Rabu, 6 Mei 2026

Hari Lupus Sedunia

Penyakit Lupus: Hadir Tak Terlihat, Merenggut Tak Terduga

Systemic Lupus Erythematosus (SLE)  atau yang lazim disebut Lupus adalah penyakit autoimun sistemik kronis

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Siti Fatimah
Kontan.co.id
LUPUS - Systemic Lupus Erythematosus (SLE)  atau yang lazim disebut Lupus adalah penyakit autoimun sistemik kronis. 
Ringkasan Berita:
  • Systemic Lupus Erythematosus (SLE)  atau yang lazim disebut Lupus adalah penyakit autoimun sistemik kronis
  • Secara global, diperkirakan lebih dari 3,4 juta orang hidup dengan lupus, dengan sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahun
  • Kelompok dukungan sesama odapus, komunitas online yang berbasis informasi medis yang sahih, serta keterlibatan keluarga yang positif terbukti meningkatkan kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup

Oleh: dr. Rachmat Gunadi Wachjudi, Sp.PD-KR

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi

Ketua IRA Cabang Bandung | Anggota PAPDI Jawa Barat

BAYANGKAN seorang perempuan muda berusia dua puluh tiga tahun. Ia mahasiswi semester akhir, bersemangat menyelesaikan skripsinya.

Tapi sejak berbulan-bulan lalu, ia selalu merasa kelelahan luar biasa tubuhnya nyeri tak jelas, rambutnya rontok, dan wajahnya kemerahan seperti bekas tamparan. 

Ia sudah ke tiga klinik berbeda, mendapat tiga diagnosis berbeda: alergi, anemia, stres. Tak ada yang menyebut nama itu: Lupus.

Kisah ini bukan fiksi.

Ia berulang setiap hari, di Bandung, Jakarta, Surabaya, dan di pelosok negeri, dan setiap penundaan diagnosis berarti satu organ lagi yang diam-diam terluka tanpa terlihat, tanpa terdengar.

Lupus bukan sekadar penyakit kulit, bukan alergi biasa, bukan pula sesuatu yang bisa disembuhkan dengan suplemen atau ramuan dari sumber yang tidak jelas.

Lupus adalah perang saudara dalam tubuh sendiri dan ia menuntut penanganan yang serius, tepat, dan berkelanjutan.

Apa Sesungguhnya Lupus Itu?

Systemic Lupus Erythematosus (SLE)  atau yang lazim disebut Lupus adalah penyakit autoimun sistemik kronis.

Kata "autoimun" bermakna bahwa sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya menjadi penjaga garis pertahanan kita, justru berbalik menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. 

Tidak ada organ yang imun: sendi, kulit, ginjal, jantung, paru, otak, hingga sel darah semuanya bisa menjadi sasaran.

Nama "Lupus" berasal dari bahasa Latin yang berarti serigala, karena ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang melintas dari pipi ke hidung sebuah tanda khas yang menyerupai gigitan menjadi penanda klinis yang paling dikenal.

Namun kenyataannya, wajah lupus jauh lebih banyak ragamnya: ia bisa menyamar sebagai radang sendi biasa, infeksi berulang, gangguan darah, bahkan kejang dan gangguan jiwa.

Penyakit ini tidak menular. Lupus bukan kanker. Lupus tidak disebabkan oleh kutukan, dosa, atau makanan tertentu semata.

Ia lahir dari perpaduan kompleks antara faktor genetik, hormonal, lingkungan, dan paparan pemicu seperti sinar ultraviolet, infeksi virus tertentu, serta sejumlah obat-obatan.

Inilah mengapa tidak ada satu pun suplemen, jamu, atau terapi alternatif yang dapat mengobati atau menggantikan terapi medis konvensional untuk lupus.

Mengapa Perempuan? Mengapa Usia Produktif?

Di sinilah fakta yang paling perlu dipahami masyarakat luas: sekitar 90 persen penderita lupus adalah perempuan, dan penyakit ini paling sering muncul pertama kali pada rentang usia 15 hingga 45 tahun tepat di masa paling produktif dalam kehidupan seorang perempuan.

Rasio perempuan berbanding laki-laki mencapai 9:1, bahkan di beberapa laporan mencapai 15:1.

