Kisah Manggis dari Cipancar Sumedang yang Kini Bisa Tahan Lebih Lama Berkat Semprotan Lilin Lebah
Petani manggis di Cipancar, Sumedang, mendapatkan pelatihan teknologi edible coating berbasis lilin lebah (beeswax) hasil kolaborasi ITB, Unpad.
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Padahal saat musim panen melimpah, harga manggis bisa jatuh begitu rendah hingga ada petani yang memilih tidak memanen buahnya. Sebabnya, manggis cepat busuk. Ukuran busuk untuk manggis adalah kulitnya yang mengeras.
“Harapannya dengan pelapisan ini mereka bisa mengirim ke tempat yang lebih jauh karena umur simpan lebih lama,” ujar Lienda.
Teknologi yang digunakan juga tidak sulit diterapkan. Lilin lebah yang menjadi bahan utama bisa dibeli di pasaran. Lienda bercerita, lapisan lilin lebah ini bisa diterapkan pada buah selain manggis, misalnya pisang dan buah lainnya. Di Cipancar, manggis dijadikan objek sebab di sini manggis memang melimpah.
“Petani tidak harus mencari sarang lebah. Lilin lebah bisa didapat dari mana saja di pasaran, tinggal nanti dibuat campurannya,” katanya.
Harapan Baru Sekaligus Curhat Buah Manggis Cepat Rontok
Sukarya, Ketua Kelompok Tani Sagara Tandang yang juga Kepala Dusun Sagaramanik, mengaku banyak hal yang selama ini belum diketahui petani tentang pengelolaan pascapanen manggis.
“Alhamdulillah ini membuka wawasan. Selain pengawetan manggis, kami juga bisa menyampaikan unek-unek kami untuk perkembangan manggis di sini,” katanya.
Ia menjelaskan, selama ini manggis biasanya mulai mengeras setelah sekitar 14 hari. Jika teknik pelapisan ini berhasil diterapkan secara luas, buah manggis bisa disimpan lebih lama sebelum dijual atau dikirim ke pasar yang lebih jauh.
Di Dusun Sagaramanik sendiri terdapat sekitar 35 petani manggis yang selama ini memasok hasil panennya ke pengepul, salah satunya melalui jaringan pengiriman di Puspahiang, Tasikmalaya.
Meski demikian, kualitas buah masih menjadi tantangan. Menurut Sukarya, seharusnya sekitar 60 persen manggis yang dihasilkan bisa masuk kualitas super, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak buah yang akhirnya masuk kategori biasa.
Selain itu, para petani juga menghadapi persoalan lain di kebun, mulai dari buah yang rontok sebelum matang hingga gangguan hama seperti tupai dan monyet.
Melalui pelatihan ini, Sukarya berharap akan ada program lanjutan yang membahas pemeliharaan buah manggis saat masa pembentukan agar kualitas panen bisa meningkat.
Dosen Teknik Pertanian Universitas Padjadjaran, Farah Nuranjani, mengatakan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pertanian lokal.
“Kolaborasi memang dari berbagai pihak, ITB, Unpad, dan Chulalongkorn,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga lahir dari hubungan akademik yang telah terjalin sebelumnya. Menurutnya, terdapat celah penting pada penanganan pascapanen manggis yang selama ini belum banyak diterapkan di tingkat petani.
| Soal Aturan Menkes Batasi Nikotin Tapi Standarisasi Rokok Polos, Ketua APTI: Bunuh Petani Tembakau |
|
|---|
| Tertibkan Aturan Pajak Pilkades, Kemenkum Jabar Selaraskan Tiga Regulasi Daerah Kabupaten Sumedang |
|
|---|
| Telkom Melalui BMM Salurkan Bantuan Water Refill Station di 9 Titik Bandung Raya dan Sumedang |
|
|---|
| Pemkab Sumedang Raih Predikat WTP 12 Kali Berturut-turut, Bupati Dony: Terima Kasih pada Semua Pihak |
|
|---|
| Detik-detik Sales Rokok Dirampok di Sumedang, Identitas Tiga Pelaku Berkedok Wartawan Terungkap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Petani-manggis-di-Cipancar-Sumedang-mendapatkan.jpg)