Reaktor Plasma Dingin Karya Unisba Diklaim Lebih Ramah Lingkungan dari Insinerator
Pendekatan sosio-engineering difokuskan pada pembangunan kesadaran masyarakat, termasuk kebiasaan memilah sampah.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Mahasiswa akan dilibatkan dalam pengawasan, pendampingan, serta edukasi masyarakat. Sampah bernilai seperti plastik dan logam tetap diarahkan ke pengepul, sementara sampah residu yang sulit diolah, seperti popok, menjadi fokus utama pengolahan dengan teknologi plasma dingin.
"Di sinilah peran akademisi, dosen, dan mahasiswa. Mahasiswa akan diberi pembekalan untuk terlibat dalam edukasi masyarakat dan pengelolaan alat.”
Dia menegaskan, pengembangan teknologi ini dilakukan melalui kerja sama empat pihak: Unisba, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Sains dan Teknologi, serta Pemerintah Kota Bandung.
"Pemprov Jabar berperan dalam regulasi lahan dan bangunan melalui DLH Provinsi, sementara Pemkot Bandung bertanggung jawab atas pengamanan lokasi. Dari sisi pendanaan, Unisba menjajaki dukungan dari LPDP dengan nilai pengembangan sekitar Rp1,5 miliar," katanya.
Tim peneliti yang berjumlah sekitar sepuluh orang telah bekerja sejak Januari 2020. Teknologi ini juga telah dinilai layak oleh DLH Kota Bandung dan DLH Provinsi Jawa Barat untuk digunakan lebih luas.
Ketua LPPM Unisba, Prof. Dr. Neni Sri Imaniyati, menegaskan bahwa inovasi ini bukanlah generasi pertama.
Menurutnya, pengembangan reaktor plasma dingin merupakan kelanjutan dari rangkaian panjang penelitian dosen Unisba, mulai dari riset Batok Terawang, mesin pencacah, hingga pengolahan food waste.
“Inovasi ini sudah ditinjau langsung oleh pemerintah. Jajaran riset dan pengembangan dari kementerian juga telah melihat proses pengolahan sampah yang dilakukan,” ujarnya.
Dia menambahkan, melalui pengembangan teknologi ini, pihaknya berharap dapat menghadirkan solusi lingkungan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran akademisi dalam menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat, sejalan dengan semangat Unisba Berdampak. (*)
| SAH Kantongi Izin KLH, 18 Insinerator di Bandung Kembali Beroperasi untuk Mengolah Sampah |
|
|---|
| Segel Dibuka! 18 Insinerator di Kota Bandung Kembali Beroperasi Setelah Lulus Uji Emisi KLH |
|
|---|
| Unisba Petakan 52 Dosen Potensial untuk Kejar Kebutuhan Guru Besar |
|
|---|
| Pakar Hukum Unisba Soroti Potensi Hukum dalam Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS |
|
|---|
| Pakar Hukum Sebut Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Akibat Kelalaian, Pelaku Sulit Dipidana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Reaktor-plasma-dingin-k.jpg)