Konsumsi Protein Hewani di Jabar Belum Berdampak Pada Penurunan Angka Stunting, Ini Penyebabnya.
Salah satu penyebabnya adalah pola konsumsi masyarakat yang belum seimbang
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), konsumsi protein hewani masyarakat Jabar sudah melebihi batas ideal. Namun, belum berdampak pada penurunan angka stunting di sejumlah Kabupaten/Kota di Jabar.
Hal itu diungkapkan Sekertaris Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jabar, Indriantari, saat kegiatan Bewara Jawa Barat (BEJA) Volume 7 di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (22/7/2024).
Dikatakan Indriantari, salah satu penyebabnya adalah pola konsumsi masyarakat yang belum seimbang. Masyarakat, kata dia, masih lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat dengan jumlah tinggi.
"Sebetulnya stunting itu dari pola konsumsi kita yang belum beragam, bergizi dan seimbang. Masyarakat kita belum membiasakan untuk mengisi piring secara lengkap dengan protein karbohidrat kemudian ada sayur, ada buah dan sebagainya," ujar Indriantari.
Baca juga: Waspada, Stunting Bisa Naikkan Potensi Kelainan Jantung Bawaan pada Anak-anak, Tasik Paling Tinggi
Selain itu, kata dia, masyarakat Jabar juga cenderung menyukai makanan yang mengandung karbohidrat tinggi serta makanan siap saji.
"Yang kita tahu jajanan, makanan yang (jadi) favorit adalah yang mengandung tepung dan digoreng, itu yang kita harus kita edukasi terutama untuk (menurunkan) stunting," katanya.
DKPP Jabar melalui Kelompok Wanita Tani (KWT), kata dia, berusaha menyediakan kebutuhan konsumsi yang dibutuhkan masyarakat baik anak-anak maupun ibu hamil.
"Sebetulnya sasaran kita adalah ibu hamil dan balita dan itu perannya Ibu-ibu KWT, supaya di pekarangan yang dikelola ibu-ibu KWT itu tersedia sayuran ada buah-buahan bahkan protein hewani," ucapnya.
Meskipun konsumsi protein hewani di Provinsi Jabar sudah melebihi batas ideal, pihaknya akan terus mengembangkan konsumsi protein hewani dengan daging hewan lain karena konsumsi protein hewani di Jabar masih didominasi daging ayam, ikan dan sapi.
"Kita akan kembangkan lagi dikonsumsi yang lainnya. Terutama untuk konsumsi daging domba, karena domba kita banyak, tapi yang mengolahnya sedikit. Jadi, akhirnya kita masih tergantung dengan daging merah dari sapi, padahal kita punya domba," katanya.
Saat ini, konsumsi protein hewani dari daging domba, kata dia, baru mencapai sekitar 20-30 persen. Jumlah tersebut masih kalah dari daging sapi.
"Domba itu secara konsumsi baru mencapai sekitar 25-30 persen dari daging merah, masih dominan oleh daging sapi," ucapnya.
| Indeks Demokrasi di Jawa Barat Turun, Pemprov Siapkan Sejumlah Langkah Perbaikan |
|
|---|
| Kanwil Kemenkum Jabar Bersama Dinas Pemprov Jabar Harmonisasikan Raperda Terkait Sumber Daya Air |
|
|---|
| DPRD Indramayu Beri Sejumlah Catatan Jika Pemprov Jabar Alih Kelola RSUD MA Sentot Patrol |
|
|---|
| Bedah Krisis Guru hingga Gaji PPPK di Jawa Barat, DPD RI Soroti Beban Fiskal dan Ketimpangan ASN |
|
|---|
| DPRD Jabar Minta Pemprov Maksimalkan Energi dan SDA untuk Topang Pendapatan Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-makanan-yang-sedang-promo-kemerdekaan.jpg)