Mengapa demikian? Hormon estrogen diduga berperan penting dalam memodulasi respons imun.

Perempuan memiliki dua kromosom X struktur genetik yang turut berkontribusi pada hiperaktivitas sistem imun.

Kehamilan pun menjadi salah satu momen kritis: lupus bisa mengalami flare (kambuh-aktif) selama kehamilan, meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan janin.

Ini bukan perkara statistik semata.

Seorang perempuan berusia 25 tahun yang didiagnosis lupus adalah seorang calon ibu, mahasiswi, karyawan, pelaku UMKM, atau bahkan pemimpin komunitas yang sedang menapaki kariernya.

Setiap episode flare lupus yang tidak terkendali bisa melumpuhkannya berhari-hari hingga berbulan-bulan dan bila organ vital seperti ginjal atau otak terlibat, dampaknya bisa permanen.

Beban Lupus: Angka yang Berbicara

Secara global, diperkirakan lebih dari 3,4 juta orang hidup dengan lupus, dengan sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahun.

Dalam populasi perempuan, prevalensi SLE mencapai hampir 79 per 100.000 orang di seluruh dunia sebuah angka yang jauh lebih tinggi dibanding kaum laki-laki yang hanya sekitar 9 per 100.000.

Bagi Indonesia, angka ini bukan sekadar cerminan tren global. Studi epidemiologi terkini menempatkan Indonesia dalam empat besar negara dengan jumlah perempuan pengidap lupus terbanyak di dunia, dengan estimasi lebih dari 131.000 perempuan Indonesia yang saat ini hidup bersama lupus hanya kalah dari Tiongkok, Brasil, dan Amerika Serikat.

Dan angka sesungguhnya hampir pasti lebih besar, mengingat banyaknya kasus yang belum terdiagnosis.

Data dari Hasan Sadikin Lupus Registry (HSLR) Bandung salah satu registri lupus terbesar dan paling komprehensif di Asia Tenggara yang dikembangkan oleh tim Divisi Reumatologi Unpad/RSHS menunjukkan bahwa angka ketahanan hidup 1 tahun pasien lupus di Indonesia mencapai 95,6 persen , namun menurun menjadi 89,7 persen pada 5 tahun dan 82,1 persen pada 10 tahun. ]

Penyebab kematian yang paling dominan adalah infeksi (40,8 persen ), diikuti komplikasi penyakit aktif.

Ini berbicara banyak: lupus yang tidak dikelola dengan baik membuka pintu bagi infeksi yang mematikan terutama di negara tropis seperti Indonesia di mana tuberkulosis masih menjadi ancaman nyata.

Artritis dan ruam malar (ruam kupu-kupu) tercatat sebagai manifestasi klinis tersering, sementara nefritis lupus (radang ginjal) menjadi komplikasi yang paling ditakuti karena bila tidak ditangani cepat dan tepat, ia berujung pada gagal ginjal kronik.

Indonesia masuk empat besar negara dengan perempuan pengidap lupus terbanyak di dunia.

Ini bukan sekadar statistik ini tentang anak, istri, ibu, dan saudara perempuan kita.

Ketika Lupus Merenggut Lebih dari Sekadar Kesehatan

Dampak lupus melampaui batas-batas klinis.

Perempuan usia produktif yang mengidap lupus menghadapi badai ganda: penyakit yang tidak menentu di satu sisi, dan tuntutan peran sosial yang tidak pernah berhenti di sisi lain.

Di ranah domestik, flare lupus yang tidak terprediksi membuat seorang ibu tak mampu mengurus anak, mengelola rumah tangga, atau sekadar memasak di dapur.

Kelelahan kronik yang menjadi keluhan hampir universal pada lupus kelelahan yang bahkan tidak hilang setelah tidur malam menyita energi yang justru paling dibutuhkan oleh seorang perempuan produktif.

Di ranah kerja dan karier, absensi berulang akibat flare lupus, kunjungan rutin ke poliklinik, dan efek samping pengobatan seperti moonface akibat kortikosteroid dosis tinggi semua ini berpotensi mengganggu produktivitas, bahkan memicu stigma di tempat kerja.

Tidak sedikit odapus (orang dengan lupus) yang terpaksa melepas karier atau mengurangi jam kerja akibat kondisi ini.

Di ranah reproduksi, lupus dan kehamilannya adalah isu yang sangat sensitif dan kompleks.

Kehamilan pada odapus memerlukan perencanaan matang, pengawasan ketat multidisiplin, dan pengelolaan obat yang terstandar  karena beberapa obat lupus bersifat teratogenik. 

Namun dengan penanganan yang tepat, banyak odapus dapat mengandung dan melahirkan anak yang sehat.

Di ranah psikologis, riset terkini menunjukkan bahwa sekitar 62 persen pasien lupus mengalami gangguan kualitas tidur yang bermakna, sementara depresi dan kecemasan menjadi komorbiditas psikiatri yang sangat umum memperburuk aktivitas penyakit dan menurunkan kepatuhan berobat.

Dalam konteks Indonesia, stigma sosial masih sering menambah beban: odapus sering kali menyembunyikan penyakitnya dari keluarga besar, rekan kerja, bahkan pasangan.

Mitos yang Menyesatkan: Jangan Terbuai Janji Palsu

Di sinilah titik yang paling kritis untuk disuarakan keras-keras: lupus tidak bisa disembuhkan oleh suplemen, herbal, atau terapi non-medis mana pun yang menjanjikan kesembuhan total.

Namun kenyataan di lapangan sungguh mengkhawatirkan tidak sedikit odapus yang menghentikan obat resepnya dan beralih ke produk-produk yang dipromosikan melalui testimoni media sosial, dengan klaim menggiurkan "sembuh total tanpa efek samping."

Akibatnya bisa fatal.

Menghentikan obat imunosupresan secara tiba-tiba dapat memicu flare berat yang merusak ginjal secara permanen dalam hitungan minggu. 

Beberapa produk herbal yang tidak terstandar bahkan mengandung senyawa yang justru merangsang sistem imun efek yang bertolak belakang dengan apa yang dibutuhkan tubuh penderita lupus.

Mitos lain yang perlu diluruskan: bahwa lupus pasti membuat tidak bisa menikah atau punya anak (tidak selalu benar), bahwa lupus adalah penyakit orang kaya karena butuh banyak uang (tidak benar layanan BPJS mencakup obat-obatan esensial lupus), atau bahwa odapus harus berdiam diri di rumah dan menghindari segala aktivitas (justru sebaliknya aktivitas fisik ringan teratur sangat dianjurkan dalam remisi).

Yang benar adalah: lupus bisa dikendalikan.

Dengan diagnosis yang tepat dan dini, pengobatan berbasis bukti ilmiah yang dijalankan konsisten, serta pemantauan berkala oleh dokter spesialis khususnya dokter spesialis penyakit dalam dengan kompetensi reumatologi penderita lupus dapat menjalani kehidupan yang berkualitas, bermakna, dan produktif.

Make Lupus Visible: Karena yang Tak Terlihat Pun Nyata Adanya

World Lupus Day, yang kita peringati setiap 10 Mei, hadir bukan sekadar untuk mengenakan pita ungu atau memajang poster kesadaran.

Ia hadir untuk meneriakkan sesuatu yang senyap namun mendesak: bahwa lupus adalah penyakit nyata, dengan penderitaan nyata, dengan dampak sosial-ekonomi nyata dan ia membutuhkan respons nyata dari seluruh lapisan masyarakat.

"Make Lupus Visible" bukan hanya seruan bagi penderita untuk berani tampil. Ia adalah seruan kepada keluarga untuk memahami dan mendukung, bukan menghakimi.

Seruan kepada pemberi kerja untuk tidak mendiskriminasi karyawan yang hidup dengan penyakit kronis. 

Seruan kepada tenaga medis untuk selalu mempertimbangkan lupus dalam diagnosis banding perempuan muda dengan gejala multisistem.

Dan seruan kepada pembuat kebijakan untuk memastikan akses obat, pemeriksaan laboratorium, dan layanan reumatologi yang merata hingga ke daerah.

"Lupus Doesn't Stop Us" Lupus tidak menghentikan kami. Kalimat ini bukan pengingkaran atas beratnya penyakit ini.

Ia adalah deklarasi ketangguhan: bahwa odapus bukan korban yang pasif, melainkan manusia seutuhnya yang sedang berjuang, berkarya, mencintai, dan menjalani kehidupan meski dengan tubuh yang setiap hari menuntut perhatian ekstra.

Dan "Let's Rewrite Our Life"  Mari Kita Tulis Ulang Kisah Hidup Kita adalah undangan terbuka: kepada setiap odapus untuk tidak membiarkan lupus menulis akhir cerita mereka; kepada kita semua untuk bersama membangun ekosistem yang lebih empati, lebih melek medis, dan lebih berkeadilan bagi mereka yang hidup dalam senyap namun tetap berdiri tegak.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang?

Pertama, kenali gejalanya. Ruam kupu-kupu di wajah, nyeri dan bengkak sendi berpindah-pindah, kelelahan luar biasa yang tak kunjung reda, rambut rontok berlebihan, demam berulang, sensitif terhadap sinar matahari, dan protein dalam urin jika gejala-gejala ini hadir bersamaan pada seorang perempuan muda, segeralah berkonsultasi ke dokter spesialis, jangan menunggu hingga organ terlanjur rusak.

Kedua, percayakan pengobatan kepada tenaga medis yang kompeten.

Dokter spesialis penyakit dalam utamanya yang memiliki kompetensi reumatologi adalah mitra terpercaya dalam mengelola lupus jangka panjang. 

Obat-obatan seperti hidroksiklorokuin, kortikosteroid dosis tertitrasi, dan imunosupresan tertentu telah terbukti meningkatkan kualitas dan harapan hidup odapus.

Jangan hentikan obat tanpa seizin dokter, walau kondisi terasa membaik.

Ketiga, waspadai informasi menyesatkan.

Tidak ada produk apa pun herbal, suplemen, terapi energi, atau klaim "sudah dibuktikan ribuan testimoni" yang dapat menyembuhkan lupus atau menggantikan pengobatan medis.

Alih-alih menyembuhkan, beralih ke pengobatan alternatif yang tidak terstandar sering kali justru mempercepat kerusakan organ.

Jika ragu, tanyakan kepada dokter Anda.

Keempat, bangun dukungan sosial. Lupus bukan hanya ujian fisik  ia adalah ujian psikologis dan sosial.

Kelompok dukungan sesama odapus, komunitas online yang berbasis informasi medis yang sahih, serta keterlibatan keluarga yang positif terbukti meningkatkan kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup. 

Di Indonesia, Syamsi Dhuha Foundation, Yayasan Lupus Indonesia dan Perhimpunan SLE di berbagai kota  adalah rujukan komunitas yang dapat dipercaya.

Kelima, dukung riset dan registri lupus Indonesia. Data adalah fondasi kebijakan.

Inisiatif seperti ISLET Registry (Indonesian Systemic Lupus Erythematosus Regional Registry) yang sedang dibangun di berbagai pusat rujukan nasional adalah langkah penting untuk memahami wajah asli lupus di Indonesia — agar respons kebijakan, alokasi sumber daya, dan pengembangan terapi bisa lebih tepat sasaran.

Lupus Itu Nyata, Odapus Itu Ada di Sekitar Kita

Kembali kepada perempuan muda di pembuka tulisan ini. Ia akhirnya mendapatkan diagnosis yang tepat setelah delapan bulan berpindah dokter.

Dengan pengobatan yang konsisten, ia berhasil menyelesaikan skripsinya, lulus wisuda, dan kini bekerja sebagai guru di sekolah menengah.

Lupus belum sembuh dan mungkin tidak akan pernah sembuh sepenuhnya.

Tapi ia terkendali. Dan hidupnya tetap bermakna.

Inilah wajah sejati lupus yang perlu kita kenal: bukan cerita kematian, melainkan cerita ketangguhan.

Bukan kisah kekalahan, melainkan kisah pengelolaan yang gigih. Bukan jalan buntu, melainkan jalan panjang yang bisa ditempuh asalkan dengan bekal pengetahuan yang benar, pengobatan yang tepat, dan komunitas yang mendukung.

Di Hari Lupus Sedunia ini, mari kita jadikan lupus terlihat di mata keluarga, di mata masyarakat, di mata para pengambil keputusan.

Mari kita putus rantai mitos dan ketidaktahuan, daan mari kita berdiri bersama mereka yang setiap hari berjuang dalam senyap karena mereka berhak atas kehidupan yang penuh, bermartabat, dan berdaya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved