Kamis, 7 Mei 2026

Pilkada Jabar 2024

Debat Perdana Pilgub Jabar, Jawaban Paslon Dinilai Normatif dan Kebanyakan Textbook

Semua paslon harus bisa mengeksplor lagi dan berani tampil beda karena pada debat tersebut hampir seluruh paslon memiliki jawaban yang sama.

Tayang:
tribunjabar
foto suasana debat perdana pilgub jabar 2024 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), Arlan Siddha menilai jawaban semua pasangan calon normatif dan ada juga yang kebanyakan textbook saat debat Pilgub Jabar.

Debat Pilgub Jabar tersebut diikuti oleh empat pasangan calon yakni Acep Adang-Gitalis Dwi Natarina nomor urut 1, Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja nomor urut 2, Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie nomor urut 3, dan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan nomor urut 4.

Arlan mengatakan, debat Pilgub Jabar itu sebetulnya cukup menarik terutama pada persoalan-persoalan yang menyentuh masyarakat dan memang familiar di Jawa barat walaupun semua calon berbicara, berhati-hati dan normatif.

"Pola dari debat ini menurut saya menarik ya, karena ketika di segmen saling bertanya, menunjukkan kualitas pertanyaan yang cukup baik. Walaupun ya tadi dijawab dengan cara-cara yang normatif gitu," ujar Arlan saat dihubungi, Senin (11/11/2024).

Selain normatif, kata Arlan, pasangan calon nomor urut satu kebanyakan melihat buku saat debat tersebut, tetapi yang menarik dari pasangan ini selalu ada penekanan bahagia yang terus dikuatkan saat berbicara.

"Kalau kita melihat dari beberapa pasang calon, saya melihat nomor satu textbook sekali ya. Artinya masih membaca, tapi nomor satu menarik juga karena selalu ada penekanan terkait dengan bahagia," katanya.

Baca juga: Paslon Cagub-cawagub Jabar Keluhkan Durasi Singkat untuk Jawab Pertanyaan di Debat Publik Pertama

Ia mengatakan, terkait kata bahagia tersebut selalu dikuatkan di setiap pertanyaan apapun termasuk saat memulai dan setiap akan mengakhiri, sehingga tentu ini menunjukkan konsistensi program yang diusung memang bahagia.

Sedangkan untuk pasangan nomor urut dua, Arlan melihat bahwa pasangan ini cukup atraktif dan menarik karena mereka sangat semangat, terutama Ronal yang notabenenya adalah public figure, artis, dan MC juga.

"Sehingga saya melihat bagaimana Ronal bisa mengemas beberapa statementnya atau argumentasi atau gagasan atau idenya ini dengan cukup baik, sehingga bisa diterima dan selalu tepat waktu," ucap Arlan.

Sementara Jeje yang memiliki pengalaman sebagai bupati, terus mengeksplor pemikiran-pemikirannya, sehingga gagasan-gagasan itu yang kemudian ditawarkan kepada masyarakat Jawa Barat saat debat.

Pasangan nomor urut tiga juga, kata Arlan, memang cukup menarik karena memiliki wawasan, sehingga setiap pertanyaan selalu kembali kepada program yang akan kerjakan.

"Namun, Pak Ilham memang agak sedikit kurang secara pembawaan karena mungkin lama di luar negeri. Tapi menurut saya juga ini daya tarik yang cukup luar biasa, karena Pak Ilham juga mampu menjelaskan gagasan dan idenya dengan baik terutama berbicara tentang yang sifatnya tadi ada teknologi dan lain sebagainya," katanya.

Baca juga: Debat Perdana Pilkada Jabar 2024, Paslon Menganggap 45 Detik Terlalu Singkat

Menurut Arlan, Dedi Mulyadi juga menarik karena dia penuh dengan semangat dan penuh dengan cara penyelesaian-penyelesaian yang pernah dilakukan atau pengalaman-pengalaman yang memang pernah dilakukan sebagai bupati dan sebagai anggota dewan.

"Dan, saya pikir Pak Erwan terlalu banyak mengadopsi tempat tinggal tempat dulu saat dia sebagai Wakil Bupati Sumedang dan mengatakan bahwa Sumedang sudah sangat baik, sebenarnya sesuatu yang baik dan itu juga tidak salah," ujar Arlan.

Namun ketika berbicara dalam konteks besar Provinsi Jawa Barat, kata dia, memang gagasan-gagasan ini perlu rasionalisasi yang cukup bijak, jadi secara keseluruhan gagasan-gagasan yang dituangkan memang belum terlihat out of the track dan perlu sesuatu yang baru.

"Artinya masih normatif, yang mana masih sesuatu yang semua orang bisa melakukan. Misalnya kita berbicara tentang pengangguran yang berjumlah satu juta setengah atau dua juta dan lain sebagainya, tapi kita belum menemukan bagaimana program yang ditawarkan ini bisa dirasionalisasikan kepada masyarakat," katanya.

Namun karema debat ini debat pertama, kata Arlan, semua calon sedikit berhati-hati dalam memberikan argumentasi dan belum terlihat ada sesuatu yang ditawarkan menarik dan berani seperti berbicara konseling, dan kesehatan mental masih sesuatu yang biasa.

Untuk menarik perhatian publik, kata dia, semua paslon harus piawai membagi waktu karena waktu yang disediakan sangat pendek, sehingga berbicara apapun akan langsung menguras waktu, sehingga kepiawaian ini memang sangat dibutuhkan.

"Kalau menurut saya adalah saya melihat bahwa dari keempat calon ini memiliki program-program unggulan, dan program unggulan inilah yang kemudian calon tidak perlu banyak diceritakan," katanya.

Kendati demikian, program-program ini bisa dikemas dengan menghasilkan output, sehingga akan lebih cepat dan masyarakat juga bisa memahami rasionalisasi dari program-program tersebut.

"Kalau misalnya seperti tadi, kita tidak lagi berbicara dalam konteks harus begini. Tadi, soal pengangguran di mana Ronald menjelaskan bahwa ada sekolah seblak, dan menurut saya itu lebih rasional dan cepat supaya lebih menarik mengeksplor gagasan dan idenya," ujarnya.

Arlan mengatakan, semua paslon harus bisa mengeksplor lagi dan berani tampil beda karena pada debat tersebut hampir seluruh paslon memiliki jawaban yang sama dan tujuan yang sama, padahal masyarakat ingin melihat ada sesuatu yang baru dan menjadi pembeda dari semua paslon.

"Jadi, kalau saya lihat semuanya masih sama rata, saya melihat dalam konteks Jeje-Ronal memang lebih ekspresif, karena sekali lagi Ronal adalah seorang MC sehingga pembawaannya tenang dan penekanan intonasi, Pak Jeje juga punya pengalaman jadi hampir semuanya rata," kata Arlan.

Sehingga menurut Arlan  tidak ada pasangan calon yang menonjol dalam debat tersebut, tapi dalam hal gesture pembawaannya, pasangan Ronald-Jeje sedikit lebih ekspresif. Namun, secara substansi belum ada menarik, sehingga masyarakat masih belum bisa menentukan yang terbaik.
 

--

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved