Tak Temui Kesepakatan Bagi Hasil, Wisata Air Panas Nagrak Ditutup Pengelola

Objek wisata Cipanas Nagrak yang terletak di Kampung Kancah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat ditutup oleh pengelola

Tak Temui Kesepakatan Bagi Hasil, Wisata Air Panas Nagrak Ditutup Pengelola
Twitter Traveloka/Foto: @dikikhaerudin
Cipanas Nagrak di Kabupaten Bandung Barat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, PARONGPONG - Objek wisata Cipanas Nagrak yang terletak di Kampung Kancah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat ditutup oleh pengelola karena tidak menemui kesepakatan bagi hasil dengan pemilik lahannya.

Sekretaris Desa Cihideung, Erin Suhendi mengatakan pengelola wisata pemandian air panas Nagrak ini terdiri dari unsur Karang Taruna dan masyarakat setempat.

Mereka kata Erin merasa tak setuju dengan tawaran pemilik lahan yang meminta bagi hasil sekitar 70:30 persen

"Pengelola yang telah dari awal menata lahan itu keberatan bagi hasilnya hanya 70:30 persen. Mereka (pengelola) inginnya 60:40 persen dari penjualan tiket yang hanya Rp 10 ribu," katanya di Desa Cihideung, Kamis (14/2/2019).

Dengan begitu, objek wisata yang telah berdiri setahun ini pun akhirnya ditutup meskipun para pengunjung selalu ramai yang datang meskipun telah ditutup. Objek wisata ini, Erin menyebut berada di dua desa, yakni Desa Sukajaya dan Desa Cihideung.

"Sumber air panasnya berasal dari Kampung Kancah, RT 3/17, Desa Cihideung yang mengalir ke lokasi wisata ini," ujarnya yang didampingi Kepala Dusun 4, Kampung Kancah, Asep Rahmat.

Erin juga menyebut penutupan objek wisata pemandian air panas ini ditutup sejak 22 Januari 2019, ditambah karena persoalan belum ada perizinan sehingga perlu ada izinnya dahulu.

Billy dan Zola Resmi Masuk Timnas U-22, di Persib Diakui Radovic Masuk Skema, Tapi . . .

Begini Pernyataan Lopicic Terkait Penampilannya Bersama Persib Saat Libas Persiwa Wamena 7-0

Terpisah, warga sekitar Heru (45) berharap objek wisata ini dapat dibuka kembali lantaran objek wisata ini dapat membuka lapangan pekerjaan dan mengangkat perekonomian warga sekitar. Apalagi, pada hari libur, kata Heru pemandian air panas ini dapat dikunjungi hingga 4.000 orang wisatawan baik dari dalam atau luar kota.

"Biasanya Minggu bisa sampai 4.000 orang. Kalau sekarang katanya ditutup dan tidak boleh dikenakan tarif juga pemiliknya sedang mengurus perizinan," katanya di lokasi.

Dari pantauan Tribun, situasi di pemandian air panas meskipun telah ditutup tetap saja warga atau pengunjung datang untuk sekedar mandi dan berendam di air yang mengandung belerang tersebut yang berasal dari Kawah Gunung Tangkubanparahu. Area lahan wisata ini seluas 3,5 hektare. (*)

Pekerja Tolak UMSK Dipolitisasi dan Gelar Deklarasi Pemilu Damai

Instagram Blokir Akun Alpantuni, Itu Dilakukan Atas Permintaan Kominfo Setelah Terima Laporan Publik

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved