Minggu, 31 Mei 2026

Biaya Liburan Makin Murah, Disparbud Jabar Manfaatkan Momentum Rupiah Turun Gaet Turis Asing

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai dapat menjadi peluang untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Tribun Jabar/Adi Ramadhan Pratama
KAWAH PUTIH - Wisatawan saat berada di objek wisata Kawah Putih, Kabupaten Bandung, Rabu (29/1/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai Disparbud Jawa Barat sebagai peluang emas untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara karena biaya akomodasi dan kuliner menjadi lebih kompetitif. 
  • Kunjungan wisman melalui Bandara Kertajati sepanjang 2025 masih didominasi warga Singapura dan Malaysia yang mengincar wisata kuliner serta budaya autentik. 
  • Pemprov Jabar fokus membenahi promosi digital berbahasa asing, konektivitas penerbangan, dan standar layanan destinasi.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai dapat menjadi peluang untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Barat. 

Sebagai informasi, hingga akhir Mei 2026, nilai tukar rupiah tembus Rp17.823 per dollar AS. Angka ini terus melemah sejak akhir Februari. 

Menangapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, mengatakan dengan biaya wisata yang menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing, pemerintah daerah melihat momentum ini sebagai kesempatan untuk memperkuat daya saing sektor pariwisata.

"Jawa Barat memiliki modal yang cukup kuat untuk menarik minat wisatawan mancanegara, mulai dari kekayaan alam, budaya, hingga kuliner khas daerah," ujarnya kepada Tribunjabar.id, Minggu (31/5/2026). 

Berdasarkan data Disparbud Jabar, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Kertajati sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat sebanyak 3.293 kunjungan. 

"Wisatawan asal Singapura menjadi penyumbang terbesar dengan porsi sekitar 35 persen, disusul Malaysia sebesar 9 persen," ucapnya. 

Menurut Iendra, jumlah tersebut masih dapat ditingkatkan, terutama ketika pelemahan rupiah membuat biaya perjalanan di Indonesia menjadi lebih kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara.

"Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya akomodasi, transportasi, hingga kuliner di Jawa Barat menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan asing. Ini menjadi peluang yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara," ujarnya.

Momentum serupa juga telah disoroti pemerintah pusat. Dia menyebut, Kementerian Pariwisata menilai pelemahan rupiah dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan dari negara-negara dengan mata uang yang lebih kuat.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, sebelumnya menyebut wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia memiliki daya beli yang lebih besar ketika berlibur ke Indonesia saat rupiah melemah.

Kondisi tersebut membuat berbagai produk dan layanan di Indonesia, termasuk sektor pariwisata, menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan negara asal wisatawan.

Iendra menilai Jawa Barat dapat memanfaatkan situasi itu melalui penyusunan paket wisata dengan harga yang kompetitif. 

Tidak hanya destinasi wisata, tetapi juga pengalaman wisata secara keseluruhan, mulai dari penginapan, kuliner, hingga aktivitas budaya.

"Jawa Barat memiliki banyak destinasi yang bisa dikemas menjadi paket wisata menarik dengan biaya yang relatif terjangkau bagi wisatawan asing," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved