Senin, 13 April 2026

Gemerlap Kemerdekaan Bangsa, Dompet Dhuafa Berhasil Alirkan Listrik di NTT

Ada dua wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang minim akan akses listrik di tengah gemerlap kemerdekaan

Editor: Siti Fatimah
istimewa
Dompet Dhuafa NTT dan Disaster Management Center (DMC) mendonasikan panel surya kepada dua titik di atas yakni Masjid Babul Jihad dan Masjid Al-Istiqomah. 

TRIBUNJABAR.ID, NUSA TENGGARA TIMUR - Ada dua wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang minim akan akses listrik yakni di wilayah Masjid Babul Jihad, Kampung Tubleu, Desa Bila, Kecamatan Amanuban Timur, dan di Masjid Al-Istiqomah, Kampung Eon Ana, Desa Ello, Kecamatan Fatukopa. Dua tempat tersebut merupakan wilayah pelosok di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Perjalanan menuju dua lokasi tersebut membutuhkan waktu 60 menit – 120 menit.

Dengan medan jalur yang jauh dari kata layak, alias jalannya masih menggunakan medium tanah.

 Jika hujan lebat, sudah dipastikan akan kesulitan melewati jalan tersebut.

Sepanjang jalan menuju dua titik tersebut, hanya pohon-pohon tinggi dan perbukitan yang mengelilingi titik-titik kehidupan masyarakat di sana.

 Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani.

Warga di dua wilayah di NTT kini bisa menikmati listrik- Dompet Dhuafa NTT dan Disaster Management Center (DMC) mendonasikan panel surya kepada dua titik di atas yakni Masjid Babul Jihad dan Masjid Al-Istiqomah.
Warga di dua wilayah di NTT kini bisa menikmati listrik- Dompet Dhuafa NTT dan Disaster Management Center (DMC) mendonasikan panel surya kepada dua titik di atas yakni Masjid Babul Jihad dan Masjid Al-Istiqomah. (istimewa)

 Mulai dari bertani jagung, singkong, dan lain-lain.

Listrik susah, sinyal telepon genggam juga susah.

Tidak terbayangkan bagaimana situasi pada malam hari di tempat tersebut.

Pada rilis Dompet Dhuafa (12/08) Aimah Natonis salah seorang warga Kampung Tubleu menceritakan pengalamannya selama hidup di Kampung Tubleu dengan akses listrik yang minim.

Aimah Natonis merupakan warga Desa Bila, pada usia remaja hingga dewasa dia merantau ke beberapa wilayah seperti Bandung dan Soe untuk menempuh pendidikan dan pekerjaan.

Setelah menikah, dia beserta suami dan kedua anaknya menetap di Kampung Tubleu, Desa Bila yang merupakan tanah kelahirannya.

Terhitung sudah empat tahun dia dan suami hidup bersama di sana.

Dua sampai tiga tahun dia memanfaatkan lampu pelita buatan sendiri berupa kaleng bekas, minyak tanah dan sumbu untuk penerangan kehidupan sehari-hari.

Saat malam tiba, dia dan keluarga sedikit kesulitan akibat penerangan yang minim.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved