Jumat, 24 April 2026

Dedi Mulyadi Sindir Emak-emak yang Antar Anak Sekolah Sampai Kelas, Bandingkan dengan Putrinya

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan sindiran kepada emak-emak yang mengantar anak sampai depan kelas, bandingkan dengan Ni Hyang.

Editor: Hilda Rubiah
Kolase Dok Dedi Mulyadi - Net
KOMENTAR DEDI MULYADI - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (kiri) dan ilustrasi ruang kelas - Dedi Mulyadi memberikan sindiran kepada emak-emak yang mengantarkan anak sampai depan kelas, bandingkan dengan Ni Hyang. 

TRIBUNJABAR.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan sindiran kepada emak-emak yang mengantar anak sampai depan kelas.

Bukan tanpa alasan, Dedi Mulyadi menyinggung hal tersebut terkait pembentukan karakter.

Dedi Mulyadi pun membandingkan keseharian siswa sekolah yang sering diantar orang tua sampai depan kelas itu dengan putrinya, Ni Hyang Sukma Ayu.

Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi kepada Kompas.com, Selasa (29/7/2025).

Menurut Dedi Mulyadi, pendidikan bukan hanya soal belajar di kelas, tapi mencakup seluruh proses pembentukan karakter, termasuk dari rumah menuju sekolah dan sebaliknya. 

Baca juga: Komentar Para Kepala Daerah yang Izinkan Study Tour, Langgar Kebijakan Dedi Mulyadi

“Pendidikan itu bukan hanya tentang belajar di sekolah. Tapi rangkaian dari rumah ke sekolah dan sebaliknya itu adalah pendidikan juga,” tegasnya. 

Dedi Mulyadi mencontohkan pengalaman pribadi saat mengantar anak bungsunya, Ni Hyang Sukma Ayu, bersekolah di SD. 

Menurut Dedi Mulyadi, anak sebaiknya dibiarkan berjalan kaki ke sekolah.

Ia mengkritisi budaya antar-jemput anak yang terlalu memanjakan siswa hingga ke depan ruang kelas.

“Saya lihat guru terlalu fokus belajar di kelas. Guru biarkan emak-emak antar anaknya sampai depan kelas. Saya minta jangan sampai depan banget, biarkan anak jalan kaki, itu bagian dari pendidikan juga,” tuturnya. 

Tak hanya itu, ia juga menyoroti soal budaya kebersihan di sekolah

Dedi Mulyadi mengamati, banyak siswa yang tidak dilibatkan dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah, sehingga kesadaran ekologis mereka tidak terbangun sejak dini. 

“Jumlah anak-anak itu ratusan. Tapi yang nyapu halaman sekolah hanya petugas kebersihan. Anak-anak tidak dilibatkan. Padahal, menyapu dan memungut sampah itu juga bagian dari pendidikan karakter,” ucap Dedi Mulyadi.

Ia mengungkapkan bahwa karakter anak bisa terbentuk lewat pengalaman langsung. 

Menurut Dedi Mulyadi Ni Hyang, misalnya, sudah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan karena terbiasa mengamati perilaku orang di sekitarnya. 

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved