Curang, 60 Persen Beras di Pasaran Ternyata Bukan Beras Premium, Terungkap dari Kajian IPB

Rupanya, ada sekitar 60 persen beras yang beredar tidak memenuhi kategori premium sesuai klaim kemasan.

(Kolase Tribunnews.com/Gita Irawan)
DUGAAN BERAS OPLOSAN - Beras kemasan dipajang di salah satu minimarket di Jakarta Selatan, Selasa (1/6/2025). Berikut ini 21 merek beras diduga oplosan. Termasuk dari Wilmar Group yakni Sania hingga Fortune, juga dari PT Food Station Tjipinang Jaya. (Kolase Tribunnews.com/Gita Irawan) \ 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Terungkapnya praktik curang dalam industri perdagangan beras premium jadi sorotan.

Terungkap, praktik kecurangan produsen beras marak dilakukan, dari penggunaan label palsu hingga bobot kemasan yang atk sesuai.

Praktik curang tersebut terungkap berdasarkan hasil kajian lapangan tim Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal tersebut dibenarkan Guru Besar IPB, Prof Edi Santosa.

Untuk mengetahui praktik kecurangan tersebut, tim IPB turun langsung ke pasar-pasar di 10 provinsi untuk memeriksa jenis beras, kesesuaian label dan isi kemasan, hingga harga jual.

Baca juga: Heran, Produksi Surplus Tapi Harga Beras Tinggi di Atas HET, Khudori: Pemerintah Sibuk Menumpuk

Hasilnya, terungkap bahwa sebagian beras tidak sesuai mutu dan berat seperti dalam label.

Rupanya, ada sekitar 60 persen beras yang beredar tidak memenuhi kategori premium sesuai klaim kemasan.

“Kalau yang kami kaji itu awalnya itu adalah beras yang ada di pasar 10 provinsi itu kami datangi, kemudian dicek, ditimbang, diklasifikasikan dulu ini medium apa premium, ditimbang labelnya berapa bobotnya, cocok enggak,” ujar Prof. Edi kepada Tribun Network, Senin (14/7/2025).

Kerugian Negara Nyaris Rp100 Triliun

Kajian tersebut menyimpulkan bahwa praktik ini berpotensi menyebabkan kerugian negara hingga Rp100 triliun.

Namun Prof. Edi menekankan bahwa tidak semua kesalahan bisa langsung dibebankan ke produsen, karena rantai distribusi melibatkan banyak pihak.

“Kalau wadahnya palsu itu kita nggak bisa ngecek. Hanya yang punya produk itu yang bisa ngecek, misalnya beras merek X,” ujarnya.

Selain itu, bobot beras juga sering kali tak sesuai. Banyak produk 5 kg yang setelah ditimbang ternyata kurang dari itu.

“Misalnya 5 kilogram, ternyata begitu ditimbang 4,99 kilogram,” jelasnya.

Faktor penyebabnya bisa beragam, mulai dari timbangan tidak terkalibrasi hingga penyimpanan di gudang bersuhu tidak standar, yang menyebabkan penguapan air dan penyusutan berat beras.

“Siapa yang melakukan, apakah sengaja atau tidak, itu nggak bisa langsung salahkan produsen. Itu prosesnya panjang,” tegasnya.

Baca juga: 8 Ciri Beras Asli dan Oplosan menurut Pakar IPB Prof Tajuddin Bantacut, Terasa Manis setelah Dimasak

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved