Pilpres 2019
PAN atau Demokrat Lebih Menguntungkan Jokowi dan PDIP? Ini Hitung-hitungannya untuk Pemilu 2024
Petinggi PAN dan Demokrat bertemu empat mata dengan Jokowi, presiden Indonesia sekaligus calon presiden di Pilpres 2019. Mana paling menguntungkan?
TRIBUNJABAR.ID - Petinggi PAN dan Partai Demokrat bertemu empat mata dengan Jokowi, presiden Indonesia sekaligus calon presiden di Pilpres 2019.
Kemarin, Kamis (2/5/2019), Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bertemu empat mata dengan Jokowi.
Sebelumnya Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan juga bertemu dengan Jokowi.
Setelah pertemuan itu banyak yang menafsirkan Koalisi Adil Makmur yang dibangun untuk mengusung Prabowo-Sandiaga akan bubar.
Sebab, PAN dan Partai Demokrat sepertinya akan memilih bergabung dengan Koalisi Indonesia Kerja yang dimotori oleh PDIP.
Lalu, di antara PAN dan Partai Demokrat mana yang paling berpeluang bergabung dengan koalisi pendukung Jokowi-Maruf Amin? Termasuk, partai mana yang paling menguntungkan Jokowi dan PDIP?
• Demokrat Gabung Koalisi Jokowi Setelah Prabowo Jelas Menang atau Kalah, PDIP Pikir-pikir Dulu
Direktur Ekskutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menyebut, Jokowi lebih baik mengakomodasi PAN daripada Partai Demokrat untuk masuk koalisi.
"Jokowi lebih baik mengakomodir PAN untuk bergabung di pemerintahan," kata Karyono Wibowo saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (3/5/2019).
Karyono menilai, PAN bisa memperkuat Jokowi di parlemen untuk periode 2019-2024.
Sebab, PAN tak memiliki konstilasi untuk mengajukan calon presiden atau calon wakil presiden di Pemilu 2024.
Namun sebaliknya, lanjut Karyono, jika Jokowi mengakomodir Demokrat untuk masuk koalisi sama saja memberikan karpet merah untuk AHY bertarung di Pilpres 2024.
"Jika mengakomodir Demokrat, sama saja memberikan karpet merah untuk AHY bertarung di 2024," ucap Karyono.
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) Aisah Putri Budiarti pun memiliki pendapat yang sama.
Aisah menilai PAN lebih berpotensi daripada Partai Demokrat untuk bergabung ke koalisi Jokowi-Ma'ruf.
Pernyataan itu bukan tanpa sebab, Aisah mengatakan bahwa Partai Demokrat memiliki ganjaran politik masa lalu yang tak bisa cair dengan mudah.