Era Kecerdasan Buatan, Unisba Tegaskan Penelitian Harus Tetap Turun ke Lapangan
Kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat mahasiswa mengabaikan proses riset di dunia nyata.
Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Meski teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mampu merampungkan artikel ilmiah dalam waktu singkat, Universitas Islam Bandung (Unisba) tetap memandang bahwa esensi penelitian terletak pada keterlibatan langsung di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Rektor Unisba Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU. dalam acara Seminar Nasional Sivitas Akademika (SPeSIA) 2025 Gelombang 2 bertema “Mewujudkan Pembangunan Indonesia Emas Melalui Islam-Smart-Lokal”, di Aula Utama Unisba, Selasa (11/8/2025).
“Sekarang ada mesin yang bisa membuatkan artikel lengkap dari judul sampai daftar referensi. Tapi yang membedakan penelitian manusia dengan mesin adalah nafas penelitiannya alur pikir, pemahaman konteks, dan kedalaman analisis yang hanya bisa diperoleh dengan turun langsung ke lapangan,” ujarnya.
Baca juga: Final Humanistik Debate Competition HUBATION 2025, Soroti Isu AI dan Relasi Sosial
Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat mahasiswa mengabaikan proses riset di dunia nyata.
Kecerdasan buatan atau artificial inteligen sendiri merupakan ilmu komputer yang fokus pada pengembangan sistem yang mampu melakukan tugas-gutas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.
AI mempunyai sejumlah kemampuan, untuk mengotomatisasi tugas, menganalisis data, hingga mengambil keputusan.
Oleh karena itu, Unisba menerapkan pemeriksaan similarity index untuk mengidentifikasi karya yang berpotensi hasil tiruan atau terlalu mengandalkan AI.
Similarity index atau indeks kemiripan merujuk pada persentase yang menunjukkan seberapa banyak teks yang memiliki kemiripan atau kesamaan dengan sumber-sumber lain.
Istilah ini kerpa digunakan dalam bidang akademi untuk mendeteksi potensi plagiarisme.
“Kami punya 100 slot similarity check. Hasil karya buatan mesin biasanya hanya merujuk pada data digital yang sudah ada. Sementara hasil penelitian di lapangan punya bahasa dan pemikiran berbeda, yang memuat pengalaman dan observasi langsung,” katanya.
Hingga saat ini, kata Prof. Harits, belum ditemukan kasus artikel buatan AI di SPeSIA berkat ketatnya prosedur seleksi, termasuk persetujuan pembimbing sebelum naskah masuk.
Dia menuturkan, SPeSIA kini terbuka secara nasional bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
“Kalau dulu hanya diikuti oleh mahasiswa Unisba saja, sekarang kami membuka kesempatan bagi mahasiswa dari luar, bahkan dipublikasikan secara masif,” ucapnya.
Baca juga: Kasus Pengeroyokan Haykal Dekat Unisba, Kuasa Hukum Tegaskan Aqifa Korban Penganiayaan, Bukan Pelaku
Tahun ini, sebanyak 1.324 artikel dipresentasikan oleh mahasiswa dari Unisba dan perguruan tinggi mitra seperti Universitas Bakti Kencana dan 34 PT binaan lainnya.
| Alasan Persaingan Pencari Kerja di Bandung Semakin Ketat: Status Kota Terbuka dan Urbanisasi |
|
|---|
| Fokus Benahi Bandung, Farhan Pastikan Kolaborasi dengan Pemprov untuk Percepat Penanganan |
|
|---|
| Farhan Jamin Job Fair di Bandung Bukan Formalitas, Batas Usia dan Pengalaman jadi Perhatian |
|
|---|
| Setelah Disentil KDM. Wali Kota Bandung Kini Ultimatum Penyapu Jalan: Dipecat Jika Terlambat |
|
|---|
| Wali Kota Bandung Ancam Pecat Penyapu Jalan Jika Terlambat ke Lokasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Rektor-Unisba-Prof-Ir-A-Harits-Numan-128.jpg)