Breaking News
Kamis, 30 April 2026

Dompet Dhuafa Buktikan Manfaat Nyata Dampak ZISWAF Bagi Nelayan Pulau Panjang Banten

Sudirman pun mulai kesulitan membedakan warna dan jarak. Bahkan kadang kali, ia salah jalan saat di laut, apalagi saat gelap malam tiba.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Siti Fatimah
istimewa
Dompet Dhuafa membuktikan manfaat nyata dampak ZISWAF bagi nelayan Pulau Panjang, Banten 

TRIBUNJABAR.ID, SERANG - Di sebuah pulau kecil di Kabupaten Serang, bernama Pulau Panjang, tinggal seorang nelayan tangguh bernama Sudirman (54) yang sering mengarungi lautan. Hampir setiap hari, ia berlayar untuk mencari nafkah dengan menangkap ikan.

Namun, di balik senyumnya yang cerah, Sudirman menyimpan masalah yang perlahan-lahan mulai mengusik kehidupannya.

Penglihatannya yang kian hari kian kabur membuatnya kesulitan dalam menjalankan kewajibannya mencari nafkah, terutama saat melaut.

Paparan sinar matahari yang menyilaukan disertai air laut yang asin membuat matanya sering kali perih dan pedih.

Dompet Dhuafa Buktikan Manfaat Nyata Dampak ZISWAF Bagi Nelayan Pulau Panjang
Dompet Dhuafa Buktikan Manfaat Nyata Dampak ZISWAF Bagi Nelayan Pulau Panjang (istimewa)

Sudirman pun mulai kesulitan membedakan warna dan jarak. Bahkan kadang kali, ia salah jalan saat di laut, apalagi saat gelap malam tiba.

Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan, baik bagi dirinya maupun keluarganya.

Sebuah harapan baru pun muncul. Suatu hari, kabar gembira datang, bahwa sebuah program bakti sosial operasi katarak gratis akan diadakan di Pulau Panjang oleh Dompet Dhuafa melalui Program Bakti Sosial Rumah Sakit Achmad Wardi (RSAW).

Tanpa pikir panjang, Sudirman langsung mendaftarkan diri dari  59 orang yang ikut serta.

Hal ini dijelaskan, Sudirman ketika diwawancarai melalui telepon pada Jumat (01/11/2024),  Ia sangat berharap bisa kembali melihat dunia dengan jelas dan terang.

Sebelumnya menjalani serangkaian pemeriksaan pada Rabu lalu 14 Agustus 2024, benar saja, Sudirman beserta 27 orang lainnya dinyatakan positif katarak dan membutuhkan operasi segera.

Dengan perasaan campur aduk antara haru dan cemas, ia memberanikan diri berangkat ke RSAW di Kota Serang guna menjalani operasi katarak.

Meski begitu, di samping kecemasannya pada tindak operasi, ia tak perlu khawatir akan segala keperluan proses operasi, sebab RSAW menanggung semuanya.

Mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, dan lainnya.

Usai Sudirman menjalani proses skrining, penulis berkesempatan menemui Sudirman di rumahnya.

 Ia bercerita bahwa dirinya mulai bekerja sebagai nelayan sejak anaknya menginjak usia 5 tahun, atau sekitar tahun 2005.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved