Selasa, 28 April 2026

Fase Usia Anak Paling Rentan Alami Dampak Fatherless, Ada Tiga

Psikolog Miryam A Sigarlaki mengungkapkan, dampak fatherless muncul secara seragam di setiap tahap perkembangan anak.

Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Giri
Tribun Jabar
Ilustrasi - Psikolog Miryam A Sigarlaki mengungkapkan, dampak fatherless muncul secara seragam di setiap tahap perkembangan anak. Ada sejumlah fase usia kritis yang membuat anak lebih rentan secara psikologis ketika peran ayah tidak hadir, baik secara fisik maupun emosional. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Psikolog Miryam A Sigarlaki mengungkapkan, dampak fatherless muncul secara seragam di setiap tahap perkembangan anak. Ada sejumlah fase usia kritis yang membuat anak lebih rentan secara psikologis ketika peran ayah tidak hadir, baik secara fisik maupun emosional.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Kota Cimahi, ini menjelaskan, fase pertama yang paling krusial terjadi pada usia 0–3 tahun.

“Di usia ini anak sedang membentuk secure dan insecure attachment. Konsistensi kehadiran serta kepekaan orang dewasa sangat menentukan rasa aman dasar anak ke depannya,” kata Miryam saat dihubungi, Sabtu (29/11/2025).

Pada fase ini, ketidakhadiran ayah belum dipahami anak secara kognitif. Namun, dampaknya terlihat melalui pola kelekatan dan kemampuan regulasi emosi. 

Baca juga: Fenomena Fatherless di Indonesia Tinggi, Psikolog Ungkap Dampak Serius bagi Ibu dan Anak

Fase kritis berikutnya muncul pada usia 7–12 tahun atau usia sekolah. Menurut Miryam, pada tahap ini anak mulai aktif membandingkan kondisi keluarganya dengan keluarga teman sebaya.

“Pertanyaan seperti ‘kenapa ayahku tidak ada?’ mulai muncul. Anak bahkan bisa menyimpulkan, ‘apa ini salah aku?’ Dalam fase ini, dampak fatherless dapat tampak dalam bentuk rasa malu, menarik diri dari pergaulan, atau justru overcompensation, di mana anak berusaha tampil sangat kuat untuk menutupi perasaan kehilangan,” ujarnya.

Sementara pada masa remaja, usia 12–18 tahun, anak berada pada tahap pembentukan identitas diri dan eksplorasi relasi. 

Ketiadaan figur ayah dapat memunculkan kebingungan identitas, terutama terkait maskulinitas, femininitas, serta hubungan dengan lawan jenis.

“Pada remaja, fatherless sering tampak dalam pencarian figur ayah pengganti. Sayangnya, ini kadang hadir dalam bentuk relasi yang berisiko,” kata Miryam.

Di fase ini pula remaja menjadi lebih rentan terhadap tekanan teman sebaya dan perilaku berisiko. 

Miryam juga menyoroti pengaruh kuat budaya patriarki di Indonesia terhadap ibu yang menjadi kepala keluarga. 

Baca juga: Siti Muntamah Oded Bicara Soal Fatherless, Sosok Ayah Penting dan Tak Tergantikan

Pandangan bahwa ayah adalah sosok ideal sebagai kepala keluarga membuat ibu kerap harus “melawan arus”.

“Beban psikologisnya bertambah, merasa harus dua kali lebih kuat, enggan meminta bantuan karena takut dicap lemah,” tuturnya.

Beban psikologis yang dialami ibu kepala keluarga, lanjut Miryam, sangat berpengaruh terhadap pola asuh dan kesehatan mental anak. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved