Koperasi Kini Lebih Luwes dengan Pelayanan yang Terpadu dalam Satu Genggaman
investasi untuk kepentingan digitalisasi ini membuat kami justru bisa melakukan efiensi dan efektifitas. Biaya operasional bisa ditekan
Penulis: Darajat Arianto | Editor: Darajat Arianto
Laporan wartawan Tribun Jabar, Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID - Cuaca panas siang itu seolah sirna ketika masuk ke kantor sebuah koperasi di Kota Bandung. Kenyamanan pun langsung terasa. Sambutan hangat dari karyawan menambah nyaman suasana. Demikian pula jabat erat dari sang pemimpin koperasi terasa hangat meski baru bertemu.
Suasana itu tercipta seiring perkembangan koperasi yang kini lebih fleksibel dan luwes. Didukung juga dengan penerapan digital dalam operasional dan manajemen koperasi.
Kondisi itulah yang diterapkan Koperasi Syariah BMT Itqan di Jalan Padasuka, Kota Bandung.
“Digitalisasi dalam perkoperasian adalah keniscayaan,” ujar Ketua Koperasi Syariah BMT ItQan Bandung, Adhy Suryadi, saat berbincang dengan Tribun Jabar, belum lama ini.
Menurut pria berusia 45 tahun ini, pada era digitalisasi ini transformasi memang harus dilakukan oleh semua lini usaha, termasuk perkoperasian di Indonesia. Digitalisasi sudah menjadi kebutuhan guna mendukung perkembangan dan kemajuan perkoperasian.
“Adaptasi terhadap kemajuan zaman memang harus dilakukan. Digitalisasi merupakan upaya melakukan transformasi usaha untuk meningkatkan pelayanan kepada anggota,” ujar Adhy.
Tahun 2017, digitalisasi pun mulai diterapkan koperasi syariah yang berkantor pusat di kawasan dekat dengan tempat wisata Saung Angklung Udjo, Kota Bandung ini.
Digitalisasi dilakukan BMT Itqan dari pembuatan website, mobile apps, dan melalui layanan mobile banking. Digitalisasi juga diimplementasikan melalui branchless dan paperless.
Dengan layanan berbasis digital itu anggota Koperasi Syariah BMT ItQan memang sangat terbantu dan dimudahkan dalam mengakses layanan sesuai kebutuhannya.
Adhy menambahkan, BMT Itqan juga memanfaatkan cloud computing sebagai langkah preventif melindungi semua data koperasi tersebut. Dengan cloud computing ini, kata Adhy, seluruh data yang dimiliki tetap aman, tak takut hilang karena faktor eksternal seperti padamnya listrik. Data ini tersimpan di data server dengan menyewa tempat di salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia.
Konsekuensi diterapkannya digitalisasi layanan tentunya butuh dana tidak sedikit untuk investasi. "Nilai investasinya sampai puluhan juta rupiah. Tapi investasi untuk kepentingan digitalisasi ini membuat kami justru bisa melakukan efiensi dan efektifitas. Biaya operasional bisa ditekan sampai 50 persen,” kata Adhy.
Menurutnya, contoh biaya yang bisa ditekan adalah kebutuhan kertas. Dengan pemanfaatan digitalisasi tidak lagi membutuhkan banyak kertas (paperless) untuk keperluan surat menyurat maupun dokumentasi baik antarpengurus, karyawan, maupun dengan anggota. Biasanya kebutuhan alat tulis kantor mencapai Rp 20 juta per bulan, dengan digitalisasi ini bisa ditekan hingga menjadi Rp 8 juta per bulan.
Koperasi Syariah BMT ItQan didirikan Adhy tahun 2017 bersama beberapa alumni Ikatan Pemuda Masjid Agung Bandung angkatan tahun 1990. Dengan modal awal Rp 225 juta, koperasi ini terus berkembang pesat hingga tahun 2019 ini telah memiliki aset hingga Rp 56 miliar.
“Layanan kami mencakup masyarakat berpenghasilan rendah, UKM, dan pembiayaan bagi kalangan pekerja,” ucap Adhy.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/koperasi-bmt-itqan_2.jpg)