Kamis, 21 Mei 2026

BPS Jabar: Emas Perhiasan dan Bawang Merah Dorong Inflasi Bulanan, Daging Ayam Catatkan Deflasi

Kenaikan harga emas dunia dan terganggunya pasokan hortikultura akibat cuaca ekstrem menjadi dua faktor yang paling memengaruhi laju harga.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Pedagang daging ayam potong melayani pembeli di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (15/9/2025). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,16 persen secara month to mont (m-to-m) pada November 2025. 

Kenaikan harga emas dunia dan terganggunya pasokan hortikultura akibat cuaca ekstrem menjadi dua faktor yang paling memengaruhi laju harga di sejumlah daerah.

Hal itu disampaikan Fungsional Statistisi Ahli Madya BPS Jabar, Ninik Anisah, dalam pemaparan data resmi di Kantor BPS Provinsi Jawa Barat, Senin (1/12/2025). 

Pada periode tersebut, inflasi bulanan (month to month) tercatat 0,16 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year to date) berada di angka 2,19 persen, dan inflasi tahunan (year on year) mencapai 2,54 persen.

Jika dirinci berdasarkan kelompok pengeluaran, ada dua kelompok yang paling menonjol memberikan dorongan inflasi. 

Dikatakannya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,09 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberi andil 0,06 persen.

“Dua kelompok inilah yang paling dominan dalam pembentukan inflasi November,” jelas Ninik.
Di level wilayah, Kota Bekasi menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi, yakni 0,29 persen. 

Kota Bandung berada di posisi berikutnya dengan 0,24 persen. Inflasi juga tercatat di Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Majalengka yang sama-sama mencapai 0,22 persen, kemudian Kota Cirebon 0,16 persen, serta Kota Bogor 0,06 persen. 

Adapun Kota Depok, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Bandung masing-masing berada di angka 0,05 persen.

"Untuk komoditas, emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,09 persen. Sementara beberapa komoditas hortikultura seperti wortel, bawang merah, dan cabai merah, masing-masing memberikan andil 0,03 persen," jelasnya. 

Sebaliknya, sejumlah bahan pangan mengalami penurunan harga. Daging ayam ras mencatat deflasi tertinggi, yakni 0,04 persen. 

Beras dan telur ayam ras menurun 0,03 persen, sedangkan jengkol dan buah naga masing-masing memberi andil deflasi 0,01 persen.

Beberapa daerah tercatat memiliki inflasi year to date di atas angka provinsi. Kota Sukabumi menjadi yang tertinggi dengan 2,76 persen, disusul Kota Cirebon (2,62 persen), Kabupaten Majalengka (2,56 persen), Kota Bekasi (2,43 persen), Kota Bogor (2,37 persen), dan Kota Depok (2,26 persen).

Adapun wilayah dengan inflasi tahun kalender di bawah rata-rata provinsi di antaranya Kota Bandung (2,17 persen), Kota Tasikmalaya (2,13 persen), Kabupaten Bandung (1,69 persen), dan Kabupaten Subang (1,41 persen).

Untuk inflasi tahunan, Kota Sukabumi kembali mencatat angka tertinggi dengan 3,63 persen, kemudian Kota Bekasi 2,96 persen. Kabupaten Majalengka berada di 2,95 persen, disusul Kota Cirebon dan Kota Bogor yang sama-sama mencatat 2,87 persen. Kota Tasikmalaya mencatat 2,70 persen, Kota Bandung 2,57 persen, dan Kabupaten Bandung berada di posisi paling rendah dengan 1,89 persen. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved