Kamis, 11 Juni 2026

Roy Suryo

PRESIDEN SBY seakan-akan tengah berjudi ketika mengangkat Roy Suryo menjadi menteri pemuda dan olahraga, menggantikan Andi Mallarangeng

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Darajat Arianto
Oleh Hermawan Aksan

PRESIDEN SBY seakan-akan tengah berjudi ketika mengangkat Roy Suryo menjadi menteri pemuda dan olahraga, menggantikan Andi Mallarangeng. Boleh jadi SBY sempat bingung mencari sosok yang tepat di Partai Demokrat. Mungkin Roy dianggap lebih baik daripada nama-nama yang sudah beredar sebelumnya: Ramadhan Pohan, Saan Mustofa, dan Max Sopacua.

SBY jelas tak bisa mencari sosok di luar Demokrat karena posisi menpora sudah ditegaskannya sebagai jatah partainya. Sabda pandhita ratu, tan kena wola-wali. Janji pemimpin harus ditepati. Jadi, kawan, jelas bahwa jabatan menteri tidak lebih dari jatah-jatahan, bagi-bagi kue kekuasaan, bukan terutama karena kapabilitas dan kemampuan.

Belasan tahun lalu saya sudah mendengar komentar miring mengenai Roy. Waktu saya masih di Tabloid Detak, seorang rekan wartawan kerap tersenyum sinis tiap menyebut nama Roy. Saya sempat berpikir, ah, jangan-jangan rekan wartawan itu iri karena dia dan Roy berasal dari dua SMA yang bersaing di Yogya. Tapi itu pemikiran yang terlalu naif. Roy satu SMA dengan saya, tapi saya baik-baik saja dengan rekan wartawan Detak itu.

Nama lengkapnya: Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KMRT) Roy Suryo Notodiprojo. Ia lahir di Yogyakarta, 18 Juli 1968. Roy menyelesaikan kuliah pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (1991-2001), kemudian mengajar di Jurusan Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia tahun 1994-2004. Ia juga pernah tercatat sebagai pengajar tamu di Program D-3 Komunikasi UGM, mengajar fotografi untuk beberapa semester tapi tidak berstatus sebagai dosen tetap UGM.

Masyarakat mengenal Roy sebagai ahli telekomunikasi dan informatika (telematika). Ia tercatat kerap meraih penghargaan dari lomba fotografi tingkat nasional serta penghargaan dari berbagai pihak, di antaranya dari Kadin di bidang telematika, Menteri Perhubungan Agum Gumelar, majalah Trend Digital, Telkomsel, dan Garuda Indonesia. Ia juga ikut dalam kepengurusan Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia, Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia, dan tercatat sebagai salah satu konsultan teknis di situs resmi Presiden SBY. Di Partai Demokrat, ia tercatat sebagai ketua Departemen Komunikasi dan Informasi dan penanggung jawab redaksi di situs resmi partainya.  

Yang menarik, situs Wikipedia menguraikan sejumlah kontroversi mengenai Roy, antara lain keraguan berbagai kalangan tentang kepakarannya, perseteruannya dengan dengan para blogger yang meruncing setelah dia mengatakan bahwa blogger adalah tukang tipu, kontroversi mengenai penemuan lagu "Indonesia Raya" yang asli, keterangan yang memberatkan Prita Mulyasari, dan sebagainya.

Mengenai pengangkatan Roy sebagai menpora, Yusril Ihza Mahendra, dalam akun Twitter-nya, berkomentar: "SBY itu kalo milih pejabat, sering membuat saya tercengang dan heran. Kebanyakan tidak sesuai keahlian, pengalaman dan kemampuan." Yusril menilai kebijakan Presiden dalam menunjuk menteri itu menjadikan negeri ini sebagai sebuah dagelan. "Kesan rakyat, kalo menteri goblok, yang ngangkat lebih goblok lagi. Negara jadi dagelan, main goblok-goblokan tiap hari. Energi dan waktu terbuang."

Ah, kita mungkin terlalu menyepelekan Roy. Simak komentar ekonom Anggito Abimanyu, kakak kelas Roy di SMA-nya dan di UGM: "Saya mengenal Roy cukup lama, baik saat dia sebagai aktivis dulu maupun di pergerakan. Ia sosok yang mau belajar dan mau mendengar. Berilah kesempatan. Saya yakin dia bisa mengambil prioritas saat menjabat."

Roy sendiri mengaku tidak tahu apa alasannya dipilih SBY. "Saya tahu ini tugas yang sangat berat. Saya sadar kapasitas saya. Saya sampaikan ke Presiden bahwa saya bukan orang yang berkompeten dan paling tepat untuk posisi itu," katanya.

Kalau benar SBY sedang berjudi, tentu ia sedang bertaruh. Untung-untungan, spekulasi. Hasilnya: menang atau kalah. Kalau Roy bisa menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, berarti SBY menang. Kalau Roy gagal, berarti SBY kalah.

Tapi menang atau kalah tampaknya bukan masalah bagi SBY. Toh masa kepemimpinannya tinggal satu setengah tahun lagi. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved