Minggu, 17 Mei 2026

Daul Madura Curi Perhatian di Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda

Penampilan kesenian daul khas Madura menjadi satu di antara yang paling menyita perhatian dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Giri
Tribun Jabar/Nappisah
Daul dari Madura iku menyemarakkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kota Bandung, Sabtu (16/5/2026). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penampilan kesenian daul khas Madura menjadi satu di antara yang paling menyita perhatian dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kota Bandung saat persiapan di Kiara Artha Park, Sabtu (16/5/2026). 

Replika kendaraan hias raksasa setinggi 9,5 meter dengan tabuhan musik perkusi dan gemerlap lampu warna-warni membuat masyarakat berkerumun menyaksikan penampilannya. Mereka silih bergantian untuk bisa berswafoto di dekat daul. 

Dentuman musik tradisional berpadu dengan trompet, drum, dan alat musik tong-tong mengiringi laju replika daul di sepanjang jalur parade. Bentuknya yang besar dengan ornamen khas Madura membuat tampilannya megah dan mencolok dibanding peserta lainnya.

Perwakilan dari Sanggar Citra Sampang, Fiki Arianto (28), mengatakan, daul yang mereka bawa merupakan kesenian khas Madura. 

Baca juga: Ratusan Warga Padati Jalan Pusdai, Antusias Saksikan Kirab Budaya Napak Tilas Pajajaran

Kesenian daul awalnya berasal dari budaya tong-tong atau kentongan bambu yang digunakan warga untuk membangunkan sahur pada bulan Ramadan. “Kalau dulu filosofinya dipakai untuk bangunin sahur. Dulu daul itu terbentuk dari alat seadanya, dari barang bekas, biasanya bambu,” kata Fiki kepada TribunJabar.id, Sabtu.

Seiring perkembangan zaman, kesenian tersebut mengalami inovasi dengan memadukan alat musik modern dan dekorasi artistik. 

Kini, daul tampil sebagai pertunjukan musik sekaligus kendaraan hias raksasa dengan tata cahaya yang meriah.

Menurut Fiki, tinggi replika yang dibawanya mencapai 9 hingga 9,5 meter ketika seluruh bagian dipasang lengkap.

Di dalam struktur besar itu terdapat sejumlah personel yang memainkan alat musik secara langsung.

“Di atas ini isi orang semua, alat musik semua,” katanya.

Struktur daul, kata dia, terdiri atas beberapa tingkatan yang digunakan untuk menempatkan para pemain musik. 

“Kami juga bawa rombongan penari yang nantinya tampil di depan untuk menambah semarak pertunjukan,” tuturnya. 

Tak hanya tampil megah, proses pembuatannya pun memakan waktu cukup lama. 

Baca juga: Tiga Jam Dihias Cantik, Puluhan Delman Bergaya untuk Arak-Arakan Kirab Budaya di Bandung

Fiki mengatakan, pengerjaan ukiran dilakukan secara manual selama sekitar tiga bulan. Sedangkan proses pengecatan membutuhkan waktu satu bulan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved