Charlie Setia Band Protes Tak Boleh Live Music Saat Ramadan di Kota Cirebon, "Musik Itu Hidup"

Musisi ternama Indonesia asal Kabupaten Cirebon, Charlie Van Houten, protes terhadap kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Januar Pribadi Hamel
TRIBUN JABAR/ARSIP
PROTES - Musisi ternama Indonesia asal Kabupaten Cirebon, Charlie Van Houten, protes terhadap kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon yang melarang live music di restoran dan kafe selama bulan Ramadan, Rabu (19/3/2025). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto 

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Musisi ternama Indonesia asal Kabupaten Cirebon, Charlie Van Houten, protes terhadap kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon yang melarang live music di restoran dan kafe selama bulan Ramadan.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @charly_setiaku, Charlie menilai kebijakan tersebut berdampak besar terhadap para musisi lokal.

"Saya mendapatkan kabar bahwa pemerintah kota Cirebon melarang adanya live musik di restoran-restoran dan di kafe-kafe selama bulan Ramadan," ujar Charlie dalam unggahannya yang dikutip Tribun, Rabu (19/3/2025).

Menurut vokalis Setia Band itu, musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga sumber penghidupan bagi banyak musisi, khususnya di Kota Cirebon.

"Bagi saya, musik adalah bagian dari kehidupan, bukan hanya sekadar hiburan. Tetapi juga memberikan banyak nafkah bagi para musisi," ucapnya.

Baca juga: Pemkot Cirebon Larang Live Music saat Ramadhan, Denny Chasmala: Ya, Masa Tega?

Charlie juga menilai kebijakan Pemkot Cirebon tersebut tidak adil karena berdampak langsung pada keberlangsungan hidup musisi yang menggantungkan pendapatan dari live performance.

"Larangan ini pasti menjadi pukulan berat bagi para musisi yang telah menggantungkan hidupnya di industri ini."

"Saya sangat menghormati bulan suci Ramadan dan memahami pentingnya menjaga ketenangan dan kekhusyukkan dalam beribadah. Namun, kebijakan ini menurut saya sangat tidak adil," jelas dia.

Ia berpendapat, bahwa musik di restoran dan kafe bukanlah gangguan, melainkan bentuk ekspresi seni yang bisa tetap menjaga nilai-nilai Ramadan.

"Musik di restoran dan di kafe bukanlah gangguan, melainkan bentuk ekspresi seni yang menghidupkan suasana tanpa mengurangi nilai-nilai kesakralan bulan Ramadan," katanya.

Charlie pun mengajak Wali Kota Cirebon, Wakil Wali Kota, serta Dinas Pariwisata untuk berdialog dengan para musisi guna mencari solusi yang lebih adil.

"Oleh karena itu, ini saran saya kepada Bapak Wali Kota Kang Edo, Ibu Wakil Bu Farida, serta dinas-dinas terkait, ayo ajak para musisi untuk ngobrol dan berdiskusi."

"Jangan sampai ada yang merasa dibunuh ladangnya," ujarnya.

Selain Charlie, musisi Denny Chasmala juga sebelumnya menyoroti kebijakan ini melalui akun Instagramnya, @dennychasmala.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved