Kamis, 4 Juni 2026

Skor Kredit Jadi Penentu Akses Keuangan, Generasi Muda Diminta Lebih Bijak Berutang

Pengelolaan keuangan yang bijak menjadi kunci penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan finansial di era digital. 

Tayang:
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
SEMINAR - Seminar “#DoITCERDAS: Belajar Strategi Keuangan Untuk Wujudkan Cheetah Cheetah (cita-cita) di Unpar, Selasa (25/11/2025). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengelolaan keuangan yang bijak menjadi kunci penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan finansial di era digital. 

Di tengah maraknya layanan pinjaman daring, gaya hidup konsumtif, hingga godaan tren media sosial, para ahli mengingatkan bahwa perilaku finansial tanpa perencanaan dapat menyulitkan masa depan seseorang, mulai dari akses pendanaan hingga kestabilan hidup jangka panjang.

Melalui seminar “#DoITCERDAS: Belajar Strategi Keuangan Untuk Wujudkan Cheetah Cheetah (cita-cita)”, Head of Collection Operation Home Credit Indonesia, Andri Maulana, menegaskan bahwa salah satu fondasi kesehatan finansial adalah skor kredit.

Ia menggambarkan skor kredit sebagai “IPK keuangan” seseorang, yang mencerminkan seluruh riwayat pinjaman dan tanggung jawab pembayaran.

“Skor kredit menunjukkan seberapa baik kita mengelola pinjaman. Semakin tinggi skornya, semakin tinggi kepercayaan perusahaan pembiayaan kepada kita,” ujar Andri di Universitas Katolik Parahyangan, Selasa (25/11/2025).

Baca juga: Mantan Sekda Kota Bandung dan Eks Kadispora Jalani Sidang Perdana Kasus Korupsi Hibah Pramuka

Andri menjelaskan skor kredit yang baik membuka akses lebih luas terhadap produk keuangan, termasuk bunga pinjaman yang lebih rendah. 

Bahkan, kata Andri, perusahaan besar kini menjadikan skor kredit sebagai bagian dari pengecekan latar belakang pelamar kerja.

Andri mengingatkan generasi muda untuk berhati-hati sebelum mengambil pembiayaan. 

Ia menekankan pentingnya menghitung kemampuan bayar secara realistis, tidak mengikuti tren atau tekanan sosial, serta membaca syarat ketentuan secara teliti. 

Ia juga memberi contoh pengalamannya saat mengambil pinjaman pertama untuk membeli motor, ketika ia menghitung seluruh kebutuhan bulanan dan biaya tambahan seperti bensin dan perawatan.

Menurutnya, masalah besar muncul ketika seseorang terjebak cicilan dan mulai “gali lubang tutup lubang”.

“Jika sudah terlanjur memiliki banyak pinjaman sebaiknya buat dahulu daftar seluruh utang, lalu selesaikan dari nominal terkecil, membuat anggaran sederhana, dan berkomunikasi dengan penyedia layanan pembiayaan untuk mencari solusi. Yang paling penting, stop dulu ambil pinjaman baru,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Magister dan Doktor Unpar, Dr. Vera Intanie Dewi, menekankan bahwa digitalisasi membuat masyarakat harus memiliki kompetensi literasi keuangan yang kuat. 

Baca juga: Proyek dan Pekerjaan Inara Rusli Kini Dihentikan Sementara Gegara Isu Perselingkuhan

“Literasi itu mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang membentuk perilaku finansial bijak. Ketiga hal ini menjadi fondasi seseorang untuk mencapai well-being finansial, yaitu mampu memenuhi kebutuhan, resilien menghadapi krisis, dan berkelanjutan hingga masa tua tanpa bergantung pada orang lain,” tutur Vera.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved