Tarif Sejumlah Tol Naik
Sejumlah tarif ruas tol akan naik pada tahun 2012. Menteri Pekerjaan Umum telah memutuskan kenaikan tarif ruas tol. Tarif tol Kebon Jeruk-Penjaringan
”Seharusnya tarif tol ini naik pada Februari 2012. Namun, pengecekan pada 26 Januari 2012 menemukan tol ini belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM),” kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Achmad Gani, Kamis (19/4/2012), di Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Jakarta.
Setelah diperbaiki, pengecekan diulang lagi pada 26 Maret 2012 oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan Kementerian PU. ”Ketika SPM sudah dipenuhi, barulah tarif dinaikkan,” ujar Gani.
Gani mengatakan, pada 2012 masih ada empat jalan tol yang tarifnya akan naik. Jalan tol itu adalah Tol Surabaya-Simpang Waru per 31 Mei 2012 serta Tol Sedyatmo (akses Tol Bandara Soekarno-Hatta) dan Tol Jakarta-Cikampek per 5 Juli 2012.
Sebenarnya, tarif Tol Kanci- Pejagan dijadwalkan naik per 25 Januari 2012. Namun, tol itu belum memenuhi SPM, jadi harus dibenahi dulu. Sebelum SPM dipenuhi, seperti Tol W1 Kebon Jeruk-Penjaringan, pemerintah tidak akan mengabulkan kenaikan tarif.
Direktur Utama PT Jalan Lingkar Baratsatu (JLB) Faturrahman mengakui, ada satu lajur jalan yang tidak rata karena sering dilintasi truk. ”Perhitungan kami, seharusnya pengaspalan ulang dalam lima tahun, tetapi ternyata dua tahun sudah harus diaspal,” ujarnya.
Berdasar pengamatan Kompas, meski sama-sama berkonstruksi layang dengan ruas tol Pluit- Priok-Cawang, kualitas tol Kebon Jeruk-Penjaringan lebih buruk. Jalannya terasa bergelombang meski melintas di lajur paling kanan yang jarang dilintasi truk.
Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi mengatakan, seharusnya konsumen dilibatkan dalam penetapan kenaikan tarif. ”SPM itu, kan, ukuran pemerintah. Kalau pengguna tol tidak puas, bagaimana? Bagaimana bila kecepatan di tol terus turun. Peraturan pemerintah soal kenaikan tarif harus diubah,” ujar Tulus.
Jaringan terputus
Menurut Faturrahman, jalan tol selain sering ”dirusak” truk berbeban berlebih, juga lalu lintas harian tidak tercapai. ”Di dalam rencana bisnis, targetnya 65.000 kendaraan per hari, tetapi realisasinya hanya 51.000 kendaraan. Kami pun harus nombok untuk pengembalian ke perbankan,” katanya.
Melesetnya target pendapatan W1, kata Faturrahman, karena jaringan tol yang terputus. Selain itu, juga belum tuntasnya pembangunan Tol Lingkar Luar W2 dari Ulujami ke Kebon Jeruk. ”Tol itu masih diawang-awang,” ujarnya.
Bila ruas Tol W2 tuntas, warga di selatan Jakarta tak perlu melintasi pusat kota untuk ke Bandara Soekarno-Hatta.
Menurut Gani, lalu lintas harian di Tol Kanci-Pejagan juga sangat sedikit. ”Mungkin 9.000 kendaraan per hari. Tak heran bila sekarang mereka mendiskon untuk Golongan III, IV, dan V,” ujarnya.
Sebagaimana Tol W1, yang didera belum terhubungkannya Tol W2, Tol Kanci-Pejagan juga menunggu arus lalu lintas dari Tol Cikampek-Palimanan. Investasi tol itu dibantu oleh keterlibatan operator tol Malaysia, PLUS Expressway. (*)