Cermin
KALAU saat itu sudah ada cermin, mungkin Narsisus tidak perlu mati tenggelam di telaga. Dalam satu versi dikisahkan, Narsisus adalah pemuda gagah
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Darajat Arianto
KALAU saat itu sudah ada cermin, mungkin Narsisus tidak perlu mati tenggelam di telaga. Dalam satu versi dikisahkan, Narsisus adalah pemuda gagah dan tampan, putra Peri Liriope dan Dewa Cephisus. Demikian tampannya ia sehingga peri-peri jatuh cinta dan ia memesona siapa saja yang melihatnya.
Namun semua pujian dan kekaguman untuknya menjadikan Narsisus amat sombong, terlalu bangga akan dirinya, egoistis, dan seakan-akan hanya dialah makhluk yang paling sempurna. Ia senang pergi ke hutan, berbaring berlama-lama di tepi sebuah telaga, sambil memandangi bayangan wajahnya yang rupawan di permukaan air, tak puas-puas menikmati keelokan parasnya. Dia sangat terpesona oleh ketampanan sendiri dan lama-lama jatuh cinta kepada bayangannya sendiri.
Dijulurkannya tangannya ke permukaan air, hendak menggapai wajah tampan di sana. Namun air beriak dan bayangan itu menghilang. Setelah air kembali tenang, ia kembali menjulurkan tangannya untuk meraih bayangannya. Tapi air kembali beriak dan bayangannya kembali hilang. Hatinya kecewa, tersiksa, dan frustrasi, hingga tanpa disadarinya ia tergelincir, jatuh ke danau, dan tenggelam.
Pada era ketika para dewa masih mengembara di dunia, boleh jadi manusia belum mengenal cermin. Sejarah cermin baru terlacak hingga sekitar 6000 tahun SM ketika di Anatolia (kini Turki) ditemukan cermin obsidian yang mengilap dan bisa memantulkan benda-benda. Cermin dari tembaga yang mengilap dibuat di Mesopotamia pada 4000 SM dan di Mesir purba pada 3000 SM. Di Cina, cermin dari perunggu dibuat pada 2000 SM. Cermin batu mengilap dari Amerika tengah dan selatan juga berumur sekitar 2000 SM.
Cleopatra adalah ratu Mesir nan cantik yang selalu tidak lepas dari cermin. Mungkin itu sebabnya nama Cleopatra digunakan hingga kini untuk menamai cermin model tertentu. Dan di zaman kini, cermin tak ubahnya seperti udara—sesuatu yang dibutuhkan setiap saat. Cermin berguna tidak hanya untuk membuat kita menjadi cantik, tapi juga guna memberitahukan kekurangan kita yang mungkin tersembunyi.
Di seputar pergantian tahun, sebaiknyalah kita banyak becermin—tidak hanya secara harfiah di hadapan sebuah benda dua dimensi yang memantulkan diri kita. Kita juga hendaklah becermin melalui pendapat orang lain mengenai kekurangan dari segala apa yang kita lakukan selama setahun. Jangan sampai kita becermin hanya untuk mengagumi diri kita sendiri seperti halnya Narsisus.
Presiden SBY beberapa hari lalu meminta para menterinya menyimak paparan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Emil Salim, dan Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto. SBY berharap observasi, evaluasi, dan rekomendasi ini dapat dijadikan cermin agar kinerja pemerintah dapat lebih baik tahun depan. "Anggaplah itu sebagai cermin dari apa yang kita lakukan setahun ini," kata SBY.
Kita tentu berharap para menteri itu bisa becermin dengan baik. SBY pun sudah mengingatkan para menterinya untuk bekerja all out (mati-matian) dalam sisa waktu masa jabatan yang tinggal dua tahun lagi. Secara tersirat, peringatan SBY ini bisa diartikan bahwa selama ini para menteri belumlah bekerja secara all out.
Selain becermin untuk mengevaluasi kinerja masa lalu, pergantian tahun selalu menjadi titik yang baik guna menatap masa depan. Meskipun kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi setahun, sebulan, sehari, bahkan sedetik di depan, selalu ada pertanda bagi kita yang setidaknya memberikan petunjuk apa yang sebaiknya kita lakukan. Kilat beliung sudah ke kaki, kilat cermin sudah ke muka, demikian salah satu peribahasa kita—selalu ada tanda-tanda sebelum terjadi sesuatu. Dan untuk itu tak perlulah kita memakai kaca Lopian milik Kresna.
Pertanda itu bisa saja berupa peristiwa yang sudah terjadi. Andi Alfian Mallarangeng sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Hambalang. Mestinya peristiwa ini menjadi pertanda bahwa negeri ini perlu pembenahan yang radikal. Bukan malahan sibuk membangun citra dengan membela diri bahwa korupsi partainya belum apa-apa dibanding dengan korupsi partai lain.
Ada baiknya juga tokoh seperti Ical becermin dengan bijaksana mengapa elektabilitasnya tetap rendah meskipun sudah all out mengiklankan diri di dua stasiun televisi miliknya. Bukan malah balik mengkritik para pengkritiknya. Itu namanya buruk muka cermin dibelah. (*)