Arief Sebut Ekonomi Jabar Tumbuh, Tapi Nilai Belum Menyentuh Rakyat Kecil
Arief Maoshul Affandy, menyoroti pertumbuhan ekonomi Jabar yang secara statistik positif, namun dinilai belum berdampak signifikan bagi masyarakat
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Siti Fatimah
Ringkasan Berita:
- Anggota Komisi II DPRD Jabar dari Fraksi PPP, Arief Maoshul Affandy, menyoroti pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang secara statistik positif, namun dinilai belum berdampak signifikan bagi masyarakat di lapisan bawah
- Arief menyebut, kondisi ekonomi Jabar saat ini menunjukkan gejala anomali
- Pemerintah perlu memastikan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, terutama pelaku usaha kecil dan pekerja lokal
Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Nazmi Abdurrahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Anggota Komisi II DPRD Jabar dari Fraksi PPP, Arief Maoshul Affandy, menyoroti pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang secara statistik positif, namun dinilai belum berdampak signifikan bagi masyarakat di lapisan bawah.
Arief menyebut, kondisi ekonomi Jabar saat ini menunjukkan gejala anomali.
Di satu sisi, sektor manufaktur terutama ekspor masih menguat, namun di sisi lain daya beli masyarakat justru tertekan.
“Secara statistik tumbuh, tapi ini agak anomali. Ekspor manufaktur kita kuat, tapi daya beli domestik sedang diuji oleh inflasi pangan dan ketidakpastian global,” ujar Arief, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tersebut juga ditopang oleh tingginya investasi, baik penanaman modal asing maupun dalam negeri, khususnya di sektor otomotif dan elektronik.
Namun, manfaatnya belum merata.
“Pertumbuhan ini masih didominasi oleh sebagian kelompok. Tidak selalu berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal,” katanya.
Arief menilai, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan harapan masyarakat terhadap penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
Di sisi lain, ia melihat adanya kesenjangan cukup lebar antara pertumbuhan ekonomi makro dengan kondisi riil pelaku usaha kecil.
"Jujur, ada gap yang cukup lebar. Pertumbuhan ekonomi makro masih banyak berputar di atas,” ucapnya.
Arief mencontohkan sektor UMKM yang saat ini menghadapi tekanan berat, mulai dari gempuran produk impor murah hingga persaingan di platform digital.
“Produk impor murah dan sistem digital yang cenderung predatorik membuat UMKM kita kesulitan bersaing,” katanya.
Selain itu, kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras dan energi turut menggerus pendapatan masyarakat, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara nyata.
“Biaya hidup naik, terutama pangan dan energi. Akhirnya masyarakat merasa ekonominya jalan di tempat,” ujarnya.
Arief menegaskan, ke depan pemerintah perlu memastikan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, terutama pelaku usaha kecil dan pekerja lokal.
| DPRD Jawa Barat Dorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Berbasis Pemerataan dan Akses Modal |
|
|---|
| Optimalkan Tata Kelola Aset, Komisi I DPRD Jabar Gali Referensi ke BPAD dan BPKAD DKI Jakarta |
|
|---|
| HKTI 2026, Andhika Surya Gumilar: Perkuat Sinergi demi Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani |
|
|---|
| Aten Munajat: UTBK-SNBT Harus Jadi Simbol Keadilan Pendidikan, Bukan Sekadar Seleksi |
|
|---|
| DPRD Jabar Ajak Semua Pihak Awasi UTBK 2026, Tekankan Kejujuran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-Jawa-Barat-dari-fraksi-PPP-H-Arief-Maoshul-Affandy5.jpg)