia konsisten membantah sejumlah fakta persidangan sebelumnya, seakan-akan tidak terpengaruh oleh cecaran pertanyaan bak mitraliur, baik dari Nazar sang terdakwa maupun para penasihat hukum "si burung nazar".
Tapi lihatlah juga karakter wajah cerdasnya, yang terangkum dalam ungkapan pikat mutiara, seperti menguap entah ke mana. Pulas pipi dan lipstik kemerahan tidak mampu membilas paras yang semu pias. Apa yang saya lihat adalah Angie yang kehilangan ruh kecerdasannya, dengan bibir mengucapkan kata-kata entah siapa, nyaris tidak menunjukkan kreativitas dari seseorang yang sedang menuntut ilmu di level strata tiga.
Perhatikan salah satu kalimatnya: "Saya tidak tahu kalau menandatangani berita acara pemeriksaan berarti membenarkan semua isinya." Astaga, benarkah kalimat semacam ini berasal dari internalisasi "sel-sel kelabu" calon doktor ini?
Apa yang saya lihat bukanlah Angie yang sebelumnya berteriak-teriak bahwa ia dizalimi—meski tidak pernah menjelaskan siapa yang menzalimi—dan bahwa ia hanyalah korban—tanpa pernah mau mengungkapkan siapa yang mengorbankan dia. Yang saya lihat adalah Angie yang tidak lebih dari sosok dalam teater boneka, yang dimainkan dengan benar-benang oleh sang dalang. Angie tidak pernah mengatakan apa-apa. Apa yang terucap dari bibirnya adalah ucapan sang dalang. Siapa gerangan sang dalang, entahlah. Hanya saja, skenario cerita yang dibuat sang dalang masih amatiran. Sejumlah penyangkalannya bertabrakan dengan fakta. Misalnya, Angie keukeuh bilang tak ada pertemuan yang membahas fee wisma atlet. Tapi Max Sopacua, rekan Angie sendiri di Demokrat, bilang pertemuan itu ada dan Angie hadir.
Kesan dan kesimpulan pun merebak: dulu ia ratu kecantikan, kini ia ratu kebohongan. Setidaknya, itulah yang digambarkan Koran Tempo melalui wajah Angie dengan hidung panjang dari kayu.
Beberapa kali Angie terpilih menjadi wanita tercantik. Pada 2001, ia terpilih menjadi Puteri Indonesia—bukan "putri" seperti dalam KBBI. Pada 2009, ia bertengger di urutan ke-19 politikus cantik dunia (dari 65 politikus di 38 negara) versi majalah Mexico 20 Minutos yang konon merupakan majalah ternama di Eropa. Dua tahun berikutnya, ia menghuni urutan ketujuh dari 10 politikus tercantik, kali ini versi www.menjelma.com. "Ternyata dunia politik yang penuh intrik juga bisa membuat saya cantik," ujar Angie waktu itu. Murwakanti, kata orang Sunda. Ia juga berkata, "Bagi saya sesungguhnya kecantikan bukanlah modal utama. Kecantikan bisa luntur dimakan usia maupun masalah...."
Angie benar. Usia 34 belum mampu memakan penampilannya secara wadag: ia tetaplah wadon tan wirang urang, sekaligus wanita pikat mutiara. Namun, hanya sekali menjadi saksi, masalah yang membelitnya—seputar dugaan keterlibatan dalam kasus wisma atlet—mulai melunturkan kecantikannya.
Seorang teman bilang: inner beauty Angie hilang di persidangan. (*)