Rabu, 3 Juni 2026

Mahasiswa Dampingi UMKM Naik Kelas Lewat Program Apindo UMKM Merdeka

Program Apindo UMKM Merdeka (AUM) Jawa Barat menunjukkan perannya sebagai jembatan antara dunia akademik dan dunia usaha. 

Tayang:
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
PROGRAM AUM JABAR - Kegiatan monthly review Program Apindo UMKM Merdeka (AUM) Jawa Barat di Sekertariat Apindo Jabar. Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, program yang merupakan bagian dari skema Kampus Merdeka ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa, tetapi juga membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meningkatkan kapasitas usahanya. 
Ringkasan Berita:
  • Program Apindo UMKM Merdeka (AUM) Jawa Barat menunjukkan perannya sebagai jembatan antara dunia akademik dan dunia usaha. 
  • Program Apindo UMKM Merdeka dirancang untuk menciptakan sinergi antara kampus dan dunia usaha
  • Melalui program AUM Jabar, mahasiswa terjun langsung ke lapangan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi oleh UMKM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Program Apindo UMKM Merdeka (AUM) Jawa Barat menunjukkan perannya sebagai jembatan antara dunia akademik dan dunia usaha. 

Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, program yang merupakan bagian dari skema Kampus Merdeka ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa, tetapi juga membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meningkatkan kapasitas usahanya.

Evaluasi program yang berlangsung setelah masa pendampingan Maret hingga Juni menjadi ajang untuk melihat perkembangan UMKM yang selama kurang lebih empat bulan didampingi oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Sekretaris Eksekutif Apindo Jawa Barat, Darius, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menciptakan sinergi antara kampus dan dunia usaha. 

“Melalui program ini, mahasiswa terjun langsung ke lapangan untuk membantu UMKM menyelesaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi,” kata Darius saat ditemui di Sekertariat Apindo, Jalan Merdeka, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, mahasiswa yang mengikuti program memperoleh konversi nilai hingga 20 SKS dari kampus masing-masing. 

Penilaian diberikan berdasarkan kinerja mereka selama melakukan pendampingan kepada pelaku usaha.

“Mahasiswa turun langsung membantu UMKM dalam berbagai aspek, mulai dari pengelolaan keuangan, pemasaran hingga digital marketing. Tujuannya agar UMKM bisa naik kelas dan lebih siap menghadapi persaingan usaha,” ujarnya.

Selama masa pendampingan, mahasiswa membantu pelaku usaha memahami pentingnya tata kelola bisnis yang baik, termasuk memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Selain itu, mereka juga mendampingi UMKM dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi dan pemasaran.

Darius menegaskan, Apindo memiliki komitmen kuat untuk terus membina UMKM karena sektor tersebut merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

Sementara itu, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba, Firman Shakti Firdaus, Ph.D., yang menjadi mentor dalam program tersebut menilai AUM memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

Tahun ini Apindo bekerja sama dengan Unisba dan melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai program studi. Firman dipercaya menjadi mentor bagi dua kelompok mahasiswa sekaligus.

Menurutnya, proses seleksi dilakukan secara internal di kampus karena jumlah pendaftar lebih banyak dibanding kuota yang tersedia. 

Mahasiswa yang terpilih berasal dari berbagai fakultas dan sengaja dipadukan dalam satu kelompok agar memiliki perspektif yang beragam.

“Ada yang dari Manajemen, Akuntansi, Psikologi, sampai Syariah. Mereka digabung dalam satu kelompok supaya bisa saling melengkapi saat mendampingi UMKM,” ujarnya.

Firman menjelaskan, sebagian besar peserta merupakan mahasiswa semester enam dan tujuh yang secara teori sudah memiliki bekal pengetahuan. 

Namun, program ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk merasakan langsung dinamika dunia usaha.

“Mahasiswa memang berperan sebagai konsultan bagi UMKM, tetapi pada saat yang sama mereka juga sedang belajar memahami berbagai persoalan bisnis secara nyata,” kata Firman.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa diminta mengobservasi empat aspek utama, yakni tata kelola usaha, organisasi, produksi, dan permodalan. Namun karena waktu pendampingan terbatas, fokus bantuan lebih diarahkan pada kebutuhan paling mendesak yang dirasakan oleh masing-masing UMKM.

Salah satu bidang yang paling banyak disentuh mahasiswa adalah pemasaran digital. Tidak sedikit UMKM yang belum memiliki akun media sosial atau belum mampu mengelolanya secara optimal karena keterbatasan waktu.

“Ada yang belum punya akun media sosial sama sekali, lalu dibuatkan. Ada juga yang sudah punya tetapi tidak sempat mengelola karena pemilik usaha harus mengurus produksi dan penjualan sekaligus. Mahasiswa kemudian membantu membuat konten dan mengelola akun Instagram mereka,” kata Firman.

Ia menambahkan bahwa kondisi UMKM yang didampingi sangat beragam. Ada yang sudah memiliki tata kelola dan pemasaran yang baik bahkan berhasil masuk ke pusat perbelanjaan besar, ada pula yang masih menjalankan usaha secara sederhana dengan jangkauan pasar lokal.

Keberagaman kondisi tersebut menjadi pengalaman belajar yang kaya bagi mahasiswa karena mereka harus menyesuaikan pendekatan dan solusi dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.

Bagi mahasiswa, program ini membuka kesempatan untuk menerapkan ilmu dari berbagai disiplin keilmuan. Salah satunya dirasakan oleh Ghaida, mahasiswa Psikologi Unisba yang terlibat dalam pendampingan UMKM.

Ia mengaku awalnya banyak yang mengira ilmu psikologi tidak memiliki hubungan langsung dengan dunia usaha.

“Setelah terjun ke lapangan, saua menemukan banyak aspek bisnis yang berkaitan erat dengan perilaku manusia. Melalui mata kuliah Psikologi Konsumen saya membantu UMKM memahami bagaimana menarik perhatian konsumen melalui kemasan produk, strategi komunikasi, hingga perilaku pembelian pelanggan,”kata Ghaida.

Selain itu, ia juga melihat bahwa suasana kerja dan kondisi psikologis karyawan berpengaruh terhadap kualitas produk yang dihasilkan.

“Ternyata mood atau suasana hati saat bekerja bisa memengaruhi kualitas makanan yang dibuat. Dari situ kami belajar bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik agar kualitas produk juga meningkat,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Arsel, mahasiswa Psikologi lainnya yang ikut dalam program AUM. Ia menjelaskan bahwa pendekatan psikologi digunakan saat melakukan wawancara, asesmen, hingga memahami struktur organisasi dan pola kerja di UMKM.

Menurutnya, pemahaman terhadap aspek manusia menjadi bagian penting dalam membantu pelaku usaha berkembang.

“Selain belajar tentang bisnis, saya juga dituntut kreatif dalam membuat konten digital untuk mendukung promosi UMKM. Tantangan ini justru menjadi pengalaman menarik karena kami terbiasa dengan media sosial seperti TikTok dan Instagram,” ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved