Sabtu, 6 Juni 2026

Pendidikan Politeknik di Era Disrupsi

pendidikan politeknik telah menjadi salah satu instrumen penting dalam  pembangunan sumber daya manusia Indonesia

Tayang:
Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Dok Iwan Ridwan
Iwan Ridwan, S.T., M.T., Ph.D Dosen Politeknik Negeri Bandung 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG

Pendidikan Politeknik di Era Disrupsi

Oleh : Iwan Ridwan, S.T., M.T., Ph.D

Dosen Politeknik Negeri Bandung

Selama hampir 5 dekade, pendidikan politeknik telah menjadi salah satu instrumen penting dalam  pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Kehadirannya dilandasi oleh kebutuhan dunia  industri terhadap tenaga profesional yang memiliki keseimbangan antara penguasaan teori dan  keterampilan praktik.

Pendidikan politeknik dirancang untuk menghasilkan tenaga ahli tingkat  menengah serta menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan.

Sejarah pendidikan  politeknik di Indonesia dimulai pada tahun 1973 melalui pembangunan Politeknik Mekanik  Swiss–Institut Teknologi Bandung sebagai hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Swiss.  Pendidikan Diploma Tiga mulai diselenggarakan pada tahun 1976. Selanjutnya, sejak tahun 1982  pemerintah mengembangkan politeknik di berbagai wilayah Indonesia dengan dukungan Bank  Dunia, ADB, serta negara-negara mitra seperti Swiss, Jerman, Jepang, Australia, dan Selandia  Baru.

Pada tahun 1989, melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, politeknik secara  resmi diakui sebagai perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional untuk  memenuhi kebutuhan dunia kerja dan industri.  

Sejak awal, filosofi pendidikan politeknik dibangun berdasarkan konsep link and match, yaitu  keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia  industri. Politeknik didesain untuk menghasilkan lulusan yang mampu menyelesaikan persoalan  nyata di lapangan dengan pendekatan praktis dan aplikatif.

Oleh karena itu, pendidikan politeknik  selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung penyediaan tenaga kerja terampil bagi sektor  manufaktur, konstruksi, teknologi, pertanian, bisnis, dan berbagai sektor produktif lainnya.

pendidikan politeknik yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri pada era 1970-an kini  menghadapi realitas baru yang jauh berbeda.

Kita sedang memasuki era disrupsi yang ditandai  oleh perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), robotika, Internet of Things,  big data, komputasi cloud, teknologi digital, dan otomatisasi. Perubahan ini tidak hanya mengubah  cara manusia bekerja, tetapi juga mengubah jenis kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. 

Dalam paradigma pendidikan vokasi saat ini, lulusan Diploma Tiga umumnya dipersiapkan untuk  menyelesaikan well-defined problems, yaitu masalah yang prosedur penyelesaiannya sudah jelas  dan terstruktur.

Sementara itu, lulusan Sarjana Terapan dipersiapkan untuk menyelesaikan  broadly-defined problems, yaitu masalah yang lebih kompleks tetapi masih berada dalam ruang  lingkup yang relatif dapat diprediksi .

Pendekatan ini sangat efektif pada era industri sebelumnya  ketika sebagian besar pekerjaan bersifat rutin, prosedural, dan dapat distandarisasi. Persoalannya,  pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rutin dan prosedural justru merupakan pekerjaan yang paling  rentan digantikan oleh kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved