Senin, 18 Mei 2026

Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024

Hari Kesembilan: Benteng Peninggalan Jepang, Museum Sabang, dan Tugu 0 Kilometer Indonesia

Benteng Anoe Itam pernah digunakan oleh tentara pendudukan Jepang untuk menyimpan peluru dan senjata mereka ketika Perang Dunia II.

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Istimewa
Penulis saat berada di dermaga Sabang 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id Hermawan Aksan

SAYA baru saja menulis satu alinea awal tulisan hari kedelapan ketika membaca pengumuman di grup WhatsApp undangan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 bahwa kami harus segera check out dari Mata Ie Resort, Selasa, 25 Juni 2024.

Tentu saja saya terkejut. Menurut jadwal yang tercantum pada buku saku, kami masih semalam lagi di resor ini dan baru akan kembali menuju KRI Dewaruci besok. Berdasarkan jadwal itu, saya berniat menulis sebanyak yang bisa saya tulis di pagi-pagi sebelum menjalani rangkaian kegiatan tur menuju Tugu 0 Kilometer Indonesia di ujung barat Pulau Weh.

Dengan pengumuman itu mood menulis saya langsung buyar. Saya tidak tahu apa penyebab jadwal itu berubah dan saya tidak berusaha mencari tahu. Yang pasti, sejumlah teman mengaku kesal dengan perubahan mendadak itu. Kami kemudian dikabari bahwa sepulang dari Tugu 0 Kilometer kami akan menuju KRI Dewaruci dan bermalam di sana.

Karena itu, selesai sarapan, yang kali ini terasa kurang enak di mulut, saya dan Yudhi Herwibowo berkemas secara cepat.

Pukul setengah sembilan kami sudah meninggalkan resor itu, yang sebenarnya indah karena berhadapan dengan laut tapi mengesalkan sinyal internetnya.

Kali ini setiap mobil membawa penumpang yang bertindak sebagai pemandu wisata. Di mobil kami, pemandu wisata itu bernama Zulfikar, lelaki berusia sekitar 40 tahun, yang sudah memaparkan panduannya sejak mobil meninggalkan resor.

Kami menuju Benteng Anoe Itam di Desa Anoe Itam (pasir hitam). Benteng ini pernah digunakan oleh tentara pendudukan Jepang untuk menyimpan peluru dan senjata mereka ketika Perang Dunia II dan menjadi tempat untuk bertahan dari serangan musuh

Dari ketinggian benteng ini, yang dibangun di atas karang, kami bisa menyaksikan pemandangan laut yang sangat indah.

Setelah itu, kami juga mengunjungi Benteng Mateo, yang juga meninggalkan jejak Jepang meskipun awalnya dibuat oleh Belanda. Dari benteng ini juga kami bisa menyaksikan pemandangan laut yang indah, termasuk penampakan KRI Dewaruci yang sedang bersandar di dermaga dan tampak kecil.

Bang Zul, sapaan akrab pemandu kami, mengatakan, di Sabang, Jepang datang pada bulan Maret 1942 dan menyerah kepada Sekutu pada tahun berikutnya. Jadi, di Sabang, Jepang menyerah dua tahun lebih awal daripada di tempat lain di Indonesia.

Dari Benteng Mateo, kami mengunjungi di Museum Sabang. Sebelum mencapai museum itu, kami lebih dulu mampir di Taman Sabang-Merauke, lalu melewati sejumlah bangunan tua seperti Dubbele Woonhuise (Rumah Ganda), yang dibangun pada awal 1900-an; Het Huis van de Hoofd Administrateur der Sabang Maatschappij (Rumah Administratur Maskapai Sabang), yang dibangun pada 1899; dan bekas bangunan Europesche Lagere School (Sekolah Dasar Eropa).

Cuaca sedang panas-panasnya dan kami membeli minuman es di seberang museum.

Museum yang diresmikan Presiden RI (waktu itu) K.H. Abdurrahman Wahid pada tahun 2000 itu memiliki koleksi miniatur sejumlah kapal perang, foto-foto kapal perang saat Perang Dunia II, dan lain-lain.

Setelah itu, kami menuju ke Tugu 0 Kilometer Indonesia. Jalan menuju ke sana sekitar 25 kilometer, turun-naik dan berliku-liku seperti hampir semua jalan di Pulau Weh. Saya menikmatinya karena merasa jalanan di sana lebih indah daripada jalan naik-turun dan berliku di sekitar desa saya di Jawa Tengah sana.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved