Sabtu, 16 Mei 2026

Tradisi Ngapungkeun Balon Hari Lebaran di Garut, Bukan Sekadar Warisan Turun-Temurun

Suasana Lebaran di Garut tak hanya diwarnai silaturahmi, tetapi juga kemeriahan tradisi menerbangkan balon raksasa.

Tayang:
Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari
NGAPUNGKEUN BALON - Tradisi Ngapungkeun Balon atau menerbangkan balon di Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tradisi ini turun temurun yang biasa dilakukan setelah salat id di hari raya idul fitri, Sabtu (21/3/2026). 

 

Ringkasan Berita:
  • Setiap tahun, suasana Lebaran di Garut tak hanya diwarnai silaturahmi dan hidangan khas, tetapi juga kemeriahan tradisi menerbangkan balon raksasa yang telah berlangsung secara turun-temurun
  • Tradisi yang dikenal dengan 'Ngapungkeun Balon' itu menjadi momen yang paling dinanti warga, khususnya di Kampung Panawuan 
  • Balon-balon berukuran besar tersebut biasanya mulai diterbangkan sejak pagi hari setelah pelaksanaan Salat Id 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari 

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Setiap tahun, suasana Lebaran di Garut tak hanya diwarnai silaturahmi dan hidangan khas, tetapi juga kemeriahan tradisi menerbangkan balon raksasa yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Tradisi yang dikenal dengan 'Ngapungkeun Balon' itu menjadi momen yang paling dinanti warga, khususnya di Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

"Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1960-an, sebagai wadah silaturahmi antar warga," ujar salahsatu penggerak Atep (41) kepada Tribun, Sabtu (21/3/2026).

Ia menuturkan balon-balon berukuran besar tersebut biasanya mulai diterbangkan sejak pagi hari setelah pelaksanaan Salat Id.

Warga juga memperhatikan aspek keselamatan, yakni balon diterbangkan menggunakan asap dari pembakaran minyak tanah sebagai pengisi udara panas, tanpa membawa api langsung sehingga dinilai lebih aman.

Warga terlihat berbondong-bondong menuju lapangan atau area terbuka untuk menyaksikan balon berwarna-warni itu perlahan mengudara.

Kegiatan itu ungkap Atep, tidak hanya dilakukan di satu kampung, tapi juga diikuti oleh setiap rukun warga di wilayah Panawuan.

Baca juga: Selain Warga yang Datang untuk Bersilaturahmi dan Berfoto, Tokoh Agama Juga Hadir di Pakuan

"Mereka saling unjuk kreativitas, dari mulai ukuran hingga corak balon yang dibuat sedemikian unik," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari kertas telur, kertas wajit, hingga kertas minyak yang disatukan menggunakan lem aci.

Dalam prosesnya, satu balon biasanya dikerjakan oleh sekitar lima orang dalam waktu satu malam, bahkan saat diterbangkan pun masih ada yang berjaga untuk menambal jika terdapat bagian yang bocor.

"Ini 100 persen bahannya kertas dan dii tahun ini di titik ini ada 4 balon, total diseluruh titik penerbangan ada 20 an balon," ucapnya.

Selain itu, biaya pembuatan satu balon bisa mencapai sekitar Rp700 ribu yang diperoleh dari iuran warga dan donatur. 

Pengumpulan dana biasanya sudah dilakukan sekitar 10 hari sebelum Lebaran

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved