Dada Panas dan Mulut Asam Saat Ramadan Waspadai Gejala GERD
Dikatakan Prof. Julianto, GERD yang tidak ditangani bisa menyebabkan komplikasi serius, salah satunya Barrett esofagus
TRIBUNJABAR.ID - BANDUNG - Memasuki bulan Ramadan, keluhan dada terasa panas dan mulut asam kerap muncul, terutama saat pola makan berubah.
Kendati demikian, keluhan ini jangan dianggap sepele. Bisa jadi itu merupakan gejala gastroesophageal reflux disease atau GERD, penyakit asam lambung yang naik ke kerongkongan.
Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis Gastroenterologi Hepatologi (KGEH) Santosa Hospital Bandung Central, Prof. dr. Julianto Widjojo, Sp.PD-KGEH, FINASIM, AGAF menjelaskan, GERD merupakan penyakit kronis pada saluran pencernaan.
“Ini penyakit kronis yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke atas, ke kerongkongan, secara terus-menerus,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini terjadi karena otot katup di bagian bawah kerongkongan, atau yang dalam istilah medis disebut lower esophageal sphincter (LES), melemah dan tidak menutup rapat. Akibatnya, isi lambung bisa naik kembali.
“Asam lambung itu mengiritasi dinding kerongkongan. Sel lambung tahan asam, tapi sel kerongkongan tidak tahan. Kalau kena asam terus-menerus bisa erosi dan luka,” jelasnya. Gejala paling khas GERD adalah rasa panas di dada yang dikenal sebagai heartburn, disertai rasa asam di mulut.
“Waktu asam lambung naik dan mengiritasi kerongkongan, timbul rasa panas di dada seperti terbakar. Karena asamnya bisa sampai ke mulut, maka mulut terasa asam,” kata Prof. Julianto.
Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua keluhan asam lambung langsung disebut GERD. Jika hanya terjadi sekali dua kali dan membaik sendiri, biasanya bukan GERD. “Kalau cuma sekali dua kali lalu sembuh, mungkin karena salah makan atau stres. Tapi kalau berlangsung lama, sampai dua jam misalnya, dan terjadi terus-menerus lebih dari dua minggu, itu baru kita curiga GERD,” tegasnya.
Masyarakat sering menyamakan GERD dengan maag. Padahal keduanya berbeda.
“Kalau maag itu sebetulnya istilah dari bahasa Belanda, artinya lambung. Dalam kedokteran disebut dispepsia. Keluhannya di lambung saja, seperti nyeri perut, kembung, cepat lapar,” paparnya.
Sedangkan GERD melibatkan refluks asam lambung yang naik ke kerongkongan. Jika berlangsung lama, bisa menyebabkan radang kerongkongan.
“Kalau asam lambung naik sampai lebih tinggi lagi ke laring, bisa memicu batuk-batuk. Kadang pasien datang bukan karena dada panas, tapi karena batuk terus,” ujarnya.
Batuk akibat GERD umumnya kering dan disertai suara serak. Bila sudah lama, bisa muncul sedikit lendir berwarna putih.
Belakangan sempat beredar kabar di media sosial tentang GERD yang dikaitkan dengan henti jantung. Menangapi hal tersebut, Prof. Julianto menyebut, kondisi itu bisa terjadi dalam keadaan tertentu, meski bukan penyebab langsung.
Ia menjelaskan, jantung, paru-paru, dan lambung disarafi oleh satu saraf yang sama, yakni nervus vagus.
| Bau Mulut dan Sariawan Jangan Dianggap Sepele, Bisa Menjadi Tanda Gangguan Kesehatan |
|
|---|
| Panik Saat Anak Kejang? Kenali Penyebab dan Pertolongan Pertamanya |
|
|---|
| Hadiah Dedi Mulyadi untuk Firoos Remaja Jenius di Subang yang Bobol Sistem NASA |
|
|---|
| Program Light Up The Dream PLN Bekasi Hadirkan Listrik Gratis bagi Warga Kurang Mampu di Ramadan |
|
|---|
| PLN Tasikmalaya Berbagi Kebahagiaan Ramadan Melalui Kegiatan Berbagi Takjil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Dokter-spesialis-penyakit-dalam-Santosa-Hospital-Bandung-Prof-dr-Julianto-Widjojo.jpg)