Minggu, 17 Mei 2026

Kirab Budaya Tatar Sunda

Momen Dedi Mulyadi Tunggangi Kuda Putih di Kirab Budaya Napak Tilas Pajajaran, Diteriaki Bapa Aing

Kirab di Kota Bandung jadi penutup rangkaian Milangkala Tatar Sunda, Napak Tilas Padjadjaran yang mengarak Mahkota Binokasih.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
NAIK KUDA PUTIH - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat mengawal iring-iringan Mahkota Binokasih sambil menunggangi kuda putih dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kota Bandung, Sabtu (16/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda digelar meriah di Bandung sebagai penutup rangkaian Napak Tilas Padjadjaran yang mengarak Mahkota Binokasih.
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut mengawal Mahkota Binokasih sambil menunggangi kuda putih, menyapa masyarakat sepanjang jalur.
  • Penampilan kesenian daul Madura dengan replika kendaraan hias mencuri perhatian pengunjung.
  • Antusiasme warga sangat tinggi, dengan teriakan “Bapa Aing” menggema saat iring-iringan budaya melewati kawasan Pusdai.

TRIBUNJABAR.ID - Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda berlangsung meriah di Kota Bandung, Sabtu (16/5/2026).

Kirab di Kota Bandung jadi bagian akhir rangkaian Milangkala Tatar Sunda, Napak Tilas Padjadjaran yang mengarak Mahkota Binokasih.

Rangkaian Milangkala Tatar Sunda, Napak Tilas Padjadjaran yang mengarak Mahkota Binokasih ini, dimulai dari Kabupaten Sumedang pada 3 Mei 2026, kemudian bergerak menuju Kawali, Ciamis, Kampung Naga di Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bogor, Karawang, Depok dan Kabupaten Cirebon.

Di Kota Bandung, kirab berlangsung dengan rute sepanjang sekitar 3,5 kilometer diawali di Taman Kiara Artha Park sekitar pukul 19.30 WIB, dilanjut ke Jalan Jakarta, lalu ke Jalan Supratman, dan berakhir di Gedung Sate.

Baca juga: Kirab Budaya Napak Tilas Pajajaran, Binokasih Mulang Salaka Berakhir di Bandung

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun tak ketinggalan turut mengikuti Kirab Budaya tersebut. Dedi Mulyadi nampak mengawal iring-iringan Mahkota Binokasih sambil menunggangi kuda putih.

Di sepanjang rute kirab, Dedi Mulyadi pun menyapa ribuan warga yang memadati pinggir jalan sepanjang jalur kirab. Warga memang sudah memadati jalur kirab sejak sore hari.

Kirab Budaya Napak Tilas Pajajaran perdana berlangsung Sabtu malam (2/5/2026) dimulai dari kawasan Gedung Negara dan Museum Geusan Ulun menuju pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang dengan jarak tempuh sekitar 2–3 kilometer.
Kirab Budaya Napak Tilas Pajajaran perdana berlangsung Sabtu malam (2/5/2026) dimulai dari kawasan Gedung Negara dan Museum Geusan Ulun menuju pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang dengan jarak tempuh sekitar 2–3 kilometer. (Diskominfo Jabar)

Nampak anak-anak duduk di pundak ayahnya, sementara para ibu mengangkat telepon genggam, merekam iring-iringan budaya yang bergerak perlahan dengan arus panjang warna-warni tradisi.

Di tengah keramaian itu, Dedi Mulyadi tampak gagah menunggangi kuda putih di barisan depan, menyapa warga dengan senyum lebar, sesekali melambaikan tangan ke arah anak-anak yang memanggil namanya dari tepi jalan.

Di belakangnya, kereta kencana melaju perlahan. Roda besarnya berdecit pelan di atas aspal, diiringi barisan panjang parade budaya dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat serta perwakilan dari Provinsi lain seperti Bali, Aceh, DKI Jakarta, Surakarta, Jogjakarta, Ponorogo, hingga Tegal dan Brebes.

Selain itu, terlihat juga Sejumlah tokoh dan kepala daerah ikut dalam rombongan seperti Raja Karaton Sumedang Larang, Paduka Yang Mulia Sri Radya HRI Lukman Soemadisoeria, bersama beberapa kepala daerah seperti Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, serta beberapa pejabat daerah lainnya.

Daul Madura Curi Perhatian

Penampilan kesenian daul khas Madura menjadi satu di antara yang paling menyita perhatian dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kota Bandung saat persiapan di Kiara Artha Park, Sabtu (16/5/2026). 

Baca juga: Daul Madura Curi Perhatian di Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda

Replika kendaraan hias raksasa setinggi 9,5 meter dengan tabuhan musik perkusi dan gemerlap lampu warna-warni membuat masyarakat berkerumun menyaksikan penampilannya. Mereka silih bergantian untuk bisa berswafoto di dekat daul. 

Dentuman musik tradisional berpadu dengan trompet, drum, dan alat musik tong-tong mengiringi laju replika daul di sepanjang jalur parade. Bentuknya yang besar dengan ornamen khas Madura membuat tampilannya megah dan mencolok dibanding peserta lainnya.

Perwakilan dari Sanggar Citra Sampang, Fiki Arianto (28), mengatakan, daul yang mereka bawa merupakan kesenian khas Madura. 

BEBGIG - Bebegig asal Ciamis dalam Kirab budaya Milangkala Tatar Sunda, Sabtu (16/5/2026) malam.
BEBGIG - Bebegig asal Ciamis dalam Kirab budaya Milangkala Tatar Sunda, Sabtu (16/5/2026) malam. (Tribun Jabar/Nappisah)

Kesenian daul awalnya berasal dari budaya tong-tong atau kentongan bambu yang digunakan warga untuk membangunkan sahur pada bulan Ramadan. “Kalau dulu filosofinya dipakai untuk bangunin sahur. Dulu daul itu terbentuk dari alat seadanya, dari barang bekas, biasanya bambu,” kata Fiki kepada TribunJabar.id, Sabtu.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved