Terungkap di Pengadilan, Begini Kronologi Kasus yang Menjerat Habib Bahar bin Smith, Awalnya di Bali

Habib Bahar bin Smith (36), terdakwa kasus penganiayaan dua remaja di Kabupaten Bogor sudah duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Negeri

Terungkap di Pengadilan, Begini Kronologi Kasus yang Menjerat Habib Bahar bin Smith, Awalnya di Bali
Tribunjabar/Daniel Andreand Damanik
Habib Bahar bin Smith memasuki Ruang Sidang 1 Pengadilan Negeri Bandung, Kamis (28/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Habib Bahar bin Smith (36), terdakwa kasus penganiayaan dua remaja di Kabupaten Bogor sudah duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Kamis (28/2/2019). Ia ‎menjalani persidangan perdana dengan agenda pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum.

Pantauan Tribun, Habib Bahar bin Smith tampak mengenakan peci putih rambut panjang berwarna keemasan, mengenakan sorban yang melilit dada dan punggung serta sarung dan sepatu sandal warna putih.

Saat memasuki ruangan, ia disambut pendukungnya di ruangan persidangan. Ratusan pendukung lainnya berada di luar Pengadilan Negeri Bandung. Saat ini, jaksa penuntut umum sedang membacakan dakwaan.

Dalam dakwaannya, jaksa menyebut penganiayaan yang melibatkan Habib Bahar bin Smith ini bermula saat saksi korban bernama Cahya Abdul Jabar dan M Hairul Umam menghadiri undangan di Seminyak Bali pada Senin 26 November 2018 namun panitia susah dihubungi. Kemudian, keduanya menginap tiga hari di sebuah hotel di Bali.

Pada 29 November, saksi korban berada di Kuta dan ada yang bertanya dan menyebut Cahya sebagai Habib Bahar bin Smith karena mirip.

"Ini Habib Bahar ya?," ‎ujar jaksa menirukan seorang pria yang menyebut Cahya sebagai Habib Bahar bin Smith.

"Kemudian atas perintah dari M Hairul Umam, Cahya disuruh mengaku sebagai Habib Bahar bin Smith yang dari dulu sudah mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar bin Smith. Lalu saksi Cahya menjawab ya. ‎Kemudian besoknya, 30 November, atas pengakuan itu, Cahya dan Umam dijemput oleh jamaah majelis Rahibul Hadat menuju Bandara Ngurah Rai untuk kembali ke Jakarta dan dibelikan tiket Batik Air," ujar jaksa penuntut umum, Bambang Hartoto.

Sakit Kanker Darah, Ani Yudhoyono Cuma Bisa Jumpa Besan dari Balik Kaca Pintu, tapi Tetap Tersenyum

Si penanya itu kemudian mengajak Cahya dan Umam untuk berbincang dan diantar kembali ke hotel tempat menginap. ‎

Kata jaksa, terdakwa kemudian mendengar kabar Cahya dan Umam mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar bin Smith. Terdakwa meminta rekannya bernama Hamdi untuk menghubungi Abdul Basid dan menanyakan soal Cahya Abdul Jabar dan M Hairul Umam. Pembicaraan telpon itu diambil alih oleh Habib Bahar bin Smith.

"Percakapan telpon dengan Basid diambil alih oleh terdakwa dan terdakwa mengatakan ; 'Ini ana Bahar, bisa cari rumahnya Cahya dan Umam karena di Bali ngaku-ngaku sebagai saya, bahkan istri ana dibawa-bawa. Ente enggak usah bingung, cari rumahnya kalau ada sekarang bawa ke sini (Ponpes Tajul Alawiyin)," ujar jaksa mengutip omongan terdakwa.

Kemudian Basid melaksanakan perintah Habib Bahar bin Smith dan berhasil menemukan rumah Cahya lalu melaporkannya pada terdakwa. Hanya saja, saat itu, Basid tidak bisa menemukan Cahya karena tidak berada di rumah.


Basid turut jadi terdakwa dalam kasus ini bersama Aqil Yahya yang turut serta menganiaya. Setelah menemukan rumah Cahya, ia dibawa ke Ponpes Tajul Alawiyin kemudian diinterogasi oleh Habib Bahar bin Smith, Basid, Aqil Yahya dan santri lainnya.

Dari kronologi itulah, penganiayaan akhirnya terjadi. ‎Saat ini, jaksa masih membacakan dakwaan, terkait cara penganiayaan yang dilakukan.

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ichsan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved