Rabu, 29 April 2026

Konflik Israel dan Iran

Analisis Pengamat Unpar Soal Konflik Iran-Israel Ditambah Serangan AS, Indonesia Perlu Mitigas BBM

Indonesia perlu menyiapkan mitigasi untuk menjaga ketersediaan dan harga BBM untuk kebutuhan dalam negeri demi menjaga daya beli masyarakat.

Tayang:
Tangkapan layar Youtube Al Jazeera
IRAN VS ISRAEL - Tangkap layar video serangan balasan Iran ke Israel. Iran mengatakan telah menembakkan ratusan rudal balistik ke Israel sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas nuklir dan para pemimpin militernya, Jumat (13/6/2025). Terbaru, Amerika ikut bantu Israel serang Iran. Pengamat ingatkan Indonesia perlu menyiapkan mitigasi untuk menjaga ketersediaan dan harga BBM untuk kebutuhan dalam negeri demi menjaga daya beli masyarakat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Aknolt Kristian Pakpahan, memberikan analisis soal dampak peperangan yang terjadi antara Iran dan Israel ditambah munculnya Amerika Serikat dalam perang tersebut.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi telah mengumumkan keterlibatan AS dalam konflik Iran dan Israel dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Esfahan.

Menurut Aknolt, serangan Amerika Serikat ini akan memunculkan konsekuensi baru.

"Pertama, serangan ini dikhawatirkan akan memicu keterlibatan pihak lain dalam konflik Iran dan Israel, seperti Rusia dan Cina,"

"Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam beberapa kesempatan menjelaskan Rusia mendukung Iran untuk mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. Putin juga menekankan Rusia dan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) tidak menemukan bukti kuat bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir," kata Aknolt saat dihubungi, Minggu (22/6/2025).

Baca juga: Biasa Hobi Serang Rumah Sakit, Giliran RS Soroka Kena Rudal Iran, Menkes Israel: Kejahatan Perang

Pernyataan ini sekaligus menunjukkan posisi Rusia dalam konflik Iran dan Israel (sebelum serangan Amerika Serikat), sekiranya Amerika Serikat membantu Israel dalam konflik ini.

Hal kedua, kata Aknolt, jika sebelumnya Iran tidak pernah mengancam akan mengganggu Selat Hormuz sebagai lalu lintas tanker minyak mentah dari kawasan Timur Tengah, maka dikhawatirkan akibat serangan Amerika Serikat, Iran akan menutup jalur vital tersebut dan pasti akan berdampak pada harga minyak mentah dunia.

"Ketiga, serangan Amerika Serikat ini dikhawatirkan akan mendorong Iran mengembangkan program nuklirnya. Dunia tidak pernah tahu sekiranya Iran memiliki lokasi fasilitas nuklir rahasia selain tiga wilayah yang digempur Amerika Serikat,"

"Dikhawatirkan, dengan pengembangan program nuklir ini, stabilitas politik dan ekonomi dunia akan terganggu," ujarnya.

Disinggung terkait dampak terhadap Indonesia dari konflik ini, Aknolt menyebut situasi Timur Tengah yang menjadi tak pasti akan memberikan pukulan pada upaya perdamaian dan perjuangan kemerdekaan Palestina yang selama ini digaungkan Indonesia. 

"Upaya ini menjadi semakin sulit, karena keterlibatan Amerika Serikat. Dalam situasi perang dagang yang lalu, Indonesia masih dalam posisi bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk mendapatkan pengurangan (atau penghapusan) tarif impor dan resiprokal yang ditetapkan Amerika Serikat,"

"Tapi, dengan situasi ini, tentu posisi Indonesia akan menjadi dilematis. Skenario yang paling tepat dilakukan Indonesia adalah memberikan kecaman akan serangan Amerika Serikat ini karena tidak ada bukti (seperti dibenarkan oleh IAEA) bahwa Iran mengembangkan program senjata nuklirnya, sambil terus mendorong proses gencatan senjata dan perdamaian di antara pihak yang berkonflik," katanya.

Baca juga: Si Kalem Pilih Stay di Persib Tapi Sedih 13 Rekannya Pergi, Berharap Penggantinya Lebih Bagus

Dampak lainnya, kata Aknolt ialah ancaman akan naiknya harga minyak mentah dunia yang pasti akan berdampak pada harga BBM di dalam negeri. 

"Jangan dilupakan, Indonesia saat ini sedang memasuki program penghematan yang ditandai dengan berbagai efisiensi yang ditekankan oleh Presiden RI, Prabowo Subianto. Dengan ancaman ini, Indonesia perlu menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan dan harga BBM untuk kebutuhan dalam negeri untuk terus menjaga daya beli masyarakat, menjaga ancaman inflasi, dan mendukung aktivitas produksi sektor industri di Indonesia," katanya.(*)

 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved