Pengamat dari ITB: Percepatan KA Jakarta-Bandung Terkendala Double Track dan Biaya Besar
Menurut Sony, langkah tersebut janggal mengingat PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga terlibat dalam pengelolaan Whoosh
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono, menilai rencana pengoperasian Kereta Api Kilat Pajajaran untuk rute Jakarta–Bandung justru berpotensi kontraproduktif jika tujuannya menyaingi layanan Kereta Cepat Whoosh.
Menurut Sony, langkah tersebut janggal mengingat PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga terlibat dalam pengelolaan Whoosh, dan tengah berupaya meningkatkan jumlah penumpang untuk menutupi beban utang serta menjaga kualitas layanan.
“Agak aneh kalau alasannya untuk menyaingi Whoosh. PT KAI itu kan juga berusaha keras menaikkan penumpang Whoosh supaya bisa menutup utang dan menjaga kualitas pelayanannya."
"Kalau kemudian membuat layanan baru yang jadi saingan sendiri, ini malah kontraproduktif. Beban utang Whoosh bisa makin sulit,” kata Sony, kepada Tribunjabar.id, Kamis (27/11/2025).
Ia menjelaskan, bila yang ingin dikejar adalah pemangkasan waktu tempuh KA konvensional Jakarta–Bandung menjadi 1 hingga 1,5 jam, maka peningkatan infrastruktur wajib dilakukan secara serius.
Salah satunya dengan membangun jalur ganda penuh (double track) dari Cikampek sampai Padalarang.
Baca juga: Hanya 1 Jam 30 Menit: Percepatan Kereta Jakarta–Bandung Buat Pelaku Wisata Jabar Optimis
Konsekuensinya, kata dia, diperlukan pembangunan jembatan dan terowongan baru yang tidak sederhana dan memerlukan biaya besar.
“Apakah PT KAI akan berutang lagi, atau sebagian dibantu Pemprov Jawa Barat?” ujarnya.
Sony menyarankan, jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki anggaran, sebaiknya dialokasikan untuk mendukung percepatan revitalisasi jalur kereta yang sebelumnya sudah diusulkan, khususnya jalur Banjar–Pangandaran–Pamulang.
Menurut dia, jalur tersebut justru lebih prioritas dan strategis untuk pengembangan wilayah selatan Jawa Barat dibandingkan memaksakan layanan KA Kilat Pajajaran.
Ia juga menyebut bahwa pembangunan jaringan perkeretaapian pada dasarnya merupakan tanggung jawab pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
Sebagai regulator, tambah Sony, Kemenhub dinilai akan kesulitan apabila harus mengatur dua layanan kereta yang beroperasi pada relasi sama tetapi saling berebut penumpang.
Kerja Sama Pemprov Jabar-PT KAI
Pemerintah Provinsi Jawa Barat meneken kesepakatan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait pengembangan layanan perkeretaapian di wilayah Jawa Barat.
Salah satu poin utama dalam kerja sama tersebut adalah pengoperasian kereta pariwisata yang menghubungkan Jakarta–Bogor–Sukabumi–Cianjur, yang dijadwalkan akan dirilis secara resmi pada pertengahan Desember 2025 berdasarkan keterangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov Jabar.
Selain itu, kerja sama juga mencakup pengoperasian Kereta Api Kilat Pajajaran untuk rute Jakarta–Bandung.
| Bandara Husein Sastranegara Didesak Fokus ke Rute Jarak Pendek dengan Pesawat Baling-baling |
|
|---|
| Soal Pembukaan Bandara Husein Sastranegara, Sony Suaksono Soroti Akses dan Koordinasi |
|
|---|
| Hanya 1 Jam 30 Menit: Percepatan Kereta Jakarta–Bandung Buat Pelaku Wisata Jabar Optimis |
|
|---|
| Uji Coba Traffic Light AI Tak Akan Efektif Urai Kemacetan, Pakar ITB: Tahun 2000 Sudah Diterapkan |
|
|---|
| Traffic Light AI di Bandung Tak Akan Efektif Urai Kemacetan, Pengamat Ungkap Masalahnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/whoosh-padalarang.jpg)