Peran Mahasiswa TLM Pada Implementasi Mata Kuliah Wajib Kurikulum Berbasis Project
TRIBUNJABAR.ID - Keberhasilan mendapatkan hibah Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) bagi Institut Kesehatan Rajawali pada tahun 2024
TRIBUNJABAR.ID - Keberhasilan mendapatkan hibah Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) bagi Institut Kesehatan Rajawali pada tahun 2024, menjadi suatu hal yang menginspirasi dalam kegiatan pembelajaran Project-Based Learning. Mata kuliah MKWK terdiri dari pembelajaran Pendidikan Pancasila, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama, dan Budi Pekerti. Menurut saya, keempat mata kuliah tersebut berperan penting dalam pembentukkan karakter di Indonesia.
Sayangnya, banyak mahasiswa masih melihat mata kuliah ini cuma sebatas “hafalan” atau “pengulangan” dari pelajaran sebelumnya. Padahal, kalau dikemas dengan suatu cara yang lebih relevan dan praktis, MKWK bisa jadi nilai inti yang membentuk lulusan bukan hanya pintar secara akademis, tapi juga berintegritas, cinta tanah air, dan melek kebangsaan.
Menurut data dari Kurniawaty (2022) Pada penelitiannya, secara keseluruhan, implementasi MKWK belum memberikan efek positif secara optimal karena kurangnya pemahaman serta dukungan sistemik. Tapi tahun 2024 justru menunjukkan hal menarik: ketika MKWK dibahas secara aktif seperti studi kasus, project-based learning, dan diskusi kelompok dinilai lebih efektif pada mahasiswa.

Dalam penelitian yang mengumpulkan data dari total 196 mahasiswa yang sudah mengikuti mata kuliah wajib kurikulum Pendidikan Pancasila melalui kuesioner, 38,27 persen responden berpendapat metode ini sangat efektif, dan 50,00 % lainnya menyatakan efektif.
Hal ini membuktikan bahwa pentingnya MKWK tidak hanya pada “materi normatif”, tapi lebih pada kemampuan dosen mengaitkan nilai Pancasila, kewarganegaraan, dan etika ke dalam dinamika kehidupan modern. Di tengah tantangan globalisasi, demografi, serta derasnya arus digitalisasi, MKWK seharusnya jadi dasar fondasi pembentuk karakter dan rasa tanggung jawab mahasiswa sebagai warga negara.
Oleh karena itu, saya merasa bahwa cara mengajar MKWK memang perlu dibenahi. Pertama, dengan integrasi case-based learning agar mahasiswa dapat mengaitkan teori dengan realitas sosial; kedua, penerapan project-based learning seperti program pengabdian masyarakat berbasis isu kebangsaan; dan ketiga, evaluasi yang lebih menekankan pada sikap, refleksi, dan keterampilan berpikir kritis, bukan sekadar ujian tertulis.
Dengan cara seperti ini, MKWK tidak lagi sekadar “mata kuliah wajib”, melainkan dapat menjadi ruang strategis untuk melahirkan generasi muda Indonesia yang cerdas, kritis, dan berintegritas tinggi. Menariknya, dalam salah satu kegiatan MKWK di Institut Kesehatan Rajawali, mahasiswa mampu melakukan kegiatan seperti pemberian eduksi kesehatan jantung melalui senam jantung serta pemeriksaan PTM (Penyakit Tidak Menular) meliputi pemeriksaan glukosa, kolestrol dan asam urat.
Pemeriksaan PTM mendapatkan hasil kadar kolesterol dan glukosa di masyarakat desa Cihanjuang sekitar kampus Institut Kesehatan Rajawali. Hasilnya, setelah penerapan mata kuliah ini, kadar kolesterol dan glukosa itu turun cukup signifikan hingga mendekati batas normal.
Penurunan kadar kolesterol dan glukosa dapat menjadi tanda bahwa bahwa mahasiswa berhasil membawa pemahaman kepada masyarakat yang telah mulai menerapkan gaya hidup sehat, mengatur pola makan, serta mengendalikan kebiasaan yang sebelumnya kurang baik. Data pada grafik ini selaras dengan opini bahwa mata kuliah MKWK bukan hanya berfungsi sebagai mata kuliah normatif, melainkan juga dapat berdampak nyata terhadap pembentukan karakter dan perilaku mahasiswa.
Selain itu juga, mahasiswa juga mengadakan kegiatan senam sehat pada agenda penyuluhan kesehatan yang dilakukan. Kegiatan senam sehat ini dipercaya dapat meningkatkan kebugaran fisik, jasmani, juga rohani. Senam sehat berguna untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan tubuh, sekaligus mendorong perubahan gaya hidup yang lebih sehat di lingkungan Masyarakat.
Pada suatu penelitian oleh Dahlan (2016) mereka menyebutkan bahwa peningkatan daya ingat dalam belajar bagi siswa dapat dipengaruhi oleh faktor kejelasan materi, sistematika penyampaian, penggunaan gambar, unsur keterbaruan, kelengkapan, serta dukungan media interaktif seperti games dan video. Temuan ini sejalan dengan konsep implementasi MKWK yang efektif.
Jika dosen mampu mengemas materi Pancasila, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dengan pendekatan yang kreatif dan interaktif, maka mahasiswa tidak lagi melihat MKWK sebagai beban hafalan semata, melainkan sebagai pengalaman belajar yang hidup dan bermakna.
Dengan cara ini, keberhasilan implementasi mata kuliah wajib kurikulum tidak hanya terlihat dari peningkatan partisipasi mahasiswa, tetapi juga tercermin pada daya ingat, sikap, serta karakter yang lebih kuat dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Unjuk Rasa Depan Mapolda Jabar, Massa Aksi Nyanyikan Yel-yel Kekecewaan pada Polisi |
![]() |
---|
City University Malaysia Perluas Jaringan dengan Gaet Mahasiswa Asal Indonesia |
![]() |
---|
PSM Unpad Wakili Indonesia di Ajang Paduan Suara Italia |
![]() |
---|
Mahasiswa Bandung Dilatih Jadi Kreator Berpenghasilan Sekaligus Promosikan Produk UMKM & Pariwisata |
![]() |
---|
Mahasiswa Politeknik STIA LAN Bandung Hadirkan Inovasi “JEMARI” dalam Program MAGADES di Langensari |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.