Pendidikan Politeknik di Era Disrupsi
pendidikan politeknik telah menjadi salah satu instrumen penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -
Pendidikan Politeknik di Era Disrupsi
Oleh : Iwan Ridwan, S.T., M.T., Ph.D
Dosen Politeknik Negeri Bandung
Selama hampir 5 dekade, pendidikan politeknik telah menjadi salah satu instrumen penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Kehadirannya dilandasi oleh kebutuhan dunia industri terhadap tenaga profesional yang memiliki keseimbangan antara penguasaan teori dan keterampilan praktik.
Pendidikan politeknik dirancang untuk menghasilkan tenaga ahli tingkat menengah serta menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan.
Sejarah pendidikan politeknik di Indonesia dimulai pada tahun 1973 melalui pembangunan Politeknik Mekanik Swiss–Institut Teknologi Bandung sebagai hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Swiss. Pendidikan Diploma Tiga mulai diselenggarakan pada tahun 1976. Selanjutnya, sejak tahun 1982 pemerintah mengembangkan politeknik di berbagai wilayah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia, ADB, serta negara-negara mitra seperti Swiss, Jerman, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
Pada tahun 1989, melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, politeknik secara resmi diakui sebagai perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja dan industri.
Sejak awal, filosofi pendidikan politeknik dibangun berdasarkan konsep link and match, yaitu keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Politeknik didesain untuk menghasilkan lulusan yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di lapangan dengan pendekatan praktis dan aplikatif.
Oleh karena itu, pendidikan politeknik selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung penyediaan tenaga kerja terampil bagi sektor manufaktur, konstruksi, teknologi, pertanian, bisnis, dan berbagai sektor produktif lainnya.
pendidikan politeknik yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri pada era 1970-an kini menghadapi realitas baru yang jauh berbeda.
Kita sedang memasuki era disrupsi yang ditandai oleh perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), robotika, Internet of Things, big data, komputasi cloud, teknologi digital, dan otomatisasi. Perubahan ini tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mengubah jenis kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
Dalam paradigma pendidikan vokasi saat ini, lulusan Diploma Tiga umumnya dipersiapkan untuk menyelesaikan well-defined problems, yaitu masalah yang prosedur penyelesaiannya sudah jelas dan terstruktur.
Sementara itu, lulusan Sarjana Terapan dipersiapkan untuk menyelesaikan broadly-defined problems, yaitu masalah yang lebih kompleks tetapi masih berada dalam ruang lingkup yang relatif dapat diprediksi .
Pendekatan ini sangat efektif pada era industri sebelumnya ketika sebagian besar pekerjaan bersifat rutin, prosedural, dan dapat distandarisasi. Persoalannya, pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rutin dan prosedural justru merupakan pekerjaan yang paling rentan digantikan oleh kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi.
| Bersaing Sengit, Ratusan Mahasiswa Nusantara hingga Mancanegara Ramaikan KPI ke-16 di Polban |
|
|---|
| Ratusan Mahasiswa Nasional dan Internasional Ramaikan Kompetisi Pariwisata Indonesia di Polban |
|
|---|
| Semarak Kompetisi Pariwisata ke-16, Polban Undang Kampus dari Filipina dan Mesir |
|
|---|
| Polban Rayakan Dies Natalis ke-47 dengan Fokus Penguatan Inovasi dan Keilmuan |
|
|---|
| Prof Maria Soetanto Dikukuhkan Jadi Guru Besar Polban, Kembangkan Inovasi Turbin Angin |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Iwan-Ridwan-ST-MT-PhD-Dosen-Politeknik-Negeri-Bandung.jpg)