Jumat, 15 Mei 2026

Desain Unik, Produk Dekorasi Rumah dari Bambu Indonesia Makin Diminati di Australia

Selain bambu, produk dekorasi dari rotan asal Indonesia juga cukup populer karena desainnya yang unik, kualitas bahan yang bagus

Tayang:
tribunjabar.id / Padna
ILUSTRASI PRODUK BAMBU - Yayan Sutisna (44) warga Kota Banjar, Jawa Barat, kelola limbah organik yang memanfaatkan potongan batang bambu dan batok tempurung kelapa.   

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Produk dekorasi rumah dari bambu buatan Indonesia kini semakin diminati oleh masyarakat Australia. Keindahan alami, sentuhan budaya, dan bahan yang ramah lingkungan menjadi daya tarik utama dari produk ini.

“Produk bambu Indonesia terkenal dengan sentuhan handmade, desain artistik, dan nilai budaya yang kuat, menciptakan daya tarik emosional yang sulit disaingi produk massal,” ujar Fikrie Aldjoeffry dari Export Expert Indonesia, Selasa (13/5/2025).

Fikrie mengatakan tren konsumen di Australia memang sedang bergeser ke arah produk yang berkelanjutan dan alami. 

Baca juga: Rotan dan Jati Siap Ekspor di Gudang di Cirebon Ludes Terbakar, Damkar Kewalahan Padamkan Api

Selain bambu, produk dekorasi dari rotan asal Indonesia juga cukup populer karena desainnya yang unik, kualitas bahan yang bagus, dan proses produksi yang memperhatikan lingkungan. 

“Selama lima tahun terakhir (2018–2022), ekspor dekorasi rumah dari Indonesia tumbuh sebesar 13,98 persen, sementara ekspor furnitur naik 11,67 persen,” ujarnya.

Agar lebih menarik bagi pasar Australia, Atase Perdagangan RI di Canberra, Agung Haris Setiawan menyarankan agar produk dekorasi dari Indonesia dibuat dengan desain yang simpel, warna-warna netral, dan menonjolkan unsur keberlanjutan. 

“Sentuhan personal atau handmade yang unik juga bisa mencerminkan karakter pemilik rumah. Kalau bisa, produk juga terintegrasi dengan teknologi pintar untuk mempermudah kegiatan sehari-hari,” katanya.

Potensi pasar Australia sendiri cukup besar, apalagi ada sekitar 120 ribu warga diaspora Indonesia yang tinggal di sana. Mereka bisa menjadi jembatan bagi pelaku usaha di tanah air yang ingin menembus pasar luar negeri.

Untuk membantu pelaku usaha Indonesia menjangkau pasar Australia dan Selandia Baru, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) bekerja sama dengan Atase Perdagangan Canberra dan Export Expert Indonesia menggelar acara Market Brief dan Pitching Pasar di Jakarta beberapa waktu lalu. 

Kepala Divisi SMEs Advisory LPEI, Maria Sidabutar mengatakan bahwa LPEI tidak hanya memberikan pembiayaan, tapi juga pendampingan dan edukasi bagi pelaku usaha yang baru ingin ekspor.

“Kami punya program seperti Business Matching, Desa Devisa, dan Coaching Program for New Exporters (CPNE) untuk membantu UMKM naik kelas dan siap masuk pasar global,” ujar Maria

Di acara ini, juga dilakukan peluncuran awal layanan chatbot KSATRIA berbasis AI, yang bisa diakses oleh pelaku usaha untuk mendapatkan informasi seputar ekspor.

Baca juga: Dorong UMKM Go International, Bank Mandiri Kenalkan Rumah Ekspor Garut

Nilai ekspor Indonesia ke Australia sendiri terus meningkat. Sepanjang tahun 2024, total perdagangan kedua negara mencapai USD 13,47 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 5,59 miliar. 

Ekspor nonmigas bahkan naik 60,58 persen dibanding tahun sebelumnya, yang membantu mengurangi defisit perdagangan Indonesia terhadap Australia sebesar 30 persen.

Dengan tren positif ini dan semakin banyaknya produk lokal yang ramah lingkungan dan bernilai seni tinggi, peluang produk bambu dan rotan dari Indonesia untuk berkembang di pasar Australia pun terbuka lebar.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved