Mutiara Ramadan
Mengimani Bulan Suci Ramadhan Menurut Imam Ghazali
Ada lima cara menyambut bulan suci Ramadhan dalam perspektif Imam Ghazali rahimahullahu taala.
Ada lima cara menyambut bulan suci Ramadhan dalam perspektif Imam Ghazali rahimahullahu taala.
Yang pertama, istiadul iman. Harus siap persiapan iman. Kenapa Ramadhan itu harus disambut dengan iman?
Karena perintah puasa adalah perintah yang tentu secara psikologis manusia akan berubah pola makannya.
Sehingga yang dipanggil oleh Allah adalah iman, bukan logika. Itu sebabnya perintah puasa diawali dengan iman.
Ya ayyuhalladzina amanu kutiba alaikumusam.
Menandakan bahwa kita sebagai umat Nabi Besar Muhammad sallallahu alaihi wasallam, umat yang beriman harus mempatri iman diri kita agar kita yakin kepada Allah subhanahu wa taala bahwa perintah berupa puasa Ramadhan harus kita terima dengan penuh keikhlasan.
Itulah yang dimaksud oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
"Man Ramadhana imanan wtisaban gufir lahu ma taqaddama min dambih"
Siapa saja yang berpuasa pada bulan suci Ramadhan sembari imannya kuat, persiapan imannya hebat, sembari mengharap reda dan ikhlas karena Allah, jaminannya adalah orang yang berpuasa seperti itu terampuni noda dosanya setahun yang lalu.
Itulah pentingnya yang pertama adalah istiadul iman. Mempersiapkan iman.
Yang kedua, kata Imam Ghazali yang perlu kita persiapkan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan atau mengisi bulan Ramadhan dengan istiadul ilmi. Mempersiapkan ilmu.
Afdolul ilmi ilmul hal. Ilmu yang paling afdal, ilmu yang paling mulia kata Imam Zarnuji adalah ilmul hal, ilmu aplikatif.
Maka dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan mengisi bulan Ramadhan, maka harus kita persiapkan dengan ilmu pengetahuan. Ilmu yang paling tepat dalam rangka mengisi Ramadhan adalah ilmu tentang fiqhusum, tentang seluk-beluk berpuasa, hukum berpuasa, kewajiban berpuasa, rukun puasa, syarat sah puasa, yang membatalkan puasa, yang membatalkan pahala puasa, amalan-amalan di bulan Ramadhan dan amalan-amalan yang termulia setelah Ramadhan itu adalah ilmul hal.
Maka kita harus mengilmukan itu semua agar sempurna pelaksanaan ibadah Ramadhan kita.
Itu yang disebut dengan istiadul istiadul ilm.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Prof-Dr-TGH-Fahrurrozi-Dahlan-QH-MA.jpg)