Sabtu, 16 Mei 2026

Imlek 2026

Pesan di Tahun Kuda Api: Kendalikan "Kuda Liar" dengan Kebajikan dan Etika

Karakter simbol kuda yang dipadukan unsur api menggambarkan energi besar, tetapi juga potensi gejolak yang sulit dikendalikan.

Tayang:
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
Wakil Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin),Fam Kiun Fat saat wawancara dengan Tribun Jabar. 

Ringkasan Berita:
  • Wakil Ketua Makin, Fam Kiun Fat (Akiun), mengingatkan bahwa Tahun Kuda Api 2026 penuh dengan energi besar namun berisiko gejolak tak terduga dalam ekonomi dan politik. 
  • Masyarakat diimbau berhati-hati dalam berspekulasi bisnis serta kembali menguatkan etika keluarga dan kebajikan sebagai dasar kehidupan.
  •  Akiun menekankan bahwa keteladanan pemimpin dan pemenuhan kebutuhan pangan adalah kunci stabilitas di tengah tahun yang penuh kejutan ini.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Memasuki Tahun Kuda Api 2026, Wakil Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin), Fam Kiun Fat atau Akiun, mengingatkan masyarakat untuk menghadapi tahun ini dengan kewaspadaan, kebajikan, dan penguatan etika sosial.

Menurutnya, karakter simbol kuda yang dipadukan unsur api menggambarkan energi besar, tetapi juga potensi gejolak yang sulit dikendalikan.

“Kuda itu susah dikendalikan, apalagi kuda api liar. Jadi tahun 2026 kemungkinan banyak kejutan dan gejolak, sesuatu yang tidak terduga,” kata Akiun saat  podcast bersama Tribun Jabar, Selasa (17/2/2026).

Ia menilai kondisi tersebut bisa tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, hingga dinamika sosial.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu berspekulasi dalam mengambil keputusan, terutama terkait investasi atau bisnis.

“Kalau mau berspekulasi modal, pikirkan matang-matang. Jangan terlalu berani berspekulasi,” ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa nasib tidak semata ditentukan simbol astrologi. Dalam ajaran Konghucu, kebajikan dan kejujuran tetap menjadi faktor utama yang menentukan kualitas hidup seseorang.

“Hitungan itu hanya hitungan, balik lagi ke kebajikan. Kalau banyak berbuat baik, hal-hal buruk bisa lebih ringan,” katanya.

Akiun juga menyoroti persoalan sosial di Indonesia yang menurutnya banyak berkaitan dengan menurunnya etika, terutama dalam pendidikan keluarga.

“Kelemahan kita sekarang etika sudah luntur. Pendidikan keluarga itu paling penting, kalau dari rumahnya kurang, ke sekolah dan masyarakat juga terbawa,” ujarnya.

Ia mencontohkan fenomena orang tua yang memberi teladan kurang baik kepada anak, seperti melanggar aturan lalu lintas atau kurang menghormati nilai kedisiplinan.

“Kalau anak diajarkan melanggar aturan sejak kecil, dia akan anggap aturan itu remeh. Makanya sekarang banyak tawuran dan konflik sosial,” katanya.

Selain keluarga, ia juga menekankan pentingnya keteladanan pemimpin dan penegakan hukum yang tegas. Menurutnya, tiga faktor utama untuk memperbaiki kondisi sosial adalah etika keluarga, teladan pemimpin, dan hukum yang konsisten.

“Pemimpin harus memberi contoh, hukum juga harus tegas. Kalau tiga hal itu jalan, masyarakat lebih tertib,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved