Minggu, 10 Mei 2026

Meta Akan Stop Cek Fakta, Bagaimana Nasib Media Massa Arus Utama?

Harian Kompas (14/1/25) juga menurunkan tulisan tentang  Rencana Meta Hentikan Cek Fakta Picu Kekhawatiran.  

Tayang:
Editor: Siti Fatimah
(WhatsApp Blog)
Ilustrasi Meta Ai 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -

Meta Akan Stop Cek Fakta, Bagaimana Nasib Media Massa Arus Utama?

Oleh

Nugroho Iman Santoso, Jurnalis Kompas Tv, Dosen Komunikasi, Alumni Kriminologi

Dua artikel di Kompascom, berjudul Program Cek Fakta Facebook dan Instagram Bakal Dihentikan, apa dampaknya

https://www.kompas.com/tren/read/2025/01/09/050000065/program-cek-fakta-facebook-dan-instagram-bakal-dihentikan-apa-dampaknya. 

Di saat yang berdekatan, Harian Kompas (14/1/25) juga menurunkan tulisan tentang  Rencana Meta Hentikan Cek Fakta Picu Kekhawatiran.  

Ini mengusik dan menarik perhatian saya, terlebih ketika KOMPAS menurunkan sejumlah artikel secara bersamaan mengenai rencana meta tersebut. 

Meta yang merupakan induk dari sejumlah platform media sosial seperti Instagram, Facebook, Threads akan mengganti program cek fakta mereka dengan catatan komunitas/ community notes. Yaitu catatan dari para pengguna aplikasi / netizen serta tim independen mereka untuk memverifikasi sebuah konten.

Platform medsos X  milik Elon Musk sudah lebih dulu melakukan cara ini untuk memverifikasi cuitan seseorang yang berpotensi hoax dan disinformasi.

Ke depan meta akan lebih percaya kepada ulasan para netizen dan tim mereka, dibandingkan para pakar/akademisi atau media massa arus utama sebagai landasan pengecekan fakta yang beredar dalam platform mereka.  

Ini sebuah kemunduran, karena di sinilah matinya kepakaran,serta kian meredupnya peran media massa arus utama.

Terlebih lagi di tengah masyarakat yang sangat rendah literasinya, seperti Indonesia.  

Meski peringkat literasi Indonesia di akhir tahun 2024 naik menurut indeks pembangunan literasi Masyarakat (IPLM) dari 69,42 di tahun 2023 menjadi 73, 52 di tahun 2024.

https://www.perpusnas.go.id/berita/iplm-2024-catat-rekor-tinggi-literasi-nasional-semakin-meningkat 

Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika berpendapat bahwa penghapusan cek fakta merupakan langkah mundur, karena selama ini cek fakta yang dilakukan telah membantu masyarakat memilah konten keliru yang menyesatkan.  Wahyu menambahkan bahwa hal tersebut juga  tidak terlepas dari kepentingan bisnis dan politik pendirinya, yaitu Mark Zuckerberg.

https://www.kompas.com/cekfakta/read/2025/01/10/111115182/penghapusan-program-cek-fakta-langkah-mundur-meta-lawan-disinformasi?page=all 

Perihal polemik penghapusan cek fakta oleh meta, KOMPAS sudah berupaya menghadirkan informasinya secara komprehensif.

Kolom Cek Fakta di laman Kompas.com juga tetap ada.

Lantas bagaimana dengan media massa arus utama ke depan?

Mari kita lihat dari sisi lainnya, yaitu sisi bisnis arus pendapatan dari media massa mainstream. 

Sekilas memang tidak ada korelasi langsung antara upaya meta tersebut dengan langkah bisnis media massa arus utama.

Tetapi, dikhawatirkan, cara Meta tersebut akan cepat merembet ke bisnis dan pendapatan media arus utama.

Bagi media massa arus utama, dengan adanya catatan komunitas, konten konten jurnalistik yang baik, faktual, mengedepankan independensi dan selalu melakukan kroscek akan bisa ditinggalkan penonton dan pembaca.  

Publik akan lebih percaya kepada para pemengaruh/konten kreator bahkan pendengung terhadap sebuah isu/ fakta/informasi. 

Jumlah klik, views, engagemnet dan subsriber akan menjadikan arena perang para konten kreator dan media massa terhadp suatu isu/fakta/informasi. 

Mereka akan berupaya menghasilkan dan menghadirkan konten konten sendiri yang seolah sahih.  

Bahkan, di sisi lain, para konten kreator berpotensi “menciptakan” para “user generated content” baru yang sebenarnya berafiliasi dengan konten kreator tersebut.  

Langkah Meta ini juga bisa semakin menyuburkan habitat para pendengung yang selama ini menjadi bagian dari penyebaran propaganda melalui konten media sosial yang sebenarnya keliru, tetapi dikemas seolah-olah sahih.

Motif ekonomi, bisnis dan politik, lah yang mendasari penyebaran propaganda ini. 

Media massa arus utama dengan konten jurnalistiknya akan berada dalam situasi tersebut, apabila kalah modal, apalagi jika arus revenuenya macet. Media berpotensi ditinggalkan publik, bahkan bisa padam seketika. 

Pukulan Meta tidak hanya dengan menghapus fitur cek fakta, tetapi juga meluncurkan MetaAI yang memaksa media arus utama bekerja lebih keras lagi supaya bisa bertahan agar tidak tidak tenggelam.

Kecerdasan buatan dan langkah meta ini mengubah landscape media.  

Media harus terus berinovasi, dan adaptif lebih cepat agar tidak ditinggal. 

Kalau dulu, sebuah media massa arus utama akan berinovasi itu setahun sekali, melalui rencana kerja tahunan. tetapi kini sepertinya media massa harus berinovasi hampir setiap bulan bahkan setiap hari agar bisa terus mengimbangi perubahan teknologi dan perubahan landscape bisnis media. 

Langkah meta ini perlu diantisipasi oleh seluruh stakeholder media massa arus utama dari sisi bisnis.

 Jangan sampai produk jurnalistik yang faktual, berbasis data, terverifikasi “dikeroyok” oleh catatan komunitas ala meta dan akhirnya babak belur digantikan oleh pendapat komunitas yang belum tentu benar dan sahih, bahkan bisa berubah menjadi propaganda dan berakhir dengan kesalahan logika massal.

Seberapa pun profesional, kredibel dan dipercayanya sebuah media massa arus utama saat ini akan menjadi tidak berarti, jika ke depannya tidak lagi menjadi rujukan para pemilik platform besar seperti Meta atau Google.   

Media akan makin sulit dan sempit ruang gerak bisnis dan usahanya.

Terlebih sampai saat ini aturan mengenai publisher rights juga belum terimplementasi.

Diperlukan terobosan bersama  para stakeholder media massa, untuk mengantisipasinya terutama dari sisi bisnis dan revenue.  

Semoga para stakeholder media massa arus utama menangkap “alert” ini.  

Semoga produk  jurnalisitk baik dan bermutu tidak kalah dari konten disinformatif, propagandis sebagai akibat kebijakan community notes. 

Sekiranya penggalan lirik dari penyanyi lagunya banyak diputar di aplikasi spotify 2024 Bernadya relate dengan kondisi saat ini dan masa depan.

” Ku karang cerita yang semula tak ada..caraku sampaikan seolah semua nyata..

Agar semuanya setuju, dan yakin pada pilihanku..memilihmu”

-Kini Mereka Tahu- Bernadya

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved