Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024
Hari Ke-14: Menginjak Malaka, Kesulitan Mencari Musala, dan Serasa Kembali Menjadi Manusia
SETELAH sehari semalam menunggu di KRI Dewaruci yang lego jangkar, akhirnya kami mendarat di Malaka, Minggu, 30 Juni 2024.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribunjabar.id Hermawan Aksan
SETELAH sehari semalam menunggu di KRI Dewaruci yang lego jangkar, akhirnya kami mendarat di Malaka, Minggu, 30 Juni 2024. Kami, anggota Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, segera menyerbu Malaka.
Hanya kiasan, tentu saja.
Mendengar kata Malaka, saya sering otomatis mengingat pelajaran sejarah di sekolah, yakni serangan Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor) ke Malaka pada abad ke-16. Dan serangan itu gagal menghasilkan kemenangan.
Hujan deras turun saat saya bangun dini hari. Jendela di geladak tengah sisi kanan terbuka dan air masuk ke lintasan menuju kamar mandi. Saya pun melewati sisi kiri. Jendelanya terbuka tapi air hujan tidak masuk. Jadi, angin bertiup dari arah sisi kanan kapal. Meski demikian, hujan deras itu tampaknya tidak berpengaruh ke posisi lego jangkar KRI Dewaruci.
Karena masih mengantuk, ya, saya tidur lagi.
Saya bangun pukul 05.30 waktu Malaka (04.30 WIB) karena mendengar suara alarm. Meskipun terasa masih mengantuk, saya turun dari tempat tidur menuju mandi. Terdengar pengumuman dari kapal: “Salat Subuh dilaksanakan di ruang masing-masing dengan kiblat hijau 140.”
Kali ini saya yakin geladak atas pasti basah karena hujan sehingga tidak ada salat berjemaah.
Seperti kemarin, beberapa peserta MBJR 2024 menunggu sunrise. Kami mendapat pemandangan yang bagus karena di latar belakang Malaka sana matahari muncul dari balik gunung.
Kami makan nasi goreng sebagai sarapan. Hari Minggu memang sudah tradisi menunya nasi goreng. Meskipun porsi telurnya terasa kurang memadai, rasanya tetap nikmat jika makan di waktu lapar. Kali ini penanting mempersilakan saya mengambil nasi sendiri.
“Banyak sekali ambilnya,” kata teman saya Yudhi Herwibowo.
“Sarapan harus banyak,” sahut saya.
Menurut saya, Yudhi ini memang unik. Badannya subur, mengingatkan saya pada tokoh hwesio di cerita silat Kho Ping Hoo, tapi makan nasinya sedikit sekali, mungkin hanya sepertiga porsi makan saya.
Sayangnya, jadwal sandar kapal masih simpang siur. Menurut jadwal pada buku saku, pukul 6.30 sampai pukul 09.00 sudah dilakukan persiapan sandar dan upacara penyambutan oleh dubes dan jajarannya serta pemerintah Malaka dilakukan.
Namun, pengumuman yang kami terima berubah-ubah: awalnya kami diminta bersiap dengan bawaan masing-masing pukul 07.30, kemudian berubah menjadi pukul 09.00 WIB.
| Hari Ke-20: Hari Terakhir Muhibah Budaya Jalur Rempah, Tangis Kembali Tumpah |
|
|---|
| Hari Ke-19: Pagi Terakhir di KRI Dewaruci dan Malam Pembukaan Festival Raja Ali Haji |
|
|---|
| Hari Ke-18: Lego Jangkar di Tanjung Uban, Tangis Peserta Muhibah pada Malam Terakhir di KRI Dewaruci |
|
|---|
| Hari Ke-17: Mencium Udara Hari Terakhir di Malaka dan Melanjutkan Muhibah ke Tanjung Uban |
|
|---|
| Hari Ke-16: Jumpa Sahabat di Malaysia, Kunjungi Masjid Selat Melaka, dan Hadiri Farewell Dinner |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/MBJR_Hari-ke-14.jpg)