Minggu, 17 Mei 2026

Reaktor Plasma Dingin Karya Unisba Diklaim Lebih Ramah Lingkungan dari Insinerator

Pendekatan sosio-engineering difokuskan pada pembangunan kesadaran masyarakat, termasuk kebiasaan memilah sampah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Tribun Jabar/Nappisah
Reaktor plasma dingin karya Unisba yang dipasang di TPS Arcamanik, Kota Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Persoalan sampah di Jawa Barat menjadi sorotan dalam Universitas Islam Bandung (Unisba) Expo 2026. Event ini menghadirkan solusi berbasis riset dan teknologi melalui program Halal Integrated Carbon Credit Initiative, yang ditujukan untuk menekan emisi karbon sekaligus memberi manfaat sosial.

Rektor Unisba, Prof. A. Harits Nu’man, mengatakan, Jawa Barat selama ini menghadapi persoalan serius terkait sampah. Karena itu, perlunya inovasi yang tidak hanya berhenti pada konsep, tetapi benar-benar memberi dampak langsung bagi masyarakat.

“Sampah ini dihasilkan oleh masyarakat. Karena itu, pola yang kami kembangkan bersifat terencana dan berjenjang. Ada pendekatan teknologi dan ada pendekatan sosio-engineering,” ujarnya, saat ditemui di Jalan Tamansari No 1, Kota Bandung, Rabu (21/1/2026).

Pendekatan sosio-engineering difokuskan pada pembangunan kesadaran masyarakat, termasuk kebiasaan memilah sampah. Kendati demikian, bila langkah tersebut belum cukup efektif, Unisba menyiapkan solusi teknologi melalui reaktor plasma dingin.

Prof. Harits menjelaskan, reaktor ini dirancang untuk mengolah sampah dalam jumlah besar tanpa menghasilkan asap seperti insinerator.

Adapun untuk prosesnya mengubah sampah menjadi biochar, material yang bermanfaat untuk meningkatkan unsur hara tanah. Selain itu, sistem ini juga diarahkan untuk menekan emisi karbon dengan mengolah kembali CO₂ agar tidak dilepaskan ke udara.

“Selama ini, pengolahan sampah dengan insinerator menghasilkan polusi karbon dioksida. Pembakaran plastik juga memunculkan partikel berbahaya. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup melarang penggunaan insinerator,” jelasnya.

Berbeda dengan insinerator, reaktor plasma dingin bekerja dalam sistem tertutup. Emisi dikendalikan melalui cerobong dan saluran khusus, sehingga tidak dilepaskan bebas ke udara. Teknologi ini bahkan diarahkan menuju konsep zero carbon.

Dikatakannya, saat ini Unisba telah memiliki dua unit reaktor plasma dingin, diantaranya satu unit berkapasitas 500 kilogram per jam yang berada di Nagreg, Kabupaten Bandung dan satu unit berkapasitas 1 ton per jam di Arcamanik, Kota Bandung.

Ia menuturkan, dengan waktu operasi delapan jam, unit berkapasitas 1 ton mampu mengolah hingga delapan ton sampah per hari, bahkan memungkinkan beroperasi penuh selama 24 jam.

Nilai investasi untuk satu unit alat diperkirakan sekitar Rp1,5 miliar, tergantung spesifikasi. Ke depan, reaktor ini akan didemonstrasikan di Arcamanik, Kota Bandung.

"Untuk satu unit, investasi yang kami tawarkan sekitar Rp1,5 miliar, tergantung spesifikasi," imbuhnya.

Selain menyasar penyelesaian masalah sampah, program ini juga dirancang untuk membuka lapangan kerja baru.

“Dalam program ini, mahasiswa akan dilibatkan. Jika ke depan setiap kecamatan atau kelurahan dipasang satu alat, maka akan ada kebutuhan besar untuk pengawasan dan pendampingan," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved