Minggu, 17 Mei 2026

Pengembangan Geothermal Jadi Kunci Pemerataan Energi Bersih di Jawa Barat

Area eksplorasi yang digunakan sangat terbatas hanya sekitar 0,02 persen dari total luas taman nasional

Tayang:
Istimewa
KAWASAN TNGGP - Pengembangan geothermal di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dilakukan berdasarkan kajian ilmiah berlapis dan perizinan yang ketat. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerataan energi bersih menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, sebagai Provinsi berpenduduk terbesar dengan tingkat industrialisasi tinggi.

Saat ini, Pemerintah pusat tengah mendorong pengembangan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan pendekatan ilmiah, koordinasi lintas kementerian, serta perencanaan konservasi yang ketat.

PLTP adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan panas alami dari dalam bumi. Panas tersebut muncul karena aktivitas geologi di daerah vulkanik, menghasilkan uap atau air bersuhu tinggi. Uap panas ini kemudian digunakan untuk memutar turbin, yang akhirnya menggerakkan generator agar bisa menghasilkan listrik.

Panas bumi juga menjadi sumber energi terbarukan yang vital karena bersifat stabil, dapat beroperasi 24 jam, memiliki emisi karbon yang sangat rendah, serta ketersediaannya melimpah di Jawa Barat.

Baca juga: Star Energy Geothermal Dorong Mahasiswa Unpad Raih Mimpi Lewat Beasiswa Prestasi

Salah satu proyek yang kini berjalan adalah pengembangan geothermal di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), yang dilakukan berdasarkan kajian ilmiah berlapis dan perizinan yang ketat.

Sejak 2022, sejumlah tahapan telah dilakukan mulai dari survei geofisika, geologi, geokimia, pembukaan akses jalan, hingga verifikasi penggunaan lahan pada zona pemanfaatan.

Proyek ini berada di Wilayah Kerja Panas Bumi Cipanas berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 2778 K/30/MEM/2014.

Kepala Balai Besar TNGGP, Arief Mahmud mengatakan, area eksplorasi yang digunakan sangat terbatas hanya sekitar 0,02 persen dari total luas taman nasional, tanpa melibatkan pembukaan hutan primer atau ruang ekologis penting.

“Yang digunakan adalah lahan eksisting, bukan kawasan hutan di zona inti. Prinsip konservasi tetap menjadi dasar, dan masyarakat juga dilibatkan sebagai mitra,” ujar Arief Mahmud, Sabtu (29/11/2025).

Subkoordinator Penyiapan dan Evaluasi, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Andi Susmanto mengatakan, secara teknis, seluruh kegiatan mengikuti standar internasional, mulai dari desain sumur berlapis casing, sistem blowout preventer (BOP), pemantauan hidrologi, hingga kajian geoteknik.

“Setiap tahapan harus melalui evaluasi risiko dan memenuhi standar konservasi,” ujar Andi. 

Sementara itu, staf Khusus Menteri ESDM, Pradana Indraputra, menegaskan bahwa pengembangan geothermal merupakan bagian penting dalam perjalanan menuju target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Baca juga: Star Energy Geothermal Serahkan Beasiswa Prestasi untuk Mahasiswa Politeknik Negeri Bandung

“Geothermal bukan sekadar visi, tetapi upaya nyata menuju NZE. Pemerintah berkomitmen penuh mencapai kemandirian energi nasional dan keberlanjutan program energi rendah karbon,” ujar Pradana. 

PLTP, kata dia, menjadi milestone penting karena mampu mengalirkan listrik sekaligus menurunkan emisi karbon sektor kelistrikan secara signifikan. Keberhasilan proyek ini juga dapat direplikasi di wilayah lain sebagai fondasi menuju swasembada energi bersih

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved