TribunJabar/

Coffee Break

Auktor Intelektualis

KALAU Anda mencari arti kata auktor intelektualis di Kamus Besar Bahasa Indonesia, setidaknya yang versi daring, Anda tak akan menemukannya.

Auktor Intelektualis
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

KALAU Anda mencari arti kata auktor intelektualis di Kamus Besar Bahasa Indonesia, setidaknya yang versi daring, Anda tak akan menemukannya. Yang akan Anda temukan hanya aktor intelektual. Menurut KBBI, aktor intelektual adalah otak berbagai tindakan yang menyimpang (seperti kerusuhan, pembakaran, pembunuhan).

Kalau dimaknai satu per satu, aktor adalah (1) pria yang berperan sebagai pelaku dalam pementasan cerita, drama, dan sebagainya di panggung, radio, televisi, atau film, (2) orang yang berperan dalam suatu kejadian penting; intelektual berarti (1) cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; (2) mempunyai kecerdasan tinggi; cendekiawan; (3) totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Jadi, secara terpisah, baik aktor maupun intelektual memiliki makna yang netral. Namun, setelah digabung, maknanya menjadi negatif.

Tidak jelas kapan istilah aktor intelektual muncul pertama kali, tapi diperkirakan pada tahun- tahun menjelang akhir kekuasaan Soeharto. Saat itu Soeharto dan rezim Orde Barunya kerap menuding bahwa kerusuhan, unjuk rasa, atau kejadian-kejadian lain yang tidak terpuji digerakkan oleh aktor intelektual. Jelas bahwa Soeharto menganggap aktor intelektual merupakan antagonis sehingga harus ditangkap dan diseret ke pengadilan.

Rezim Orba juga memunculkan istilah-istilah lain yang merujuk antagonis serupa: orang atau kelompok orang yang memicu kerusuhan atau berniat melawan pemerintah. Sebut saja di antaranya oknum, provokator, pihak ketiga, dan tangan jahat. Pernah pula muncul istilah organisasi tanpa bentuk yang dikaitkan dengan kelompok orang yang dituding memicu sejumlah peristiwa, termasuk tragedi 27 Juli 1996.

Batasan aktor intelektual menurut KBBI yang negatif bukan tidak mungkin menunjukkan adanya pengaruh kuat rezim Orba terhadap KBBI. Mengapa tidak misalnya aktor intelektual juga bermakna orang yang berinisiatif melakukan gerakan positif? Aktor berasal dari kata bahasa Latin agere, yang berarti berbuat, melakukan.

Dalam bahasa Latin, aktor intelektual akan berbunyi actor intellectualis. Namun, menurut K. Bertens, dalam bahasa Latin actor intellectualis tidak digunakan; yang lazim dipakai adalah auctor intellectualis. Kata auctor berasal dari kata Latin augere, yang mempunyai banyak arti, antara lain meningkatkan, memperbesar, dan menumbuhkan. Jadi, arti auctor adalah orang yang menumbuhkan, orang yang meletakkan dasar, perintis, pencipta, pengarang. (Auctor merupakan asal-usul untuk kata Inggris author yang berarti pengarang atau penulis.)

Auctor intellectualis inilah yang, menurut Bertens, berarti pencetus ide, orang yang untuk pertama kali mengemukakan suatu pikiran atau rencana, otak atau brain di balik suatu peristiwa. Jelas bahwa maknanya tidak selalu negatif. Belakangan sejumlah media memperkenalkan bentuk adaptasi auctor intellectualis, yaitu auktor intelektualis. Pada edisi 29 September 2015, Kompas membuat judul "18 Tersangka Ditahan, Polisi Buru Auktor Intelektualis".

Dalam wayang versi Jawa, Kresna bisa disebut sebagai aktor intelektual—atau dalam hal ini auktor intelektualis karena tidak selalu bermakna negatif—dalam Bharatayudha. Kresna dikisahkan banyak ikut campur dan mengatur jalannya perang ini. Dialah yang meminta Antareja menjilat jejak kakinya sendiri sehingga mati. Antareja memang memiliki kesaktian bisa membunuh orang dengan cara menjilat jejak kaki orang itu. Menurut Kresna, jika Antareja terlibat Bharatayuda, perang itu akan selesai dalam sekejap. Kresna menyingkirkan Baladewa dengan menyarankan agar Baladewa bertapa sebab kakaknya itu, yang sulit ditandingi kesaktiannya, cenderung memihak Kurawa. Kresnalah yang mengatur strategi perang di pihak Pandawa, antara lain tentang siapa siapa saja yang diturunkan menjadi panglima perang. Kresna jugalah yang menyebarkan isu bahwa Aswatama mati saat Durna menjadi panglima perang Kurawa, menurunkan Srikandi untuk menghadapi Bisma, memerintahkan Nakula dan Sadewa untuk menemui Prabu Salya saat Salya menjadi panglima perang Kurawa, menjadi pengendali kereta Arjuna saat berhadapan dengan Karna, menutupi matahari dengan senjata Cakra untuk memancing Jayadrata keluar dari persembunyiannya.

Ngomong-ngomong, benarkah Haryono, Kepala Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Kabupaten Lumajang, merupakan auktor intelektualis dalam kasus pembunuhan dan penganiayaan aktivis antitambang Salim Kancil di Lumajang, 26 September 2015? Tentu saja saya tidak merendahkan posisi kepala desa. Sekarang, untuk bisa menjadi kepala desa, dibutuhkan modal sampai ratusan juta. Saya hanya yakin ada tangan yang jauh lebih kuat dibanding hanya kepala desa.

Ah, saya jadi ingat sejumlah kasus di era Orba, semisal kasus Udin dan Marsinah, dan kasus yang diselesaikan dengan gaya Orba: kasus Munir. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help