Sabtu, 6 Juni 2026

Pendidikan Politeknik di Era Disrupsi

pendidikan politeknik telah menjadi salah satu instrumen penting dalam  pembangunan sumber daya manusia Indonesia

Tayang:
Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Dok Iwan Ridwan
Iwan Ridwan, S.T., M.T., Ph.D Dosen Politeknik Negeri Bandung 

Kondisi ini sekaligus mengkritisi model pembelajaran  tradisional yang oleh Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (1970) disebut  sebagai Banking Education Model. Dalam model ini, dosen diposisikan sebagai pemilik  pengetahuan yang "menyetorkan" informasi kepada mahasiswa yang dianggap sebagai "rekening 

kosong" yang harus diisi. Paradigma tersebut tidak hanya menempatkan mahasiswa sebagai  pembelajar pasif, tetapi juga merendahkan potensi mahasiswa sebagai individu yang mampu  berpikir kritis, mempertanyakan asumsi, dan membangun pengetahuan secara mandiri. 

Model seperti ini mungkin masih relevan ketika akses informasi sangat terbatas. Namun di era AI,  ketika informasi tersedia dalam hitungan detik, tantangan pendidikan bukan lagi bagaimana  mentransfer pengetahuan, melainkan bagaimana membangun kemampuan mahasiswa untuk  mengolah, mengkritisi, mengintegrasikan, dan menciptakan pengetahuan baru.

Oleh karena itu,  dosen vokasi harus bertransformasi dari knowledge transmitter menjadi learning facilitator,  mentor, peneliti terapan, inovator, dan penghubung antara kampus dengan industri.

Dosen vokasi harus terus melakukan upskilling dan reskilling dalam bidang-bidang strategis seperti Artificial  Intelligence, Internet of Things, digital manufacturing, data analytics, robotika, teknologi hijau,  dan teknologi masa depan lainnya. 

Lebih jauh, dosen vokasi juga harus mengubah paradigma pembelajaran dari conventional  learning menjadi flipped learning.

Dalam model pembelajaran konvensional, sebagian besar  waktu di kelas digunakan untuk menyampaikan materi, sementara mahasiswa berperan sebagai  pendengar pasif.

Model seperti ini semakin kehilangan relevansinya karena materi pembelajaran  dapat diakses dengan mudah melalui internet, platform digital, maupun AI generatif.

Sebaliknya,  pada flipped learning, mahasiswa mempelajari konsep dasar sebelum perkuliahan melalui video,  modul digital, simulasi, atau sumber belajar lainnya.

Waktu tatap muka kemudian digunakan untuk  diskusi, studi kasus, eksperimen, proyek, simulasi, dan pemecahan masalah nyata.

Dengan  demikian, kelas berubah dari ruang transfer pengetahuan menjadi ruang pengembangan  kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking). 

Transformasi dosen merupakan syarat mutlak keberhasilan transformasi pendidikan politeknik.  

Dosen masa depan tidak lagi berperan sebagai penyampai informasi saja, melainkan sebagai  fasilitator pembelajaran, mentor, inovator, peneliti terapan, dan mitra strategis industri yang  mampu mengorkestrasi pengalaman belajar mahasiswa melalui pendekatan student-centered  learning dan flipped learning. 

Saatnya Bertransformasi Menjadi Polytechnic University 

Transformasi pembelajaran, dosen, dan kemitraan dengan industri pada akhirnya harus diikuti oleh  transformasi kelembagaan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved