Seminar “It’s Okay Not to Be Okay” Ajak Masyarakat Peduli Pada Kesehatan Mental
Kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental (mental health) semakin penting di tengah meningkatnya tuntutan hidup modern
Kadang orang tidak paham dengan sendirinya. Di sinilah butuh seorang ahli atau profesional. Jadi jangan sampai sudah pada taraf merasa tidak nyaman baru datang ke psikiater atau psikolog.”
Pendekatan tersebut kemudian diperkuat melalui kisah seorang penyintas kesehatan mental, Faqih N Umam, yang membagikan pengalamannya melewati masa krisis.
Melalui ceritanya, peserta diajak memahami bahwa proses pemulihan merupakan perjalanan yang bertahap dan sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri, dukungan keluarga, serta lingkungan yang memberikan rasa aman tanpa stigma.
Perspektif praktis dari sisi keluarga disampaikan oleh Hindrawati dan Bagus Utomo, caregiver yaitu orang terdekat yang memiliki pengalaman mendampingi anggota keluarga tercintanya saat menghadapi krisis kesehatan mental.
Keduanya menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini, menjaga komunikasi yang empatik, serta menciptakan lingkungan keluarga yang suportif sebagai fondasi dalam proses pemulihan jangka panjang.
Seminar ini diawali dengan pemutaran film bertema kesehatan mental yang mengisahkan perjalanan seseorang dalam menghadapi stigma serta proses pemulihan.
Selama rangkaian acara, peserta juga dapat mengunjungi area bazar yang menghadirkan berbagai tenant, menciptakan suasana yang lebih terbuka dan nyaman bagi interaksi di sela-sela kegiatan seminar.
Acara dilanjutkan dengan seminar dan diskusi panel interaktif, di mana peserta dapat bertanya langsung kepada psikolog, psikiater, penyintas, dan keluarga pendamping.
Dialog terbuka ini mendorong peserta tidak hanya memahami isu kesehatan mental secara lebih mendalam, tetapi juga merasa menjadi bagian dari komunitas yang peduli dan saling mendukung.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kesehatan mental bukanlah isu yang tabu, melainkan bagian penting dari kehidupan manusia yang perlu mendapatkan perhatian bersama.
Setiap orang dapat mengalami masa-masa sulit dan kerentanan emosional, namun hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya.
”Keluarga adalah lini pertama, bagaimana membentuk karakter anak dan karakter manusia. Kalau keluarga tidak membentuk dengan karakter yang baik, kemungkinan anak akan mencari pelampiasan yang lain. Kita harus memperbaiki pola hidup, pola pikir sehingga jiwa kita agar tertata dengan baik,” ungkap Ketua Yayasan Astri Bakti Insani, Bagus Jatmiko.
Dukungan dari keluarga, teman, lingkungan kerja, maupun tenaga profesional menjadi hal yang paling berharga dalam proses pemulihan.
Dengan membuka ruang diskusi, berbagi pengalaman, dan memberikan edukasi, seminar ini diharapkan bisa menghapus stigma, meningkatkan literasi kesehatan mental, serta mendorong terciptanya budaya peduli dan saling mendukung di tengah masyarakat.
| bank bjb Dorong Generasi Muda dan UMKM Naik Kelas Lewat Seminar Career Compass di Unpas |
|
|---|
| Strategi Kemenkum Jabar Cegah Kriminalisasi Notaris Melalui Implementasi KUHP dan KUHAP Baru |
|
|---|
| Seminar “Zen on Wheels”, DAM Dorong Perempuan Lebih Percaya Diri dan Cari Aman di Jalan |
|
|---|
| BIsnis Seminar Kit & Corporate Gift Makin Menjanjikan, Troole Merchandise Jadi Pilihan Strategis |
|
|---|
| Atalia Praratya Dorong Mahasiswa Unpar Perkuat Pemahaman Kebangsaan Selain Agen Perubahan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Seminar-mental-health.jpg)