Jumat, 15 Mei 2026

Digempur Impor dan Tarif Baru Trump, Pengamat: Industri Tekstil dalam Masalah Serius

Pemerintah harus membuat peta jalan yang jelas dalam mempertahankan keberlangsungan industri tekstil.

Tayang:
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Januar Pribadi Hamel
Tribun Jabar/Nazmi Abdurahman
SUASANA DISKUSI - Suasana diskusi "The Trump Effect and The Future of Indonesian Textile: Geopolitics, Human Resources, Export Opportunities, and The Challenge of Illegal Imports" di Indo Intertex 2025, Kamis (18/4/2025). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah harus membuat peta jalan yang jelas dalam mempertahankan keberlangsungan industri tekstil.

Saat ini, industri tekstil dalam negeri dalam permasalahan serius. Tak sedikit pabrik bertumbangan karena tak kuat mempertahankan produksinya di tengah serbuan impor tekstil dari berbagai negara khususnya China.

Hal itu diungkapkan Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio saat diskusi "The Trump Effect and The Future of Indonesian Textile: Geopolitics, Human Resources, Export Opportunities, and The Challenge of Illegal Imports" di Indo Intertex 2025, Kamis (18/4/2025).

Dikatakan Agus, saat ini berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sering kali bukan karena kebutuhan sebagai bangsa, tapi sekadar kebijakan populis. Alhasil, kebijakan yang ada bukan berdasarkan rencana jangka panjang demi kesejahteraan masyarakat, termasuk di Industri Tekstil.

"Sekarang ini banyak master plan yang tidak jelas. Misalkan ada Peraturan Pemerintah (PP) kemudian turun jadi peraturan menteri (Permen) atau lainnya, tapi ga ada yang tahu karena belum tentu dijalankan dengan benar," ujar Agus 

Menurutnya, sejumlah industri termasuk tekstil di Indonesia sekarang sedang tertekan karena tidak ada upaya pasti dari pemerintah agar sektor tersebut mampu bertahan atau tumbuh di tengah persaingan global. Alhasil sejumlah negara yang dulu kalah oleh Indonesia sekarang jadi pesaing ketat. 

Pemerintah, kata dia, perlu membuat peta jalan lebih jelas untuk keberlangsungan industri tekstil, sehingga pabrik yang ada saat ini bisa bersaing dengan industri dari luar negeri. 

"Jangan sampai keabaian pemerintah semakin membuat industri tekstil perlahan makin sedikit jumlahnya dari dalam negeri," katanya.

Sementara itu, Akademisi Tekstil dari Politeknik STTT Bandung, Dr. Gunawan mengatakan, adanya kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan kenaikan tarif impor dari sejumlah negara termasuk Indonesia jelas akan memberikan dampak pada industri tekstil

Apalagi Amerika selama ini menjadi salah satu negara dengan pengiriman produk tekstil terbesar dari dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2023, nilai ekspor pakaian jadi mencapai Rp10,34 triliun. 

Dari nilai tersebut Amerika menempati negara terbesar dengan capai 54 persen. Kenaikan tarif impor pun diprediksi akan memengaruhi jumlah ekspor produk TPT ke Negeri Paman Sam tersebut.

"Harus ada strategi yang dilakukan agar Indonesia bisa mencari pasar ekspor lain khususnya kawasan Eropa, dengan tidak adanya perang tarif dari kawasan tersebut, ini jadi peluang yang harus bisa dimaksimalkan," ujar Gunawan.

Gunawan menilai, Industri TPT Indonesia pada dasarnya mampu membuat berbagai jenis produk tekstil, namun ada beberapa kain khusus yang tidak dapat di buat misalnya protective fabric yaitu kain yang berfungsi untuk melindungi dari zat kimia berbahaya, panas, radiasi, dan lainnya, tinggal bagaimana intervensi teknologi, riset, mesin, dan SDM perlu dikembangkan lagi. (*)

Artikel TribunJabar.id lainnya bisa disimak di GoogleNews.

IKUTI CHANNEL WhatsApp TribunJabar.id untuk mendapatkan berita-berita terkini via WA: KLIK DI SINI

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved