ITB Dorong Pascasarjana Multidisiplin Melalui Kurikulum 10 Semester
ITB menegaskan arah pengembangan pendidikan pascasarjana yang semakin menekankan pendekatan multidisiplin.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- ITB meluncurkan kurikulum terintegrasi 10 semester yang menggabungkan pendidikan S1 dan S2 mulai Agustus 2026.
- Wakil Rektor Prof. Irwan Meilano menekankan pendekatan multidisiplin pada delapan bidang strategis nasional guna mencetak lulusan yang adaptif terhadap perubahan dunia kerja.
- Selain itu, mahasiswa didorong aktif riset lintas bidang tanpa batasan ketat program studi asal.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan arah pengembangan pendidikan pascasarjana yang semakin menekankan pendekatan multidisiplin serta kontribusi nyata terhadap kebutuhan industri dan pembangunan nasional.
Hal itu disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., dalam acara Pemerimaan Mahasiswa Baru Semester II Tahun Akademik 2025/2026 di Gedung Sasana Ganesha, Jumat (30/1/2026).
Menurut Prof. Irwan, ITB tidak lagi menempatkan program studi sebagai satu-satunya rujukan utama, khususnya di jenjang pascasarjana. Yang lebih ditekankan adalah kontribusi keilmuan terhadap delapan bidang strategis nasional hasil Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI), seperti energi, pangan, kecerdasan artifisial (AI), dan bidang prioritas lain.
“Bidang-bidang itu tidak merujuk langsung ke program studi tertentu. Semua disiplin di ITB bisa berkontribusi,” ujar Prof. Irwan.
Ia mencontohkan riset mikroorganisme yang awalnya bersifat dasar, namun kemudian dikembangkan lintas disiplin hingga menjadi produk industri, termasuk kolaborasi dengan bidang seni dan desain, teknik material, hingga perminyakan dan pertambangan.
Riset tersebut bahkan mampu menghasilkan panel mikroalga yang berfungsi mengurangi emisi CO₂ di dalam ruangan dan kini telah masuk tahap industri.
Prof. Irwan menjelaskan, pendanaan riset dan beasiswa dari kementerian umumnya memang diprioritaskan pada delapan bidang strategis tersebut. Namun, riset dasar tetap mendapat dukungan melalui pendanaan internal ITB.
“Riset dasar tidak ditinggalkan. Tapi karena kebutuhan besar dan dana terbatas, fokus tetap diperlukan,” katanya.
Terkait minat calon mahasiswa pascasarjana, Prof. Irwan mendorong agar pelamar aktif berkomunikasi dengan calon dosen pembimbing sejak awal. Dengan demikian, mahasiswa memiliki gambaran yang jelas mengenai arah studi dan riset yang akan dijalani.
Dalam kesempatan itu, Prof. Irwan juga mengungkapkan kebijakan baru ITB terkait kurikulum 10 semester yang mengintegrasikan pendidikan sarjana dan magister.
Mahasiswa S1 akan diberi opsi sejak awal untuk melanjutkan hingga S2, dengan pengambilan mata kuliah magister yang sudah dimulai sejak semester awal perkuliahan.
“Kita ingin basis akhir mahasiswa ITB itu S2. Karena ke depan, kita tidak tahu pekerjaan apa yang akan muncul. Bisa jadi pekerjaan itu bahkan belum ada hari ini,” ujarnya.
Skema ini bersifat opsional. Mahasiswa diminta menyatakan minat melanjutkan ke S2 pada semester ketiga. Jika tidak, mereka tetap dapat menyelesaikan studi pada jalur sarjana. Kebijakan ini mulai diterapkan penuh bagi mahasiswa baru tahun 2026 di bulan Agustus mendatang.
Dampaknya, kata dia, saat ini lebih dari 50 persen mahasiswa S2 ITB merupakan alumni ITB sendiri.
Selain itu, ITB juga membuka peluang lintas disiplin, memungkinkan mahasiswa S1 dari satu bidang melanjutkan S2 di bidang lain, tanpa keharusan matrikulasi.
“Kami justru mendorong multidisiplin. Dunia kerja butuh lulusan yang lebar wawasannya, bukan hanya sangat dalam di satu bidang,” kata Prof. Irwan.
Ia menyebut hasil pelacakan alumni menunjukkan bahwa hanya sekitar 10 persen dunia kerja membutuhkan spesialis dengan kedalaman ekstrem, sementara 90 persen lainnya membutuhkan lulusan dengan kemampuan lintas bidang, berpikir kritis, dan adaptif.
Sebagai penopang kebijakan tersebut, pihaknya menetapkan sejumlah mata kuliah wajib lintas fakultas di tahun pertama, seperti matematika dasar, kecerdasan artifisial, critical thinking, dan sustainability.
Standar awal ini dimaksudkan agar seluruh mahasiswa memiliki kemampuan berpikir terstruktur yang sama, terlepas dari latar belakang disiplin ilmunya.
“Kurikulum masa depan memang harus fleksibel. Tidak mudah, tapi itu yang dibutuhkan,” kata dia. (*)
| Mas Jun Dorong Generasi Muda Melek Politik dan Peduli Lingkungan |
|
|---|
| Pembahasan RUU Sisdiknas di DPR: Jangan Main-Main dengan Pendidikan, atau Akan Lahir Generasi Mainan |
|
|---|
| SMA/SMK Sekolah Maung Tak Akan Ganti Nama atau Ditambah 'Maung', Kadisdik: Transformasi yang Dirubah |
|
|---|
| Pasca-Mahasiswa ITB Hilang, Jalur Pendakian Pasir Kuda di Gunung Puntang Bandung Ditutup Sementara |
|
|---|
| Kisah Ujang Cari Mahasiswa ITB Hilang hingga Tengah Malam, Pulang Pergi Gunung Puntang-Pasir Kuda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Wakil-Rektor-Bidang-Akademik-dan-Kemahasiswa.jpg)