Kamis, 23 April 2026

Sensus Ekonomi 2026 Jadi ‘Senjata’ Baca Peluang Usaha

Pemerintah menyiapkan Sensus Ekonomi 2026 sebagai dasar memetakan peluang usaha sekaligus menentukan arah kebijakan ekonomi.

Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Nappisah
SOSIALISASI - Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, saat sosalisasi Sensus Ekonomi 2026 di Kota Bandung, Kamis (23/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah menyiapkan Sensus Ekonomi 2026 sebagai dasar memetakan peluang usaha sekaligus menentukan arah kebijakan ekonomi
  • Hasil sensus ini akan dimanfaatkan tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh pelaku usaha dan masyarakat luas
  • Mengacu pada Sensus Ekonomi 2016, struktur usaha di Jawa Barat didominasi oleh pelaku usaha mikro kecil (UMK) yang mencapai sekitar 4,5 juta unit, sementara usaha menengah dan besar tercatat sebanyak 523.373 unit.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah menyiapkan Sensus Ekonomi 2026 sebagai dasar memetakan peluang usaha sekaligus menentukan arah kebijakan ekonomi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan, hasil sensus ini akan dimanfaatkan tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh pelaku usaha dan masyarakat luas.

“Partisipasi ini akan berkontribusi terhadap pengumpulan data yang akurat, sehingga nanti sensus ekonominya bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin, bukan hanya untuk pemerintah tetapi juga untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya, di Balai Kota Bandung, Kamis (23/4/2026). 

Dia menjelaskan, sensus ekonomi merupakan amanat undang-undang yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, dengan pelaksanaan terakhir pada 2016 dan kembali digelar pada 2026. 

"Berbeda dengan survei yang menggunakan sampel, sensus akan mencatat seluruh aktivitas ekonomi tanpa terkecuali," imbuhnya. 

Mengacu pada Sensus Ekonomi 2016, struktur usaha di Jawa Barat didominasi oleh pelaku usaha mikro kecil (UMK) yang mencapai sekitar 4,5 juta unit, sementara usaha menengah dan besar tercatat sebanyak 523.373 unit.

"Secara keseluruhan, sektor ini menyerap sekitar 13 juta tenaga kerja, terutama di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bogor," kata dia. 

Namun, menurut dia, data tersebut sudah tidak lagi mencerminkan kondisi terkini. 

Perubahan besar terjadi, terutama setelah pandemi Covid-19, yang mendorong munculnya berbagai model bisnis baru berbasis digital.

“Dulu mungkin tidak ada ekonomi digital seperti sekarang. Sekarang banyak yang berjualan lewat platform online seperti Shopee, Tokopedia, tanpa harus punya toko fisik. Dari rumah pun bisa menghasilkan aktivitas ekonomi,” jelasnya.

Karena itu, pada Sensus Ekonomi 2026, seluruh jenis aktivitas ekonomi akan didata, baik usaha yang memiliki lokasi fisik, usaha keliling, hingga usaha berbasis rumah tangga dan digital. 

Langkah ini dilakukan untuk memotret struktur ekonomi secara lebih utuh dan terkini.

"Data yang dikumpulkan nantinya mencakup informasi detail usaha, karakteristik bisnis, hingga data ekonomi seperti pendapatan, pengeluaran, dan aset," kata dia. 

Bahkan, kata dia, BPS juga akan mengumpulkan data sosial ekonomi rumah tangga saat melakukan pendataan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved