Jumat, 29 Mei 2026

Kapan Anak Boleh Main Gadget? Ini Panduan IDAI Agar Terhindar dari Speech Delay dan Virtual Autism

Anggota IDAI dr. Farid Agung Rahmadi ingatkan risiko virtual autism, speech delay, dan gangguan kognitif akibat paparan gadget pada balita.

Tayang:
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Ravianto
freepik
VIRTUAL SPEECH - Ilustrasi anak menggunakan headphone. Anggota IDAI dr. Farid Agung Rahmadi ingatkan risiko virtual autism, speech delay, dan gangguan kognitif akibat paparan gadget pada balita. Simak tips pendampingannya. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Paparan gadget pada anak kini seolah menjadi keniscayaan.

Di tengah gencarnya pemasaran perangkat digital, maraknya program bayi hingga balita di platform digital, serta kemudahan akses video game portabel, anak-anak semakin sulit terhindar dari layar. 

Namun di balik kemudahan itu, tersimpan risiko yang tak bisa diabaikan.

gota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS (K), mengingatkan bahwa gadget ibarat pisau bermata dua.

“Memang ada manfaatnya, tapi banyak sekali risikonya. Pertanyaannya, di usia berapa anak bisa mengambil manfaat dari screen time dan bagaimana caranya supaya anak dapat manfaat tanpa mudarat,” ujar dr. Farid, dalam wawancara virtual bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (24/2/2026).

Menurut dr. Farid, peningkatan paparan gadget pada anak dipengaruhi berbagai faktor. 

Baca juga: TERUNGKAP, Pemicu Ibu Tiri di Sukabumi Paksa Anak Minum Air Panas sampai Tewas: Bela Anak Angkat

Selain nilai ekonomi yang besar dari industri gadget dan konten digital, ada pula “kamuflase stimulasi” yang membuat orang tua percaya bahwa pengalaman digital memberikan manfaat yang sulit diperoleh di dunia nyata.

“Gabungan antara nilai ekonomi dan kamuflase stimulasi ini membuat paparan gadget pada anak semakin meningkat,” jelasnya.

Tak sedikit orang tua beralasan bahwa screen time memiliki nilai edukasi. 

Anak dianggap mendapatkan pembelajaran tambahan dari konten yang ditonton. Selain itu, gadget juga sering dijadikan alat untuk menenangkan anak.

“Ketika anak menjadi lebih tenang, orang tua punya kesempatan menyelesaikan pekerjaan rumah atau tugas lainnya. Ini yang akhirnya meningkatkan paparan screen time,” katanya.

Dokter Farid menegaskan, screen time berlebihan tidak hanya soal lamanya waktu menatap layar. Konten tanpa seleksi, tidak adanya pendampingan, hingga posisi tubuh anak yang diam lebih dari satu jam juga termasuk kategori berisiko.

“Orang tua tidak cukup hanya duduk di sebelah anak. Harus aktif menjembatani apa yang dilihat di layar dengan keterampilan yang bisa dipraktikkan di dunia nyata,” tegasnya.

Dampaknya pun tidak ringan, dalam jangka pendek, terutama pada balita dan anak di bawah dua tahun, paparan berlebihan dapat menyebabkan keterlambatan motorik, gangguan bahasa atau speech delay, hingga gangguan kognitif.

“Ada istilah virtual autism, yaitu kondisi autis-like akibat paparan layar berlebihan. Mirip autisme, tetapi dipicu kurangnya stimulasi interaksi nyata,” jelas dr. Farid.

Selain itu, paparan blue light dari layar dapat mengganggu hormon melatonin sehingga anak sulit tidur.

Dalam jangka panjang, kebiasaan screen time berlebihan dikaitkan dengan gangguan fokus, prestasi akademik menurun, risiko obesitas, hingga penyakit tidak menular.

Ia menjelaskan kelompok paling rentan terhadap dampak screen time adalah anak di bawah dua tahun. 

Masa ini dikenal sebagai golden period, ketika otak tumbuh dan berkembang sangat cepat.

“Pada saat golden period, kalau anak justru kurang stimulasi dari lingkungan nyata karena digantikan layar, maka keterampilan perkembangan tidak terstimulasi optimal,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengenalan gadget yang terlalu dini dan durasi berlebihan “hampir pasti” meningkatkan risiko gangguan perkembangan.

Meski ada anggapan konten edukasi bisa menjadi faktor protektif, dr. Farid mengingatkan bahwa kualitas penelitian tentang konten digital sangat bervariasi.

“Harus hati-hati menafsirkan bahwa semua konten pendidikan itu bermanfaat. Kata-katanya masih mungkin bermanfaat,” katanya.

Faktor protektif yang lebih kuat justru adalah pendampingan orang tua. Sayangnya, tren penggunaan gadget soliter seperti ponsel dan tablet membuat pendampingan semakin menurun.


“Jangan gunakan media layar sebagai satu-satunya cara menenangkan anak. Jangan pula memaparkan screen time satu jam sebelum tidur karena mengganggu melatonin,” ujar dr Farid.

Ia juga mengingatkan pentingnya zona bebas layar di rumah, seperti kamar tidur, waktu makan, dan waktu bermain bersama keluarga.

“Orang tua juga harus menjadi role model. Ketika anak tidak diperbolehkan bermain gadget, orang tua pun jangan memainkan gadget di depan anak,” tegasnya.

Ringkasan:

  • Fenomena Kamuflase Stimulasi: Orang tua sering terjebak anggapan bahwa konten digital adalah edukasi terbaik, padahal interaksi nyata tetap tak tergantikan.
  • Risiko Virtual Autism: Paparan layar berlebih pada balita dapat memicu gejala mirip autisme (autism-like) karena kurangnya stimulasi komunikasi dua arah.
  • Dampak Kesehatan Nyata: Selain speech delay (keterlambatan bicara), paparan blue light sebelum tidur mengganggu hormon melatonin yang membuat anak sulit tidur.
  • Golden Period (0–2 Tahun): Ini adalah masa paling rentan; gadget di usia dini hampir pasti mengganggu perkembangan otak yang sedang tumbuh pesat.

Aturan Main untuk Orang Tua:

  • Dampingi secara Aktif: Jangan hanya duduk di sebelah anak, tapi bantu hubungkan konten layar dengan dunia nyata.
  • Role Model: Orang tua harus memberi contoh dengan tidak bermain gadget di depan anak.
  • Zona Bebas Layar: Larang penggunaan gadget di kamar tidur, meja makan, dan waktu bermain keluarga.
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved