Lady Gaga
MAKIN tenar saja Lady Gaga di negeri ini. Tenar bukan semata penyanyi eksentrik asal Amerika itu masuk 100 orang paling berpengaruh di dunia
Penulis: swo | Editor: Darajat Arianto
MAKIN tenar saja Lady Gaga di negeri ini. Tenar bukan semata penyanyi eksentrik asal Amerika itu masuk 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah Time. Stefani Joanne Angelina Germanotta, nama aslinya, mengundang kontroversi menyusul batal konser di Indonesia.
Konser Lady Gaga, yang rencananya digelar di Gelora Bung Karno pada 3 Juni mendatang, dibatalkan oleh pemerintah Indonesia salah satunya karena reaksi keras dari FPI. Juru bicara FPI, Munarman, mengatakan penolakan FPI bukan hanya soal persoalan Islam tapi juga peradaban. "Tak hanya dari segi budaya, dari segi moral pun sudah sangat melampaui batas," ujarnya.
Tetapi, ada juga pihak yang menerima konser Lady Gaga. Alasannya, Indonesia adalah negara demokratis yang menjamin kebebasan setiap individu untuk berkreasi sejauh tidak merugikan orang lain. Alasan lain, pelarangan itu mengundang kesan pemerintah hanya menuruti satu kelompok tertentu saja.
Akhirnya, pelarangan tersebut menjadi geger seperti arti kata gaga dalam bahasa Indonesia. Dunia bereaksi. Media massa terpandang AS, The Washington Post, menyusun reportasenya dengan judul In other news...: Lady Gaga concert scuttled in Jakarta amid protest. Koran dari negara sahabat, Thailand, The Bangkok Post, pada rubrik Asia-nya menempatkan cerita itu pada tajuk teratasnya, dengan hit paling banyak.
Di sela geger konser Lady Gaga, muncul pula pelesetan Lady Gagal. Pelesetan itu cukup lumayan pas, bukan saja terkait konsernya yang gagal. Rumor yang beredar, pelantun Marry the Night itu putus cinta dengan sang kekasih, Taylor Kinney, menjelang turnya ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Disebut-sebut, rencana konser dunia itulah sebagai akar permasalahan Lady Gaga gagal merajut cinta dengan Kinney.
Kebetulan pula, nama Lady Gaga, menurut salah satu versi, merupakan sebuah kesalahan. Berawal dari pencari bakat untuk produser musik, Rob Fusari, mengirim SMS yang berbunyi Lady Gaga kepada Stefani. Padahal sebenarnya Fusari tidak bermaksud membuat pelesetan. "Saya mengetik 'Radio Ga Ga' dalam teks dan terjadi sebuah autocorrect sehingga entah bagaimana 'Radio' bisa diubah menjadi 'Lady'."
Saat itu Stefani memang berencana menyanyikan Radio Ga Ga, lagu Queen, sebagai lagu pembuka untuk unjuk kebolehan olah suara di studio Fusari. Kebetulan pula Stefani sedang mencari nama panggungnya. Mendapat SMS salah teks itu, ia terinspirasi dan langsung berkata, "Jangan pernah panggil aku Stefani lagi."
Pelesetan lain, gaga jadi gagap. Ada pendapat, kontroversi konser Lady Gaga menyangkut gagap budaya. Ketidaksiapan pemerintah di era globalisasi menjadikan khawatir masuknya budaya asing bakal menghilangkan budaya asli Indonesia. Mendiknas M Nuh pernah memberi contoh kekhawatiran itu, bahwa ada anak Indonesia yang menangis hanya lantaran tak bisa lihat Suju, boyband asal Korea, waktu konser di Indonesia.
Menteri Hukum Malaysia, Dato Seri Mohamed Nazri Abdul Aziz, pun ikutan ber- pelesetan ria. Di sela kunjungan ke kediaman Ketua MPR RI Taufiq Kiemas, Kamis (17/5), kepada wartawan ia mengatakan pemerintah Malaysia seharusnya melakukan kebijakan sama dengan pemerintah Indonesia untuk menolak konser Lady Gaga. Saat ditanya lebih lanjut masalah Lady Gaga, ia tak bisa menjawab. "Ha-ha-ha. Saya jadi gagap," kata Nazri.
Bukan cuma pelesetan, Gaga mengingatkan pada padi gaga/gogo. Mengingatkan pula jasa guru besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung Profesor Dr Sjamsudin Djakamihardja. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai pionir penanaman padi gogo rancah di Indonesia, sistem bercocok tanam dengan biji padi yang langsung ditebarkan di ladang.
Sistem padi gogo rancah paling tepat bagi tanah kering, sawah tadah hujan atau tegal. Dari sini, padi gaga ibarat generasi yang kaya referensi. Generasi yang terus tumbuh sehat dalam musim apa pun, baik hujan maupun kemarau. Kalaupun "musim Lady Gaga" dirasa sesuatu yang kering makna, generasi padi gogo, dengan ilmu padinya yang makin berisi makin menunduk (rendah hati), menanggapinya tanpa harus berteriak, "Go... go!" (*)